Dua Belas

1200 Kata
Rachel menatap Nathan yang terduduk di lantai dengan kepala tertunduk, bahunya bergetar hebat. Suaminya menangis. Bukan sekadar kecewa, bukan sekadar marah—tapi hancur. Rachel menggigit bibirnya, hatinya sakit melihatnya seperti ini. Ia ingin mendekat, tapi kakinya terasa berat. Selama ini, ia berpikir bahwa dengan menahan semuanya sendiri, ia bisa melindungi Nathan dari beban tambahan. Tapi ternyata, keputusan itu malah menyakiti mereka berdua. Dengan tangan gemetar, Rachel berlutut di hadapan Nathan. “Nathan...” panggilnya lirih. Nathan tidak menjawab, hanya menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangan. Rachel menarik napas dalam, lalu menyentuh bahu Nathan dengan ragu. “Aku tidak pernah bermaksud tidak mempercayaimu. Aku hanya... takut.” Nathan mengangkat kepalanya perlahan, matanya merah dan basah. “Takut? Takut apa, Hel?” suaranya serak. Rachel mengusap air matanya sendiri. “Takut kalau aku membebanimu. Takut kalau kamu akan melihatku sebagai istri yang lemah, yang menyusahkan...” suaranya terputus, lalu ia menggeleng. “Aku takut kamu akan pergi... karena lelah menghadapi aku yang seperti ini.” Nathan menatap Rachel dalam-dalam. “Hel, aku tidak akan pernah pergi karena alasan itu,” ucapnya tegas, meski suaranya masih bergetar. “Justru aku marah pada diriku sendiri karena selama ini aku membiarkanmu menanggung semuanya sendirian.” Rachel menunduk, tangannya mencengkeram ujung bajunya sendiri. “Aku tidak tahu harus bagaimana, Nathan. Aku benar-benar tidak tahu.” Nathan menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Rachel dengan lembut. “Kalau kamu tidak tahu, kita cari jalan keluarnya bersama. Aku ini suami kamu, Hel. Bukankah aku harus terlibat dalam setiap hal yang menyangkut kamu?” tanya Nathan menatap Rachel dengan sendu. “Aku tidak tahu seberapa sulitnya kamu selama ini. Aku tidak tahu seberapa besar trauma yang kamu alami, Hel. Maaf, karena aku sangat tidak berguna sebagai seorang suami,” ucap Nathan. Rachel mengangkat wajahnya, menatap Nathan dengan mata basah. Wanita itu menggelengkan kepalanya, tangannya terulur mengusap air mata Nathan di sana. “Aku tidak pernah menyalahkanmu, Nathan. Aku menderita karena diriku sendiri. Dan kamu, kamu melakukan apa yang kamu sukai. Aku tidak bisa membebanimu dengan semua masalahku, hanya aku merasa lelah dengan semuanya. Aku takut sendiri, aku selalu overthingking setiap saat. Aku tidak bisa bergaul dengan orang lain, aku tidak bisa bersosialisasi dengan mudah, semua hal yang aku jalani terasa berat untukku, Nathan.” Air mata Rachel luruh membasahi pipinya. “Dan semakin lama merasakan hal seperti ini, aku merasa sangat lelah, aku muak dengan diriku sendiri. Aku mulai muak dengan kehidupanku, entah apa yang salah dengan semua ini, hanya saja, aku merasa muak dan lelah. Menjalani hari demi hari dan melakukan rutinitas yang sama, membuatku semakin kesepian dan merasa dicampakkan. Aku-“ Nathan menatap Rachel yang menundukkan kepalanya dan menangis terisak, mengungkapkan semua yang dia rasakan. Nathan menggenggam tangan Rachel lebih erat, mencoba menyalurkan kehangatan yang mungkin bisa sedikit menenangkan wanita itu. Melihatnya seperti ini, begitu rapuh dan lelah, membuat dadanya terasa semakin sesak. “Hel...” Nathan memanggilnya dengan lembut. “Aku tidak akan pura-pura paham sepenuhnya dengan apa yang kamu rasakan. Aku tahu aku tidak bisa langsung membuat semua ini lebih baik dalam semalam. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan membiarkan kamu sendirian lagi.” Rachel masih menunduk, bahunya bergetar karena isakan yang tak bisa ia tahan. Nathan mengusap punggung tangan Rachel dengan ibu jarinya. “Kalau kamu lelah, bersandarlah padaku. Kalau kamu takut, biarkan aku yang melindungimu. Dan kalau kamu merasa sendiri...” Nathan berhenti sejenak, suaranya semakin lirih, “ingat bahwa aku ada di sini, Hel.” Rachel mengangkat wajahnya perlahan, menatap Nathan dengan mata yang masih dipenuhi air mata. Ada sesuatu di sana, kepercayaan yang selama ini perlahan memudar, seolah sedang berusaha untuk kembali. “Tapi... bagaimana kalau aku tidak bisa sembuh?” bisik Rachel nyaris tak terdengar. Nathan menggeleng tegas. “Kamu akan sembuh, aku akan selalu mendampingimu setiap saat.” Rachel terisak lagi, tapi kali ini, bukan hanya karena kesedihan. