Tiga Belas

1183 Kata
Drrrrtt… Nathan melihat nama yang muncul di layar ponselnya adalah Pak Edwin, atasannya di maskapai tempatnya bekerja. “Halo, Pak.” “Nathan. Apa maksudmu dengan mengajukan pengunduran diri mendadak seperti ini? Kamu tau kan aturan di maskapai, tidak bisa mundur begitu saja,” ucap Edwin terdengar sangat marah di sana. “Maafkan saya, Pak. Tapi, saya tidak ada pilihan lain,” ucap Nathan menghela napasnya. “Sebenarnya apa yang terjadi? Sebelumnya kamu meninggalkan bandara begitu saja, padahal sudah mau take off. Jangan meninggalkan tanggung jawab begitu saja!” tegur Edwin penuh kekesalan. Nathan sadar, dia sudah tidak bertanggung jawab. Baik pada istrinya, maupun ke pekerjaannya. Tapi, situasinya saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Nathan menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya sebelum menjawab. “Saya tahu, Pak. Saya tahu ini tidak profesional, dan saya minta maaf. Tapi saya benar-benar tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini sekarang.” Di seberang telepon, Edwin terdengar menghela napas berat. “Nathan, kamu adalah salah satu pilot terbaik kami. Aku tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba ingin pergi. Apa ini masalah pribadi?” Nathan mengangguk, meski tahu Edwin tidak bisa melihatnya. “Ya, Pak. Ini masalah keluarga. Istri saya… dia sedang tidak baik-baik saja. Dan saya tidak bisa meninggalkannya sendirian lagi.” Edwin terdiam sejenak sebelum kembali bicara, kali ini dengan nada yang lebih tenang. “Nathan, aku mengerti bahwa keluarga adalah prioritas. Tapi, berhenti begitu saja bukan satu-satunya pilihan. Ambil cuti panjang dulu. Kami bisa mengatur jadwalmu.” Nathan terkejut. Ia tidak menyangka Edwin akan memberinya opsi lain. “Cuti panjang?” “Ya. Kami bisa beri kamu waktu beberapa bulan, atau lebih jika diperlukan. Tapi jangan mengundurkan diri dulu. Maskapai masih butuh kamu, dan kamu juga masih butuh waktu untuk benar-benar yakin dengan keputusan ini,” jelas Edwin. Nathan terdiam, pikirannya bercampur aduk. Ini mungkin solusi yang lebih baik, ia bisa tetap mendampingi Rachel tanpa harus kehilangan karier yang selama ini ia bangun. “Saya… saya akan mempertimbangkannya, Pak,” jawab Nathan akhirnya. “Baik. Jangan buat keputusan tergesa-gesa. Dan jika butuh bantuan, kabari aku.” Telepon terputus, tapi Nathan masih termenung. Ia menghela napasnya. Cuti panjang… mungkin ini jalan tengah yang lebih baik. Nathan menatap langit malam, malam sudah semakin larut, tapi dia sama sekali tidak bisa tidur. Semua hal yang baru dia ketahui tentang kondisi Rachel, benar-benar membuatnya sangat terpukul. Lima tahun pernikahan mereka, dan Nathan tidak pernah tau kondisi Rachel yang seperti itu. Nathan meremas rambutnya sendiri, frustrasi dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa aku tidak menyadari ini selama lima tahun? “Aku seharusnya ada untukmu sejak awal, Hel…” Nathan menarik napas dalam-dalam. Jika selama ini ia buta terhadap penderitaan Rachel, maka sekarang ia harus membuka matanya lebar-lebar. Ia harus belajar memahami, belajar ada di sisi Rachel tanpa membuatnya merasa terbebani. Cuti panjang. Nathan mengulang kata-kata Edwin dalam pikirannya. Itu memang pilihan terbaik untuk saat ini. Jika ia tetap bekerja, ia akan terus terjebak dalam kesibukannya dan tidak akan bisa benar-benar fokus pada Rachel. Tapi jika ia langsung mengundurkan diri, mungkin itu keputusan yang terlalu impulsif. Pelan-pelan, Nathan meraih ponselnya lagi dan membuka kontak Edwin. Setelah beberapa detik ragu, ia akhirnya mengirim pesan singkat: "Pak, saya setuju mengambil cuti panjang. Saya ingin fokus pada keluarga saya untuk sementara waktu. Terima kasih sudah memberi saya pilihan ini." Tidak butuh waktu lama sebelum Edwin membalas. "Keputusan yang bijak, Nathan. Urus semuanya dengan baik, dan ketika kamu siap kembali, maskapai selalu menunggumu." Nathan menghela napas lega. Sekarang, yang tersisa adalah bagaimana ia menghadapi hari-hari ke depan bersama Rachel. Pria itu beranjak dari duduknya, berjalan masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar di mana Rachel berada. Wanita itu masih terlelap di atas ranjang, seharian ini mereka benar-benar ada dalam situasi canggung dan menyesakkan. Nathan berjalan mendekati ranjang, dan perlahan berbaring di samping Rachel. Ia tidak menyentuhnya, hanya berbaring di sana, mendengar napas teratur istrinya. “Mulai sekarang, aku akan menemanimu, Hel. Aku ingin kamu bisa melewati semua ini bersamaku,” ucap Nathan berbisik pelan. Malam terasa sunyi, hanya terdengar suara napas Rachel yang perlahan semakin tenang. Nathan menatap langit-langit kamar, pikirannya masih dipenuhi banyak hal. Namun, satu hal yang pasti—ia tidak akan membiarkan Rachel menghadapi semua ini sendirian lagi. Perlahan, ia menoleh ke arah Rachel. Wanita itu masih tertidur dengan wajah yang terlihat sedikit lebih damai dibanding sebelumnya. Nathan tersenyum kecil, meski hatinya masih terasa berat. Besok adalah awal dari segalanya. Nathan tahu, perjalanan ini tidak akan mudah. Rachel mungkin akan menolak bantuannya, mungkin akan ada saat-saat di mana Rachel merasa putus asa lagi. Tapi Nathan sudah bertekad. Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyelipkan rambut Rachel yang berantakan ke belakang telinganya. Dengan napas panjang, Nathan akhirnya memejamkan matanya, mencoba tidur di samping wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama lima tahun terakhir. Malam ini adalah awal dari segalanya, bukan hanya bagi Rachel, tapi juga bagi dirinya sendiri. * Sinar matahari masuk ke celah jendela, membuat Rachel mengerjapkan kedua matanya. Dia mengernyitkan dahinya melihat ke arah jendela kamar yang terang. “Aku tidur lagi tanpa obat tidur?” gumamnya. Dan dia menyadari ada tangan kekar yang memeluk perutnya, dia menolehkan kepalanya ke arah Nathan yang masih terlelap di sana. Wanita itu tersenyum kecil, menatap wajah tampan suaminya. Entah kapan terakhir dia bisa menikmati momen seperti ini. Biasanya, saat dia bangun, Nathan sudah berangkat kerja tanpa membangunkannya. Terkadang membuat Rachel merasa hampa saat bangun dari tidurnya. “Apa aku boleh menikmati momen ini?” gumam Rachel masih menatap wajah Nathan dengan intens. Dia merasa takut, takut kalau semua hanya akan hilang lagi nanti. Nathan menggeliat pelan, lalu tanpa membuka matanya, ia menarik Rachel semakin erat ke dalam pelukannya. “Jangan pergi dulu...” gumamnya lirih, suaranya masih berat karena baru bangun tidur. Rachel tertegun, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia pikir Nathan masih tidur, tapi ternyata pria itu sadar akan keberadaannya. “Aku nggak ke mana-mana,” bisik Rachel, suara itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada Nathan. Nathan akhirnya membuka matanya perlahan, menatap Rachel yang masih terdiam dalam dekapannya. Senyuman kecil terukir di bibirnya. “Pagi, Hel.” Rachel mengalihkan pandangannya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah. “Pagi...” Mereka terdiam untuk beberapa saat, menikmati keheningan yang terasa hangat. “Kamu tidur nyenyak?” tanya Nathan sambil menatap dalam ke mata istrinya. Rachel mengangguk kecil. “Aku bahkan nggak sadar kapan aku tertidur.” Nathan tersenyum lega. “Bagus. Aku ingin kamu bisa tidur nyenyak setiap malam, tanpa harus bergantung pada obat.” Rachel menatap Nathan, hatinya terasa hangat mendengar kata-kata itu. Ia ingin percaya bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa ia tidak perlu merasa sendirian lagi. Nathan hanya tersenyum dan mengusap lembut punggung tangan Rachel. “Jangan takut apapun lagi. Aku di sini, Hel. Selalu.” Rachel tidak menjawab di sana, dia masih ragu sekaligus takut. “Aku akan buatkan sarapan untukmu,” ucap Rachel. Nathan malah menarik tubuh Rachel hingga wanita itu jatuh ke dalam dekapannya. “Tidak perlu, aku akan siapkan sarapan buat kita nanti. Sekarang, biarkan seperti ini,” ucapnya memeluk Rachel dengan erat. “Aku sangat merindukanmu, Hel… “ Mendengar hal itu, jantung Rachel berdebar sangat cepat mendengarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN