Jam sudah menunjukkan pukul 7.45. Bel pertanda masuk kelas pun baru saja berbunyi. Namun, Rayenda tetap diam di depan toilet tanpa melangkah sedikit pun.
“Deinara, mau sampai kapan kamu membelakangi aku kayak gitu?” tanya Rayenda memecah kesunyian.
Deinara masih mencoba meredakan kemarahannya. Sebelum wajahnya kembali cantik seperti semula, dia tidak akan membalikkan badan.
“Ayo pergi. Tadi aku janji ngajak kamu ke suatu tempat, kan?” tanya Rayenda.
Masih dengan posisi membelakangi Rayenda, Deinara mengangguk. “Tapi kau harusnya masuk ke kelas dan mengikuti pembelajaran hari ini dulu.”
“Iya, sih. Tapi aku nggak mungkin masuk kelas dengan kondisi muka kayak gini. Kalo ada yang nanya, aku harus jawab apa? Apalagi juga tadi Abed larang aku untuk kasih tau yang sebenarnya tentang kejadian tadi.”
Deinara menghela napas panjang. Tak lama kemudian hantu itu akhirnya berbalik badan karena wajahnya telah kembali ke wujud yang cantik.
Rayenda lalu berjongkok. Melihat Deinara yang masih berdiri, laki-laki itu menarik tangan kiri Deinara hingga membuat hantu itu ikut jongkok.
“Mau melakukan apa?” tanya Deinara yang kebingungan dengan tingkah Rayenda.
“Bolos. Kita harus mengendap-endap biar nggak ketahuan. Ayo!”
“Tunggu, Rayenda,” cegah Deinara, ”Untuk apa aku ikut mengendap-endap? Kecuali kau, tidak ada orang lain yang bisa melihatku.”
“Ahaha. Iya juga.”
Akhirnya, Rayenda mulai mengendap-endap menuju pagar belakang sekolah. Sesampainya di sana, dia memanjat pagar dengan sangat hati-hati lalu melompat hingga akhirnya dia sudah berada di luar sekolah.
“Hebat juga kau dalam hal membolos. Padahal, ini adalah yang pertama bagimu, kan?” tanya Deinara.
“Eh? Kok kamu tau ini pertama kalinya aku bolos?”
“Sudah kubilang aku tau banyak tentangmu, Rayenda.”
“Ya ya ya. Kamu memang tau segala hal. Ayo, Deinara!”
Rayenda menarik tangan Deinara. Mereka lalu berlari bersama melewati pohon-pohon yang berada di kanan dan kiri mereka.
“Rayenda,” panggil Deinara ketika mereka masih berlari dengan tangan saling bergandengan.
Rayenda yang posisinya berada di depan Deinara menoleh ke belakang. Angin berembus lagi hingga membuat rambut panjang Deinara beterbangan. Ah, mengapa Deinara selalu terlihat begitu cantik tiap kali angin berembus dan menerbangkan tiap-tiap helai rambutnya?
“Aku mencintaimu,” lanjut Deinara sambil tersenyum dengan begitu manis.
“Aku juga mencintaimu, Deinara.” Entah mengapa kalimat itu tiba-tiba terucap dalam hati Rayenda.
…
Setelah lebih dari 15 menit berlari, akhirnya Rayenda dan Deinara berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit.
Kepala Deinara mendongak ke atas melihat gedung yang begitu tinggi itu. “Ini tempatnya?”
Rayenda mengangguk yakin.
“Untuk apa kau mengajakku ke rumah sakit, Rayenda?”
Rayenda hanya tersenyum lalu kembali meraih tangan Deinara dan berlari masuk ke rumah sakit.
Sesampainya di dalam, mereka masuk ke lift. Untunglah di dalam lift itu tidak ada orang lain sehingga mereka bisa berduaan.
Rayenda melihat pantulan dirinya pada dinding lift yang hampir menyerupai kaca itu. Deinara tidak tampak di sana. Ya, karena Deinara adalah hantu. Rayenda lalu menoleh ke sisi kirinya untuk memastikan bahwa Deinara masih bersamanya.
“Aku selalu berada di dekatmu, Rayenda. Aku tidak akan ke mana-mana,” kata Deinara yang seolah tahu apa yang Rayenda pikirkan.
…
Rayenda dan Deinara akhirnya tiba di atap rumah sakit. Angin bertiup kencang sekali di sana.
“Deinara, coba liat ke bawah,” suruh Rayenda.