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang sedikit lebih hangat daripada kegelapan yang selama ini menyelimutinya. Nathan menarik Rachel ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seakan tidak akan pernah melepaskan. “Kita mulai lagi, pelan-pelan. Kita hadapi semuanya bersama.” Rachel menggenggam erat kemeja Nathan, membenamkan wajahnya di d**a pria itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada tempat yang bisa ia sebut rumah. Rachel menangis tersedu-sedu di sana, dia menumpahkan semua beban di pundaknya pada Nathan yang juga ikut menangis memeluk istrinya dengan erat. Nathan kini tahu, kalau istrinya sangat menderita dan menderita. Dia butuh Nathan, tetapi pria itu selalu sibuk dengan pekerjaannya tanpa peduli pada Rachel yang selalu dia anggap baik-baik saja. Nathan mengusap punggung Rachel dengan lembut, membiarkan wanita itu menangis di dalam pelukannya. Ia tidak menyuruhnya berhenti, tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dalam sekejap. Tidak. Karena untuk pertama kalinya, Nathan benar-benar mendengar dan memahami betapa dalam luka yang selama ini ditutupi Rachel. “Aku seharusnya menyadarinya lebih awal...” bisik Nathan penuh penyesalan. “Aku seharusnya ada di sini untukmu, Hel.” Rachel hanya menggenggam erat kemeja Nathan, seolah takut jika ia melepaskannya, Nathan akan pergi lagi. Tangisnya masih tersendat-sendat, tapi pelukan Nathan terasa begitu nyata, begitu hangat. Nathan menempelkan dagunya di puncak kepala Rachel, menutup matanya sejenak. “Aku janji, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian lagi.” Rachel menarik napas dalam, suaranya bergetar saat ia berkata, “Kamu janji?” Nathan menarik tubuh Rachel sedikit ke belakang agar bisa menatap matanya. Ia menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipi Rachel dengan ibu jarinya. “Aku janji,” ucapnya penuh ketulusan. Rachel tidak langsung menjawab, tetapi dalam tatapannya, ada secercah harapan yang mulai tumbuh kembali. Pelan-pelan, ia mengangguk. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rachel tertidur di dalam pelukan Nathan, merasa lebih aman daripada sebelumnya. Sementara Nathan, dengan penuh kesadaran, berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan segala cara untuk membantu Rachel menemukan cahaya di tengah kegelapan yang selama ini menyelimutinya. Nathan melepaskan pelukan Rachel yang sudah terlelap karena kelelahan menangis. Pria itu menyelimuti tubuh Rachel di sana dan menatapnya dalam diam. Tangannya menggenggam ponselnya, dia harus mengambil keputusan berat, dengan melepaskan pekerjaan yang selalu menjadi cita-citanya selama ini, demi Rachel. Ya, dia memutuskan mengundurkan diri sebagai pilot dan akan terus mendampingi Rachel, sampai dia sembuh dan merasa lebih baik. “Ya, sepertinya, aku harus mengundurkan diri,” batin Nathan sambil menatap Rachel di sampingnya. Nathan menghela napas panjang, matanya masih terpaku pada wajah Rachel yang terlihat lebih damai dalam tidurnya. Keputusan itu berat, sangat berat. Menjadi pilot adalah impian yang sudah ia kejar sejak lama, sesuatu yang telah menjadi bagian dari dirinya. Tapi, bagaimana mungkin ia bisa terus terbang sementara istrinya berada di ambang kehancuran? Tangannya gemetar saat mulai mengetik pesan di ponselnya. Kapten Nathaniel Alden – Permohonan Pengunduran Diri. Kata-kata itu terasa asing sekaligus menyakitkan. Namun, saat Nathan kembali menatap Rachel, hatinya kembali yakin. "Aku bisa mengejar mimpi lain... tapi aku tidak bisa menggantikanmu, Hel," bisiknya pelan. Nathan menggenggam tangan Rachel yang tergeletak di atas selimut. Ia tidak tahu bagaimana kehidupan mereka ke depan setelah keputusannya ini, tapi satu hal yang pasti, Rachel lebih penting dari segalanya. Jika selama ini ia sibuk mengejar langit, kini saatnya ia menjejak bumi, mendampingi wanita yang paling ia cintai. Tanpa ragu lagi, Nathan menekan tombol kirim. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN