Membully Rayenda

1883 Kata
“Terus, di mana Hans sekarang?” Tiba-tiba bulu kuduk Rayenda berdiri. “Apa dia juga menjadi hantu penghuni kelas?” “Tidak, Rayenda. Di sinilah letak kebodohanku.” “Hah? Maksud kamu?” “Dulu saat aku masih hidup, aku mengira aku bisa kembali bertemu dengan Hans jika menyusulnya dengan cara ikut mati. Itu adalah sebab lain mengapa akhirnya aku memutuskan untuk bunuh diri.” Rayenda menggaruk kepalanya. “Ah? Aku nggak ngerti.” “Rayenda, kenyataannya setelah aku bunuh diri dan meninggal, aku tetap tidak bisa bertemu dengan Hans.” “Kenapa? Kan kalian udah sama-sama meninggal dan menjadi hantu.” “Dia tidak menjadi hantu, Rayenda.” “Lho. Kok bisa?” Deinara tersenyum. “Kalian para manusia harus tau ini. Orang yang meninggal dengan tenang tidak akan menjadi hantu karena merasa urusan mereka di dunia ini telah selesai. Sementara yang meninggalnya dengan tidak tenang dan merasa masih memiliki urusan di dunia ini tidak akan mencapai alam baka, namun justru jiwanya terus bergentayangan di dunia sampai urusannya selesai dan dia merasa tenang.” Rayenda mengangguk-angguk. “Jadi, sampe sekarang kamu masih belum tenang, ya?” “Iya, Rayenda. Aku tidak akan pernah bisa tenang sebelum mengungkapkan perasaanku pada Hans.” “Emm, tunggu-tunggu. Jadi apa yang buat kamu nggak bisa ketemu Hans setelah meninggal?” “Rayenda, Hans meninggal karena dibunuh, sedangkan aku meninggal karena bunuh diri. Itu hal yang berbeda, kan? Jiwa Hans telah mencapai langit, sementara aku yang bunuh diri ini tidak bisa mencapai langit. Jadi, alasan mengapa kami tidak bisa bertemu adalah karena kami berada di tempat yang berbeda.” Rayenda mengangguk-angguk lagi. Sekarang dia sudah mengerti apa yang terjadi pada Deinara. “Ingatlah ini, Rayenda. Jangan pernah biarkan dirimu berakhir dengan cara bunuh diri. Sungguh, rasanya tidak enak.” “Rayenda,” panggil Papa yang kini sudah berada di belakang Rayenda. “Eh? I--iya, Pa?” Rayenda terkejut. “Kamu bicara sama siapa?” “Hah? Em, ng--nggak ada, Pa. Aku kan sendirian di sini.” “Nah, makanya itu Papa bingung. Kamu sendirian di sini tapi malah kedengaran kayak lagi ngobrol sama orang.” “Ehehe. Papa pasti salah denger. Aku tadi cuma nyanyi. Mungkin itu yang Papa kira aku lagi ngobrol.” Papa menghela napas. “Ada-ada aja kamu. Daripada jam segini kamu nyanyi, mending tidur. Udah larut.” Rayenda mengangguk dengan ekspresi canggung. … Pagi itu di kelas, Rayenda sudah lebih dulu tiba dibanding teman-temannya yang lain. Hanya ada dia dan Deinara di sana. Suasana kelas terasa hening. Deinara melihat langit yang belum terlalu terang, sedangkan Rayenda melihat mejanya. Dia membayangkan betapa menyedihkannya nasib Hans yang meninggal di mejanya sendiri dengan kondisi berlumuran darah. Rayenda lalu melihat pada Deinara. Kasihan hantu satu itu. Hidup susah, saat mati pun susah. Sekarang Rayenda paham mengapa Deinara selalu saja mengungkapkan perasaannya pada Rayenda. Hantu itu tidak ingin menyesal seperti saat dia masih hidup dulu. “Rayenda,” panggil Deinara sambil menatap Rayenda dengan senyuman. “Iya?” “Aku mencintaimu.” Rayenda tersenyum. Biasanya laki-laki itu merasa kesal tiap kali hantu itu mengucapkan cinta, tetapi tidak untuk kali ini. “Deinara, pulang sekolah nanti, aku pengen ajak kamu ke suatu tempat.” Mata Deinara membulat sempurna. Dia tampak sangat senang mendengar ajakan Rayenda. Tumben sekali Rayenda seperti ini. “Sungguh? Kau mau mengajakku ke mana?” “Rahasia.” “Ah, kau menyebalkan.” “Selamat pagi,” ucap seseorang. Rayenda dan Deinara kompak melihat ke arah pintu kelas. Itu Alika yang baru saja tiba. “Wah, Rayenda. Kamu selalu aja datang paling awal. Oh iya, gimana kalo tugas bahasa Inggrisnya kita buat sekarang aja?” tanya Alika. “Boleh juga,” jawab Rayenda. Alika menarik sebuah bangku lalu duduk di dekat