Pergi

2572 Kata

Rayenda duduk di sebelah tubuh kaku Rama sambil mengusap-usap dengan lembut kepala adiknya itu. Sorot mata Rayenda menatap kosong dengan pikiran yang juga kosong. “Rayenda,” panggil Deinara dengan suara pelan. Entah sudah berapa kali Deinara memanggil Rayenda, laki-laki itu tetap saja diam tanpa gerak sedikit pun. Hari sudah semakin gelap. Bulan dan bintang juga sudah bermunculan. Samar-samar terdengar suara mobil polisi dan ambulans. Ya, Rayenda yang menghubunginya. “Ray!” teriak mama. Orang tua dan kedua adik Rayenda berlari menghampiri Rayenda. Dengan wajah panik dan tegang, keempat anggota keluarga itu akhirnya tiba di tempat Rayenda duduk. “Rama mana?” tanya mama yang masih fokus menatap wajah datar Rayenda. “Bu--bukan yang ini, kan?” tanya papa sambil melihat takut pada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN