Shin memeluk Viola di atas tempat tidur. tangannya mengusap rambut Viola yang tergerai lemas. Setelah melepaskan pelukannya, Viola mengubah posisi tidurnya menghadap Shin, keduanya kini berhadapan dan sangat dekat. Tangan Shin merapikan rambut Viola yang mengenai wajah. Viola tersenyum melihatnya dan dibalasnya senyuman itu.
"Jadi, kita pacaran?" tanya Shin.
"Mmm, mungkin," jawab Viola sedikit meledek.
"Mungkin? Ih," ucap Shin kesal.
Viola tersenyum, "Ah, aku mau nanya," ucap Viola teringat akan suatu hal.
"Apa?"
"Kenapa kau tak menghubungiku lagi waktu itu, apa kau mempunyai kekasih?" tanya Viola.
Shin tersenyum mendengar pertanyaan Viola, "Kekasih?" tanya Shin memastikan, "Oh, benar," lanjutnya menjawab pertanyaan Viola.
"Apa?" ujar Viola sedikit kesal.
Shin berhasil membuat Viola ingin menjauh darinya, tetapi Shin dengan cepat menarik Viola dan kembali ke posisi semula.
"Yya!! mana bisa aku memiliki kekasih, kalo di dalam sini cuma ada kamu," Shin menarik tangan Viola dan meletakkan tepat di depan dadanya.
Viola tersipu, tersenyum manis.
"Aku sibuk belajar, di luar negeri itu nggak segampang sama belajar di sini," ujar Shin mulai menjelaskan.
"Benarkah? sama aja, kalau kita pengen punya nilai bagus, juga harus belajar lebih keras," jawab Viola sekenanya.
"Benar," Shin setuju, "Kau tau? aku hanya memiliki waktu tidur selama lima jam, sisanya aku gunakan untuk belajar dan kegiatan di kampus," ucap Shin.
"Seriusan?"
Shin tersenyum dan mengangguk.
"Aku nggak mau terlalu lama di sana, aku ingin sekali pulang ke Indonesia supaya ketemu sama kamu," ujar Shin, membuat Viola tersenyum.
"Tapi, kenapa kamu baru muncul setelah sepuluh tahun?"
"Aku mengambil S2 di sana, awalnya aku tak menyetujuinya, tetapi Ayah memaksaku, dia selalu bilang aku harus seperti Kak Kiar. Itu membuatku kesal," ucap Shin.
Viola tersenyum, mengelus rambut hitam Shin.
"Kamu udah bekerja keras, buktinya sekarang udah jadi bos," ucap Viola.
"Dan jadi pacar kamu," ujar Shin tersenyum.
Viola membalas senyum dari Shin.
Shin mengecup kening Viola dan memeluknya.
"Sayang banget sama kamu," ucapnya mempererat pelukan itu.
Shin merasakan Viola mengangguk dalam pelukannya.
Viola mendongakkan kepalanya, menghadap Shin yang kini sudah menatapnya. Shin tersenyum dan mulai melumat bibir Viola.
Keduanya saling berbalas ciuman. Memainkan lidah yang sudah terpaut di dalam mulut, Viola terlihat sangat menikmati ciuman itu, begitu juga Shin dengan lihainya memainkan bibir dan lidah kekasihnya.
Dia mengubah posisinya menjadi tepat di atas Viola, melepas sebentar ciuman itu lalu tersenyum.
"Aku cinta kamu," bisiknya mesra. Viola menjawabnya dengan senyuman.
Shin kembali memangsa bibir Viola, kini tidak hanya bibirnya yang bekerja, tetapi tangannya mulai beraksi membuka satu per satu kancing baju Viola. Dan dia dengan bebas bergerilya mengelus kulit halus Viola, menelurusuri dua bukit kembar yang sudah terpampang nyata di depan matanya. Selimut yang sebelumnya menutupi sebagian tubuh keduanya kini sudah terlepas. Shin terus melakukan aksinya dan tanpa penolakan dari Viola.