“Untuk apa?”
“Untuk tau seberapa tinggi posisi kita sekarang.”
Deinara menurutinya lalu melihat ke bawah. Hantu itu tersenyum. “Kau benar, Rayenda. Kita memang berada di tempat yang sangat tinggi sekarang.”
“Sekarang coba liat ke atas.”
Deinara mengganti arah pandangnya yang tadinya menunduk, kini mendongak ke atas.
“Liat, Deinara. Langit keliatan deket banget, kan?”
Deinara mengangguk sambil menatap kagum pada langit biru muda itu.
“Deinara, sekarang kamu udah makin deket sama Hans.”
Deinara tersentak. Dia kembali teringat pada cinta pertamanya yang menjadi alasan dia mengakhiri hidupnya itu.
“Kok diem?” tanya Rayenda dan membuyarkan lamunan Deinara tentang Hans.
Deinara berbalik menatap Rayenda. “Memangnya aku harus apa, Rayenda?”
“Ahaha. Kamu ini gimana, sih? Nggak peka banget. Berhubung jarak di antara kamu dan Hans udah deket, ya ini saat yang tepat untuk ngungkapin perasaan kamu. Keluarin semuanya sampe kamu ngerasa nggak ada yang perlu diungkapin lagi.”
Deinara tersenyum mendengar ide cemerlang Rayenda. Hantu itu lalu kembali menatap langit.
“Hans! Ini Deinara! Kau mengingatku, kan? Kau ingat kan bahwa kita selalu jadi yang pertama tiba di kelas? Kau ingat kan saat kau menyelamatkanku dari kejaran angsa saat pulang sekolah? Kau ingat kan saat aku sakit, kau duduk di pojok kiri kamarku menunggu aku bangun? Hans! Aku sangat merindukanmu! Aku masih menunggu hari di mana aku akan bisa kembali melihatmu! Hans! Aku … aku mencintaimu! Sangat mencintaimu! Jadilah kekasihku di kehidupan berikutnya!”
Senyuman Rayenda perlahan memudar. Kepalanya sedikit tertunduk. Di dalam dadanya, ada rasa sesak karena melihat betapa bahagianya Deinara saat mengungkapkan rasa cintanya pada Hans. Rayenda menjadi ragu. Mungkin Deinara tidak benar-benar mencintai dirinya. Kenyataannya, mungkin Deinara tertarik pada Rayenda hanya karena Rayenda adalah satu-satunya orang yang mau duduk di bangku pojok kiri belakang.
“Rayenda,” panggil Deinara.
Wajah Deinara terlihat sangat berseri-seri, berbeda dari biasanya. Dia … tampak jauh lebih bahagia dari biasanya. Ya, seperti orang yang sedang dimabuk kasmaran pada umumnya.
Dengan sorot mata yang sendu Rayenda menatap Deinara. “Iya, Deinara. Kenapa?”
“Terima kasih banyak. Berkat kau, aku berhasil mengungkapkan semua perasaan yang selama ini aku pendam. Sekarang aku tidak lagi merasa ada beban dalam hatiku. Rayenda, aku telah membuat keputusan yang tepat dengan jatuh cinta dan menampakkan diriku padamu.”
Rayenda tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan perasaan tidak karuan dalam hatinya. “Baguslah kalo gitu. Aku seneng dengernya.”
“Aku sekarang sudah tenang, Rayenda. Sepertinya, aku sudah bisa pergi ke tempatku yang seharusnya.”
Rayenda terkejut. “A--apa?”
“Kau ingatkan waktu itu aku pernah mengatakan bahwa aku menjadi hantu karena jiwaku belum tenang? Sekarang aku sudah tenang dan bisa berhenti bergentayangan.”
Rayenda tampak lesu. “Oh, iya. Aku hampir lupa kalo kamu pernah ngomong kayak gitu.”
Deinara mengembangkan senyum di wajah cantiknya. Dia berjalan mendekati Rayenda lalu memeluk laki-laki itu dengan sangat erat.
“Aku sangat mencintamu, Rayenda.”
“Kenapa kamu harus pergi di saat aku mulai mencintai kamu, Deinara? Kenapa kamu nggak pergi dari dulu aja saat aku selalu ngerasa terganggu sama kehadiran kamu?” batin Rayenda sambil menahan air matanya.
Masih dengan memeluk Rayenda, Deinara bertanya, “Rayenda, sebelum kita berpisah, adakah yang ingin kau katakan padaku?”
Rayenda diam sejenak sebelum akhirnya dia menggelengkan kepalanya.
Deinara melepas pelukannya. “Kau yakin tidak mau mengatakan sesuatu padaku? Jangan sampai kau menyesal, Rayenda.”
Rayenda mengangguk. “Nggak ada yang pengen aku omongin.”
Deinara mendekatkan wajahnya ke wajah Rayenda. “Sungguh, Rayenda?”
Rayenda memalingkan wajahnya. Dia tidak berani menatap Deinara dengan jarak sedekat ini, takut akan semakin cinta pada hantu itu.
“Tetapi, Rayenda. Bukankah lebih bagus jika sebelum kita berpisah, kau juga mengatakan bahwa kau mencintaiku? Itu akan menjadi perpisahan yang sangat indah.”
“Nggak ada perpisahan yang indah, Deinara. Semua perpisahan itu menyakitkan.”
Deinara tersentak. Senyum yang sejak tadi terukir di wajahnya kini perlahan memudar.
“Kau tidak suka kalau kita akan berpisah, Rayenda?”
Rayenda langsung melihat pada Deinara. “Ahaha. Mana mungkin? Ini yang selama ini aku pengen. Inilah alasan aku bawa kamu ke sini supaya kamu bisa ngungkapin perasaan kamu ke Hans. Supaya kamu bisa tenang dan akhirnya pergi tinggalin aku.”
“Ah, begitu ya. Jadi, sebesar itu keinginanmu agar aku pergi dari hidupmu.”
Rayenda melihat wajah Deinara yang tadinya bahagia kini tampak sedih. Laki-laki itu tidak tega melihat hantunya sedih seperti itu.
“Ehm, bu--bukannya gitu. Intinya jiwa kamu udah tenang. Jangan murung gitu mukanya, Deinara. Baru aja aku berhasil buat kamu bahagia, eh sekarang kamu jadi sedih gara-gara aku juga. Ayolah, jangan buat perpisahan ini jadi semakin menyedihkan.”
Deinara kembali tersenyum walau kali ini senyumannya tampak dipaksakan. “Kalau begitu, aku pergi sekarang ya, Rayenda.”
“Eh? Se--sekarang? Kok cepet banget? Nggak ada perayaan apa gitu sebelum semuanya berakhir?”
“Perayaan?”
“Ah, lupain aja. Jangan ada perayaan.” Rayenda kesal sendiri.
“Ada apa denganmu, Rayenda? Kelihatannya emosimu sedang tidak stabil. Ayo kita rayakan seperti usulmu tadi.”
Rayenda menggeleng cepat. Dia takut perayaan itu akan membuatnya semakin sulit untuk melepas kepergian Deinara.
“Mendingan kita lakuin semuanya seperti biasa,” kata Rayenda.
“Em, baiklah, Sayang. Sesuai keinginanmu.”
…
Rayenda dan Deinara pulang dengan berjalan kaki, seperti biasa. Seperti biasa juga, Deinara merangkul lengan Rayenda dan menyandarkan kepalanya di pundak kiri Rayenda. Tidak terasa mereka sudah tiba di depan rumah Rayenda.
“Cepet banget sih nyampenya,” keluh Rayenda.
“Mungkin tadi kita terlalu cepat berjalan, Rayenda.”
Rayenda menghela napas panjang. Dia masih belum siap berpisah dengan Deinara. “Ayo, Deinara. Kita jalan-jalan lagi.”
“Ayo!” Deinara tampak bersemangat. Jalan-jalan lagi artinya dia bisa semakin lama merangkul dan menyandarkan kepalanya pada Rayenda.
Rayenda dan Deinara kembali berjalan-jalan di sekitaran rumah. Mereka menyusuri sawah, pepohonan dan perumahan warga.
Tiba-tiba langkah kaki Deinara melambat. “Rayenda.”
Rayenda berhenti melangkah lalu melihat pada Deinara.
“Lihat ini,” suruh Deinara sambil memperlihatkan tangan kanannya yang mulai tembus pandang.
“Eh? Ke mana tangan kanan kamu? Kok nggak keliatan?” Rayenda mendadak panik.
“Ini menandakan waktuku tinggal sebentar lagi, Rayenda. Seluruh anggota tubuhku akan tembus pandang hingga akhirnya tak ada satu pun yang terlihat.”
“Deinara, wajah kamu ….”