“Makanlah, aku buatkan nasi goreng kesukaanmu,” ucap Nathan meletakan nasi goreng buatannya di atas meja tepat di hadapan Rachel.
Wanita itu melihat ke piring nasi goreng, kemudian melihat ke arah Nathan yang masih berdiri dengan senyuman menawannya, celemek masih menempel di tubuh kekarnya.
“Ada apa?” tanya Nathan karena Rachel hanya diam memperhatikan tanpa mengatakan apa pun.
“Um... tidak. Hanya saja, entah kapan terakhir kali aku menikmati nasi goreng buatanmu,” jawab Rachel di sana.
Nathan tersenyum kikuk. “Aku juga tidak ingat.”
Rachel tidak mengatakan apa pun lagi selain mengambil sendok dan mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Bagaimana? Rasanya masih sama, kan? enak?” tanya Nathan yang masih memperhatikan Rachel di depannya.
Rachel mengunyah pelan, merasakan setiap bumbu yang melebur di lidahnya. Kemudian, tanpa sadar, ia tersenyum tipis. “Iya, masih sama. Masih seenak dulu.”
Nathan menghela napas lega, lalu tertawa kecil. “Syukurlah. Aku sempat khawatir rasanya berubah karena sudah lama nggak masak.”
Rachel menatap suaminya dengan lembut, sesuatu dalam hatinya terasa hangat. “Kamu nggak perlu repot-repot, Nathan...”
Nathan menggeleng cepat. “Aku mau, Hel. Aku ingin kamu makan dengan nyaman. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu.”
Rachel menunduk, jari-jarinya menggenggam sendok dengan erat. Dulu, ia terbiasa makan sendiri, bahkan terkadang lupa makan karena pikirannya yang terlalu penuh. Tapi pagi ini terasa berbeda, ada seseorang yang memperhatikannya, yang memastikan ia makan dengan baik.
Nathan duduk di hadapannya, menatap Rachel dengan penuh perhatian. “Kalau butuh sesuatu katakan saja.”
Rachel tersenyum tipis, matanya mulai terasa panas. “Terima kasih, Nathan.”
Nathan mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Rachel yang tergeletak di atas meja. “Kita mulai semuanya dari awal, Hel. Aku ingin kita bisa bahagia lagi.”
Rachel tidak langsung menjawab, tapi untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin, hanya mungkin, bahagia itu masih bisa ia raih.
“Kenapa kamu tidak makan juga?” tanya Rachel.
“Aku mau makan,” jawab Nathan tersenyum hangat dan mulai menyendokkan nasi ke piringnya.
Mereka makan dalam diam, tapi bukan diam yang canggung, melainkan diam yang terasa nyaman. Seolah-olah mereka sedang belajar kembali menikmati kebersamaan yang sudah lama hilang.
Rachel sesekali melirik Nathan, memperhatikan bagaimana pria itu makan dengan santai, tanpa terburu-buru seperti biasanya. Dulu, Nathan selalu terburu-buru untuk berangkat kerja, jarang sekali ada waktu seperti ini.
“Kamu nggak kerja hari ini?” tanya Rachel pelan. Sebenarnya Rachel penasaran karena ini libur terlama Nathan selama bekerja menjadi seorang pilot.
Nathan berhenti mengunyah sejenak, lalu menatap istrinya dengan senyum kecil. “Aku ambil cuti panjang.”
Rachel terdiam, menatap Nathan dengan sedikit kaget. “Cuti panjang?”
Nathan mengangguk. “Aku ingin fokus ke kamu dulu, Hel. Aku nggak mau lagi mengabaikanmu.”
Rachel meremas sendok di tangannya. Ada bagian dari dirinya yang merasa lega, tapi juga takut. “Tapi... pekerjaanmu...”
“Pekerjaan bisa menunggu. Tapi kamu?” Nathan menatap Rachel dengan dalam. “Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Rachel menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian.
“Aku tidak pernah menginginkan hal ini. Pekerjaan itu adalah hal yang kamu sukai, Nathan,” ucap Rachel dengan kepala tertunduk.
“Tapi, sesukanya aku pada pekerjaan, aku jauh lebih menyukaimu, Hel. Aku sudah ambil keputusan, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Setidaknya, sampai kamu sembuh dari trauma kamu,” ucap Nathan.
Rachel mengerjapkan matanya, merasa dadanya menghangat sekaligus sesak. Perkataan Nathan terasa begitu tulus, tetapi di dalam hatinya, masih ada ketakutan yang mengintai.
“Aku… aku nggak mau jadi beban buat kamu, Nathan.” Suaranya nyaris berbisik.
Nathan menghela napas, lalu meraih tangan Rachel dan menggenggamnya erat. “Dengar, Hel. Kamu bukan beban. Kamu adalah istriku, dan aku mencintaimu.”
Rachel menelan ludah. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali seseorang mengatakan hal itu kepadanya. “Tapi kalau suatu saat kamu menyesal?”
“Aku nggak akan menyesal,” Nathan menjawab tanpa ragu. “Yang aku sesali adalah selama ini aku nggak pernah benar-benar ada buat kamu. Aku nggak akan mengulang kesalahan yang sama.”
Rachel terdiam. Matanya kembali terasa panas, tapi kali ini, bukan karena kesedihan, melainkan karena harapan.
Nathan mengusap punggung tangannya lembut. “Kita nggak perlu buru-buru, Hel. Pelan-pelan aja, kita hadapi semuanya bersama.”
Rachel menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan. “Oke… pelan-pelan.”
Nathan tersenyum lega. “Itu baru istriku.”
Rachel tersenyum di sana. Dia sendiri tidak yakin, apa yang akan dilakukan Nathan kalau tahu bagaimana kondisinya, dan apa Nathan benar-benar yakin Rachel akan sembuh? Karena sudah beberapa tahun Rachel menanggung semua ini, dan itu tidak ada kemajuan yang lebih baik. Justru, keadaannya malah semakin memburuk.
“Hel, siang ini, bagaimana kalau kita bertemu doktermu,” ucap Nathan. “Aku ingin tahu lebih rinci tentang kondisimu.”
Rachel menegang mendengar perkataan Nathan. Hatinya berdesir oleh ketakutan yang tak bisa ia kendalikan.
“Kenapa?” tanyanya pelan, suaranya hampir bergetar.
Nathan menggenggam tangannya lebih erat, seolah ingin meyakinkan bahwa dia ada di sini, dan tidak akan pergi. “Karena aku ingin membantumu, Hel. Aku ingin tahu bagaimana aku bisa benar-benar ada buat kamu, bukan cuma bilang akan menemanimu.”
Rachel menunduk, pikirannya berkecamuk. Selama ini, ia terbiasa menghadapi segalanya sendiri. Pergi ke dokter sendirian, menangani kecemasan dan ketakutannya sendiri. Ia bahkan tak pernah berpikir akan ada seseorang yang ingin memahami kondisinya lebih dalam.
“Tapi… kalau kamu dengar semuanya, kamu mungkin akan takut… atau kecewa…” gumamnya.
Nathan mengusap punggung tangannya dengan lembut. “Dengar, Hel. Aku lebih takut kalau aku nggak melakukan apa-apa dan malah kehilangan kamu.”
Rachel mengangkat kepalanya, menatap mata Nathan yang penuh ketulusan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa seseorang benar-benar ingin memahaminya.
Perlahan, ia mengangguk. “Baiklah… kita pergi bersama.”
Nathan tersenyum hangat. “Terima kasih sudah mengizinkan aku ada di sampingmu, Hel.”
Rachel tidak menjawabnya dan tetap diam menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Nathan memperhatikan Rachel yang jadi lebih pendiam. Nathan tahu kalau Rachel seorang introver, dan terkadang dia jadi jauh lebih pendiam dibanding Nathan. Karena sosok Rachel yang tertutup, kadang Nathan salah menyimpulkan kalau dia baik-baik saja dan tidak ada masalah.
Nathan sadar, selama ini ia terlalu menganggap remeh sikap diam Rachel. Ia dulu berpikir bahwa jika Rachel tidak mengeluh, berarti semuanya baik-baik saja. Tapi sekarang ia tahu bahwa diamnya Rachel bukan berarti tak ada luka di dalamnya.
Rachel melanjutkan makannya dalam diam, sesekali mengaduk nasi goreng di piringnya dengan sendok. Nathan ingin bicara lagi, tapi ia memilih untuk menunggu. Memberi Rachel ruang untuk mencerna semuanya.
Setelah beberapa menit berlalu, Rachel akhirnya menaruh sendoknya dan menghela napas. “Nathan…” panggilnya pelan.
Nathan segera menatapnya, menunggu dengan sabar. “Ya, Hel?”
Rachel menggigit bibir bawahnya ragu. “Aku takut kalau… kalau aku nggak akan pernah sembuh. Aku sudah mencoba terapi, obat-obatan, tapi… rasanya tetap sama.”
Nathan mendekat dan meraih tangan Rachel. “Kamu nggak perlu menghadapi ini sendirian, Hel. Kita akan cari cara lain, kalau perlu dokter lain, atau terapi yang berbeda. Aku nggak akan menyerah.”
Rachel menatap tangan mereka yang saling menggenggam, lalu menarik napas dalam. “Aku nggak mau kamu kecewa…”
Nathan menggeleng. “Aku nggak akan kecewa. Aku cuma ingin kamu tahu kalau aku akan ada di sini, apa pun yang terjadi.”
Rachel akhirnya tersenyum kecil. Meski masih ada ketakutan, setidaknya kali ini, ia tidak perlu berjalan sendiri.
“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Entah bagaimana takdir hidupku nanti. Tapi, Nathan, tolong jangan sia-siakan hidupku untukku. Kalau situasi mendesak, sebaiknya kamu lebih fokus pada pekerjaanmu, ini impianmu. Jangan pikirkan aku,” ucap Rachel berusaha meyakinkan suaminya.
“Aku sudah tegaskan, kalau aku tidak akan meninggalkanmu, Hel. Bagaimanapun kondisimu, aku akan selalu mendampingimu, kamu harus selalu terbuka dan berbagi padaku. Aku ini suami kamu,” ucap Nathan.
Rachel menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca. Seandainya kata-kata Nathan bisa begitu saja menghapus semua keraguan dan ketakutan dalam dirinya, mungkin semuanya akan terasa lebih mudah.
“Tapi… bagaimana kalau aku benar-benar tidak bisa sembuh?” tanyanya lirih.
Nathan mengeratkan genggamannya. “Kamu bukan sesuatu yang harus diperbaiki, Hel. Kamu tetap kamu. Aku mencintai kamu, bukan versi sempurna atau sehat dari kamu, tapi kamu yang sekarang.”
Rachel terdiam. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa ia adalah beban, seseorang yang harus diperbaiki agar pantas dicintai. Tapi Nathan mengatakan hal yang berbeda.
“Aku nggak ingin kamu menyerah pada dirimu sendiri, Hel,” lanjut Nathan dengan lembut. “Kalau kamu capek, aku akan ada untukmu. Kalau kamu takut, aku akan menggenggam tanganmu. Kita hadapi ini sama-sama.”
Rachel menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangis yang menggenang di matanya. “Kenapa kamu sekeras kepala ini, Nathan?”
“Karena aku tidak ingin kamu pergi dari hidupku, Hel.” Nathan berkata dengan lugas.
***