"Aaah," Viola mendesah menikamti permainan Shin.
Sinar matahari pagi menembus jendela kamar Shin yang memang dibiarkan terbuka semalaman.
Terlihat Shin masih tidur sangat pulas, tanpa menggunakan baju. Tubuhnya tertutup selimut sampai bagian dadanya. Viola tersenyum melihat kekasihnya tidur dengan sangat pulas.
Viola tengah duduk di samping Shin. Baru saja selesai membersihkan badan, terlihat dari rambutnya yang basah dan Viola mengenakan baju kemaja milik Shin yang kebesaran di tubuhnya.
Viola mengusap rambut Shin. Akan tetapi tiba-tiba Shin meraih tangan Viola, membuat Viola kaget.
"Sudah bangun?" tanya Viola.
Shin mengangguk tanpa membuka matanya.
"Cepat mandi, kau mempunyai janji dengan Pak Adi, siang ini," ucap Viola.
"Hmm," jawab Shin dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Ayo," Viola menarik lengan Shin agar Shin terbangun. Bukannya terbangun, Shin malah menarik tangan Viola hingga jatuh di pelukannya.
"Shin," ucap Viola manja.
Shin tersenyum, memeluk erat Viola.
"Shin," ucap Viola manja.
"Sebentar saja, semalam kamu berhasil bikin aku nggak bisa tidur," protes Shin, matanya masih tertutup.
"Aku juga nggak bisa tidur, gara-gara kau terus menggodaku," balas Viola memprotes.
Shin tersenyum, "Ah," Shin membuka matanya.
"Apa?" tanya Viola bingung.
"Sepertinya ponselku tertinggal di jas yang aku pakai semalam," ucap Shin.
"Ponsel?" tanya Viola. Shin mengangguk manja.
"Bisa kau ambilkan?" tanya Shin memerintah.
Viola tersenyum dan mengangguk.
Shin melepaskan pelukannya. Viola berjalan menuju sofa panjang di mana jas yang di pakai Shin semalam tergeletak di sana.
Viola mulai merogoh saku jas satu persatu.
"Nggak ada ah, kamu lupa naro kali," ucap Viola sedikit berteriak.
"Masa sih?" tanya Shin.
Viola mengulang meraba saku jas milik Shin. Tangannya terhenti ketika mendapati sebuah kotak kecil yang terasa di tangannya.
Viola merogoh saku itu dan mengambilnya.
Sebuah kotak berwarna pink kini ada di tangannya, saking penasarannya Viola membuka kotak itu, mendapati sebuah cincin berlian ada di dalamnya.
"Cincin?" tanya Viola lirih, "Shin," Viola berbalik memanggil Shin, tetapi ucapannya terhenti ketika Shin sudah berada tepat di depannya.
"Shin," ujar Viola lirih. Shin tersenyum melihat kekasihnya bingung, "Ini apa?" tanya Viola ragu.
Shin tersenyum, mengambil cincin yang sudah berada di tangan Viola, satu tangannya meraih tangan kanan Viola.
"Hadiah," ucap Shin sembari memakaikan cincin itu di jari manis Viola.
"Cantik sekali," puji Shin, lalu mencium jemari Viola.
Viola tersenyum, pipinya merona. Terlihat sangat bahagia.
Shin Tersenyum lagi memandang wajah Viola, lalu akhirnya mencium bibirnya.
°°°
Viola sudah kembali ke kantor setelah tugasnya di Jogja. Sebenarnya Shin berniat untuk mengajak Viola berlibur. Tetapi, kantor membutuhkan Shin, dia harus menemui para investor asing yang akan tiba di Jakarta sore nanti.
Viola berjalan menuju elevator, senyum manisnya selalu Ia keluarkan untuk menyapa karyawan kantor yang berpapasan dengannya.
Sesampainya di meja kerjanya, mata Viola melirik ke arah ruangan Shin.
"Apa dia belum datang?" tanya Viola lirih pada dirinya sendiri.
Viola mengambil posisi duduk, mengeluarkan buku kecil dari dalam tas yang dibawanya.
"Good morning," suara Shin membuat Viola menoleh ke arah Shin berada.
Viola tersenyum manis, Shin pun ikut tersenyum. Terlihat tampan dengan setelah jas berwarna maroon, yang senada dengan warna celananya.
"Morning," jawab Viola.
Shin mengisyaratkan Viola untuk masuk ke ruangannya. Viola pun mengangguk mengerti, mengikuti langkah Shin memasuki ruangannya.
Viola membawa ipad di tangannya. Setelah memasuki ruangan Shin, dia tersenyum melihat Shin sampai duduk di kursinya.
"Jadwal hari ini, jam sepuluh ada rapat management perusahaan, lalu sore harinya bertemu para investor di Bandara International Hotel," Ucap Viola membacakan jadwal Shin.
Shin tersenyum mendengarnya, membuat Viola bingung.
"Ada apa? apa saya salah?" Tanya Viola ragu.
Shin menggeleng, senyumannya mengembang di bibir manisnya. Dia berjalan mendekat ke arah Viola. Memeluk Viola secara tiba-tiba.
"Yya, ini kantor," protes Viola lirih.
"Nggak ada yang liat juga," ujar Shin tersenyum.
"Shin," gumam Viola lirih.
"Hmm," jawab Shin singkat, "Ini sangat nyaman." Shin mempererat pelukannya.
"Shin," Viola mencoba melepaskan pelukan Shin.
Shin tersenyum dan melepaskan pelukannya.
"Kenapa?" tanya Shin.
"Ih, ini kantor bukan rumah," protes Viola. Tangannya meraih dasi Shin yang sudah sedikit bergeser dari tempatnya, lalu merapikannya.
"Terima kasih," ucap Shin tersenyum ke arah Viola.
°°
Viola sudah menyiapkan semua yang Shin butuhkan, dari mulai dokumen penting yang akan dibawa bosnya untuk pertemuan dengan investor asing.
Ponsel Viola berdering, nama Braga muncul di layar berbentuk kotak itu.
"Braga? ada apa?" tanya Viola lirih, menghentikan aktivitasnya yang tengah memasukan dokumen-dokumen itu ke dalam sebuah map.
"Halo, Ga," jawab Viola ragu.
"Kemana aja sih, susah banget di telpon." Suara Braga terdengar panik di seberang.
"Iya, ponselnya aku tinggal di meja, kenapa?" tanya Viola bingung.
"Tante Nada___"
"Kenapa? Bunda kenapa?" Viola langsung panik.
"Tante masuk rumah sakit lagi, ini aku lagi jemput kamu," ujar Braga.
"Oke, oke, aku akan minta izin dulu," ucap Viola panik.
Setelah panggilan berakhir, Viola segera membereskan semua dokumen itu, dan masuk ke ruangan Shin.
Shin tengah sibuk dengan laptop di depannya.
"Shin," panggil Viola panik.
"Ada apa?" tanya Shin bingung, melihat Viola panik.
"Apa boleh aku izin pulang? Bunda masuk rumah sakit," ucap Viola hampir menangis.
"Iya, iya," Shin pun terlihat khawatir.
Viola terlihat sangat panik, dia meletakan map di atas meja Shin dengan tangan bergetar. Shin meraih tangan Viola.
"Semuanya bakalan baik-baik aja, nggak perlu panik," ucap Shin menenangkan.
Viola mengangguk.
"Aku antar," Shin langsung beranjak dari duduknya.
"Nggak, Braga udah jemput aku," jawab Viola cepat.
"Heh? Braga?" tanya Shin lirih.
Raut wajahnya terlihat kaget dan juga kecewa.