Rayenda. “Ehem.” Deinara berdehem, tetapi tak dihiraukan Rayenda. Seperti biasa, laki-laki itu akan mengabaikan Deinara di depan orang lain agar tidak disangka gila. “Seperti biasa, dialognya kita buka dengan salam dulu, ya,” usul Alika. “Kayaknya itu terlalu kaku, Alika. Mending sapaan ‘hay’ atau ‘hallo’ aja,” usul Rayenda. “Ah, iya. Kamu bener.” Alika mulai menuliskannya di secarik kertas. Deinara menepuk-nepuk pundak kiri Rayenda. “Rayenda, jarak kalian terlalu dekat.” Rayenda menggeser dengan pelan sekali bangkunya agar tidak diketahui oleh Alika. “Itu masih terlalu dekat, Rayenda,” kata Deinara lagi. Rayenda menghela napas panjang. Daripada Deinara menakut-nakuti Alika lagi, memang lebih baik jika Rayenda menjaga jarak dengan teman kelasnya itu. Rayenda menggeser kursinya lagi. “Kenapa, Ray?” tanya Alika yang menyadari Rayenda menjauhkan kursinya. “Hah? A--apa?” Rayenda gugup karena takut Alika tersinggung. “Kok kamu menjauh?” “Em, itu … di--di sini agak gerah. Iya, gerah. Hehehe. Makanya aku jauhin dikit jaraknya biar angin lebih gampang masuk.” Alika tertawa kecil. “Kamu lucu banget sih, Ray. Pagi-pagi yang sejuk gini dibilang gerah. Padahal kamu duduk udah deket banget sama jendela.” “Ehehe.” Hanya tawa garing itu yang keluar dari mulut Rayenda. Tak lama setelah itu Abed, Jonas, Zian dan Vero datang dan melihat kebersamaan Rayenda dan Alika. Keempat siswa nakal itu masih berdiri di depan papan tulis. Kedatangan mereka belum disadari oleh Rayenda dan Alika. “Eh, serius nih Rayenda berduaan sama Alika?” Varo tak menyangka. “Nggak bisa dibiarin, nih. Kita harus buat mereka jauh,” kata Abed. “Lho, Bed. Kamu suka ya sama Alika? Kok nggak pernah cerita?” tanya Zian. “Ck. Aku pengen mereka jauh bukannya karna aku suka sama Alika tapi aku nggak suka liat Rayenda yang biasanya sendiri, sekarang malah dideketin sama cewek,” jawab Abed. “Yaps. Rayenda keliatan lebih cocok sendiri, nggak punya temen. Kalo tuh anak deket sama siswa lain kayak gini, sumpah nggak cocok banget keliatan. Kayak bukan Rayenda,” kata Jonas. “Ya, udah. Yuk, samperin,” ajak Abed. Abed, Jonas, Zian dan Vero menghampiri Rayenda dan Alika. “Wah wah wah. Lagi ngapain, nih? Masih pagi udah mesra-mesraan aja,” kata Abed. Deinara yang mendengarnya sontak menatap tajam pada Abed. “Kami bukan mesra-mesraan, Bed. Kami lagi ngerjain tugas berdialog bahasa Inggris,” jawab Alika. “Oh, itu. Nggak nyangka ada juga yang mau jadi pasangannya Rayenda,” kata Vero. “Rayenda kan pinter. Jadi wajar kalo Alika mau jadi pasangannya,” celetuk Jonas. Alika menghela napas panjang. Dia lalu beranjak dari bangkunya dan menarik tangan Rayenda. “Buat di perpus aja yuk, Ray,” ajak Alika. “Eh, tunggu-tunggu!” cegah Abed. Di sisi lain, mata Deinara fokus melihat tangan Rayenda yang masih berada dalam genggaman Alika. Dia cemburu lagi. “Ke perpusnya entar aja soalnya Rayenda diminta ke ruangan wali kelas tadi,” lanjut Abed. “Masa’ sih?” Alika ragu. “Beneran. Tapi kalo nggak percaya dan nggak mau ke sana juga nggak apa-apa, sih. Yang kena marah kan juga bukan kami,” kata Abed. Rayenda diam sesaat. Dia lalu teringat bahwa dia memang memiliki urusan yang belum selesai dengan wali kelasnya. Akhirnya, itu membuatnya percaya pada Abed. “Alika, kamu duluan aja ke perpus. Nanti aku nyusul setelah urusan aku sama wali kelas selesai,” kata Rayenda. Belum sempat Alika mengatakan sesuatu, Rayenda sudah lebih dulu pergi. “Alika, ke kantin, yuk. Aku traktir.” Zian merangkul pundak Alika. Alika cepat-cepat menepis tangan Zian. “Aku mau ke perpus.” … Rayenda diikuti Deinara berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ruang wali kelas. Namun, tiba-tiba dari belakang seseorang menarik paksa tangan Rayenda dan membawanya sampai di depan toilet. Itu ulah Abed, Jonas, Zian dan Vero lagi. “Pijitin,” titah Abed sambil menepuk-nepuk bahu kanannya. “Tapi kan aku harus ke ruang wali kelas,” kata Rayenda. “Mau ngapain ke sana?” tanya Vero. “Tadi kalian bilang ….” “Itu bohong, Rayenda. Bisa-bisanya percaya sama musuh,” kata Jonas lalu diakhiri tawa. Akhirnya, dengan berat hati Rayenda mulai memijiti Abed. Kalau dia tidak menurutinya, maka dia harus siap dijahili lebih ekstrim lagi. Saat Rayenda sibuk memijiti Abed, Zian merogoh kantong celana Rayenda dan mengambil semua uang yang berada di dalam sana. “Pinjam ya, Ray,” ucap Zian. Rayenda hanya bisa mengangguk pelan. “Balas mereka, Rayenda,” suruh Deinara. Rayenda hanya diam. Tiba-tiba terdengar suara air mengalir di salah satu WC yang berada di belakang mereka. “Siapa, tuh?” tanya Abed yang takut jika kejahilan mereka diketahui oleh siswa lain. Ketiga sahabatnya kompak mengangkat bahu karena tidak tahu. “Vero, coba cek!” suruh Abed. Vero mengangguk lalu pergi ke WC di mana tiba-tiba terdengar suara air mengalir itu. Sesampainya di sana, dia mengetuk pintu WC yang tertutup tersebut, tetapi tak ada jawaban dari dalam. Suara air mengalir makin jelas terdengar bahkan diiringi dengan tawa perempuan seperti kuntilanak. “Hihihi ….” Vero menggaruk kepalanya. “Aneh banget ada siswi yang main air sambil ketawa kayak gitu di WC.” Vero membalikkan badannya untuk kembali pada Abed. Namun, tiba-tiba terdengar pintu WC tersebut terbuka. Ngeet! Bersamaan dengan itu, angin berembus cukup kencang hingga membuat bulu kuduk Vero mendadak berdiri. Laki-laki itu spontan menoleh ke belakang, tepat ke arah WC tadi. “Lho!” Vero kaget begitu melihat tak ada siapapun di dalam WC itu. “Perasaan aku nggak denger orang lewat, deh. Terus, cewek yang di dalam tadi keluar lewat mana?” Vero melangkah agak ragu untuk melihat isi WC yang tampak sunyi itu. Tiba-tiba .… Buk! Pintunya tiba-tiba tertutup sendiri dan terkunci dari luar. Vero terus menggedor-gedor dan berteriak minta tolong, tetapi tak ada seorang pun yang datang menolong. Di tempat lain …. “Ck. Vero mana, sih? Disuruh ngecek WC aja lama banget,” keluh Abed, “Zian, coba kamu susul Vero.” “Lho. Kok aku, sih? Nggak mau, ah. Perasaan aku nggak enak,” kata Zian. “Ya elah, ke WC doang pake perasaan nggak enak segala,” celetuk Jonas. “Bareng aja, ayo!” ajak Zian. “Awas-awas!” Abed menyingkirkan tangan Rayenda dari bahunya lalu pergi ke WC diikuti Jonas dan Zian. “Deinara, ini ulah kamu lagi?” tanya Rayenda. Deinara tersenyum. “Aku bosan, Rayenda. Bermain-main dengan Vero seru juga. Ayo pergi dari sini sebelum mereka kembali berbuat usil padamu.” “Nggak, Deinara. Justru kalo mereka liat aku nggak ada di sini, mereka bakal marah.” “Rayenda!” teriak Abed yang datang bersama dengan Jonas dan Zian. Vero juga bersama mereka dengan keadaan basah kuyup. Rayenda menatap bingung pada keempat temannya itu. Sekarang, apa lagi yang telah dia lakukan hingga membuat mereka berempat tampak marah seperti itu? “Ini pasti ulah kamu, kan?” tuduh Abed. “Hah? K--kok aku?” Rayenda bingung. Bukannya menjawab, Abed, Jonas dan Zian langsung menghajar Rayenda karena tidak terima Vero dikunci di WC sampai dibuat basah kuyup seperti tadi. “Udah-udah cukup!” perintah Abed, “Heh. Awas ya kalo kamu sampe ngadu.” Abed melihat ketiga sahabatnya. “Ayo, cabut!” “Nggak nyangka aku. Rayenda bisa juga main licik kayak gini,” kata Jonas saat dia dan tiga sahabatnya berjalan meninggalkan Rayenda. Deinara cepat-cepat membantu Rayenda berdiri. Hantu itu terkejut bukan main ketika mendapati ada darah di sudut bibir kanan Rayenda. Mata Deinara tiba-tiba melotot dengan penuh warna merah. Tangan kanannya dia kepalkan. “De--Deinara, ada apa?” tanya Rayenda yang masih menahan sakit. Deinara langsung membalikkan badannya. Dia tidak ingin Rayenda melihat wujudnya yang menyeramkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN