Viola menemani Shin sehari penuh, untuk bertemu dengan klien.
Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB. Shin dan Viola sudah kembali ke kantor.
"Aku antar pulang," ucap Shin saat di dalam elevator.
"Tidak perlu Pak, saya bisa pulang sendiri," tolak Viola dengan sopan.
"Yya!! kalo kita sedang berdua panggil aja aku Shin," protes Shin.
"Tapi, ini di kantor," jawab Viola.
Pintu elevator terbuka, Shin segera keluar diikuti oleh Viola.
"Cepat bereskan barang-barangmu, aku lapar, aku ingin makan," ucap Shin tanpa menoleh ke arah Viola, dia masuk begitu saja ke dalam ruangannya.
Setelah hampir sepuluh menit, Shin keluar dari ruangannya, berdiri tepat di depan meja Viola.
Viola yang tengah sibuk memasukkan barangnya ke dalam tas menoleh, mendapati Shin tengah tersenyum ke arahnya.
"Yakin? mau nganter aku pulang?" tanya Viola memastikan.
Shin mengangguk cepat, "Temani aku makan," ucap Shin.
__
Shin melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Mencari restauran di sekitaran jalanan kantor.
"Mau makan apa?" tanya Shin.
"Terserah kamu aja," jawab Viola bingung.
"Kok terserah aku? berarti kalo aku nanya, mau jadi pacar aku? jawabannya terserah aku dong," ledek Shin.
Mendengar itu Viola langsung gugup.
"Apaan sih," ucap Viola tersipu. Shin tersenyum.
__
Braga tengah fokus pada lembaran soal di depannya. Siswa yang duduk tepat di hadapannya tampak sangat cuek dan juga terlihat kesal memandang Braga.
"Ryan, kamu bisa kan? memperbaiki nilai kamu sedikit saja, masa nilai seperti ini kamu banggain," protes Braga pada siswa di depannya.
Siswa bernama Ryan itu mendengus kesal.
"Nggak Bapak, Nggak Kakak, semuanya sama!" jawab Ryan kesal.
"Kamu perbaiki sikap kamu, berhenti mengganggu teman-teman kamu," Braga menasehati.
"Iya," jawab Ryan singkat.
Braga sangat mengenal Ryan. Siswa pembangkang yang sering membuat keributan di sekolah. Itu sebabnya Ryan sering berhadapan dengannya di ruang kesiswaan. Anehnya, Braga selalu memperhatikan Ryan dan juga sangat menyayanginya.
"Nggak bosen? ketemu Bapak terus di sekolah?" tanya Braga, "Apa ada masalah lain yang membuatmu seperti ini?"
Lagi-lagi Ryan mendengus, "Pak, saya harus pulang. Ini bukan jam sekolah lagi."
"Kapan kamu akan bawa orang tuamu ke sekolah?" tanya Braga sebelum mengakhiri pembicaraaannya dengan Ryan.
"Mereka sibuk, nggak punya waktu buat ngadepin hal kecil kaya gini," jawab Ryan ketus.
"Tapi, ini nilai kamu, kamu sudah kelas tiga, bagaimana nanti kalau nggak lulus ujian?"
"Pak, doain buat muridnya tuh yang baik-baik, ini malah doain nggak lulus," protes Ryan.
Braga hanya menghela napas, menggelengkan kepala, karena sikap Ryan.
Ryan beranjak dari tempat duduknya, wajahnya terlihat sangat kesal.
Braga menggelengkan kepalanya pelan, lalu mulai memasukan lembaran kertas ke dalam tasnya.
"Ah, boleh nggak? kalo malam ini aku menginap di tempat Bapak?" ujar Ryan menoleh kembali ke arah Braga. Braga pun mendongak dan tersenyum.
"Kenapa?"
"Aishh," gerutu Ryan tampak malu. Dia kembali melangkahkan kakinya.
"Masih hapal kan apartemenku? nggak perlu dijemput?" ucap Braga.
Tanpa menoleh Ryan memberi tanda 'Ok' dengan jarinya. Braga tersenyum.
°°
Viola mulai terbiasa selalu berada di samping Shin. Keduanya juga terbilang sudah sangat dekat.
Akhir pekan ini keduanya harus ke daerah Jogjakarta. Shin harus melihat cabang pusat pembelanjaan Star Mall di sana.
"Biar aku yang urus semua keperluan Bapak untuk ke Jogja nanti," ucap Viola yang sudah bersiap untuk pulang. Shin yang masih sibuk dibalik mejanya menoleh dan tersenyum.
"Kamu cuma perlu izin ke Ibu kamu untuk ke Jogja, karena kita di sana akan menghabiskan waktu kurang lebih tiga hari," ujar Shin lalu melepas kacamata bacanya.
Viola tersenyum, "Baik Pak," jawab Viola, "Apa saya sudah boleh pulang?" tanya Viola ragu.
Shin mengangguk dan tersenyum, "Maaf, aku tak bisa mengantarkanmu hari ini," ucap Shin.
"Tidak, tidak apa-apa, aku akan pulang dengan menggunakan bis," jawab Viola.
Setelah berpamit pulang, Viola pun keluar dari ruangan Shin. Berjalan menuju halte. Sore itu jalanan cukup ramai, karena memang waktunya jam pulang kantor.
___
Shin dan Viola menyeret koper masing-masing di bandara. Kedatangannya di Kota Jogja sudah disambut oleh supir yang memang sudah disiapkan oleh pihak perusahaan cabang Jogja.
"Pak Shin?" tanya laki-laki paruh baya dengan menggunakan logat asli orang Jogja.
"Betul," jawab Shin lalu tersenyum.
"Alhamdulillah, mari Pak, saya antar ke hotel," ujar laki-laki yang biasa di sapa Pak Kasman.
Viola dan Shin mengikuti langkah Kasman.
Setelah perjalanan kurang dari dua puluh menit menuju hotel, akhirnya Shin dan Viola sampai. Jalanan kota yang tidak terlalu macet membuat mereka cepat sampai.
° Hotel New Shapir Jogjakarta.
Shin memilih hotel berbintang empat ini, untuk dijadikannya tempat menginap selama tiga hari. Menurutnya hotel ini sangat dekat dengan Star Mall yang letaknya tepat berada di samping hotel. Juga letak hotel yang strategis membuat Shin menetapkan hotel ini sebagai tempat peristirahatan selama di Jogja.
"Pak, ini kunci mobilnya," ujar Kasman memberikan sebuah kunci mobil yang akan digunakan Shin selama di Jogja, "Tugas saya selesai hari ini, selamat beristirahat Pak. Kalau Bapak mau minta tolong, tinggal kabari saja Pak, kartu nama saya ada di mobil," ucap Kasman sopan.
"Baik Pak, terima kasih ya Pak," jawab Shin. Viola pun ikut berterima kasih dengan sopan.
Setelah Shin melakukan check in, seorang pelayan mengantar mereka menuju kamarnya.
Tepat berada di lantai lima, dua kamar yang sudah dipesan Shin yang letaknya berdampingan.
"Istirahat dulu, nanti aku akan memesan makanan untuk makan malam," ucap Shin sebelum membuka pintu kamar hotelnya.
Viola mengangguk mengerti.
Viola masuk ke dalam kamar hotelnya, terlihat sangat mewah dan juga bersih. Viola membuka gorden yang cukup besar. Dari dalam kamarnya dia bisa melihat view kolam renang yang berada di bawah dan juga langit Jogja yang sore itu terlihat sangat indah.
"Wah, cantik sekali," ucap Viola mengagumi keindahan yang tertangkap oleh matanya.
Setelah mandi, Viola langsung membuka tas yang berisikan laptop, dan berkas-berkas. Viola mulai menyusun file yang akan dibutuhkan Shin untuk bertemu dengan mitra bisnisnya.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 18.00 WIB, dua jam sudah Viola menghirup udara Kota Jogja.
Lagi-lagi Viola mengubah posisi duduknya agar merasa nyaman. Matanya masih menatap layar laptop dengan fokus.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, membuat Viola menoleh ke arah pintu. Dia bergegas membuka pintu. Shin sudah berdiri di depannya, setelah Viola membuka pintu kamar hotelnya.
Shin tersenyum, mengangkat sebuah kantong plastik berisikan makanan di dalamnya.
"Sedang apa?" tanya Shin mengikuti langkah Viola.
"Sedang menyusun agenda untuk besok," Viola kembali duduk di tempat semula.
"Makan dulu," ujar Shin.
"Sebentar lagi selesai," ucap Viola.
"Nggak, makan dulu, itu bisa nanti. Lagipula pertemuannya juga masih besok," protes Shin.
"Tapi." Shin menarik lengan Viola agar duduk di sampingnya. Membuka kotak makan yang ternyata berisi makanan khas negara sakura.
Setelah menikmati makanan yang sudah dibeli oleh Shin. Keduanya duduk menghadap pemandangan malam melalui jendela kaca kamar Viola.
"Vi," panggil Shin. Matanya masih menatap langit malam Kota Jogja.
"Hmm," jawab Viola yang akhirnya menoleh ke arahnya.
Shin tersenyum, lalu menatap mata Viola.
"Apa?" tanya Viola lagi.
"Kamu cantik," puji Shin.
"Ih," jawab Viola sembari tersenyum.
"Mau nggak___"
"Mau apa?" tanya Viola segera. jantungnya berdetak sangat kencang. Nada bicara Shin yang tak biasa membuatnya gugup.
Shin tersenyum melihat Viola salah tingkah.
"Mau terus di samping aku," ucap Shin.
Viola tersenyum, "Kan kamu bilang, tugas sekretaris itu harus selalu ada di samping bosnya," jawab Viola, "Kamu nggak mau mecat aku kan?" lanjut Viola.
Shin tersenyum, "Mana mungkin aku mecat kamu, sedangkan hasrat ingin selalu sama kamu itu terlalu besar," ucap Shin.
Viola tersenyum, "Kamu ngomong apa sih," Viola sudah sangat gugup. Apalagi tatapan Shin yang sudah membuatnya ingin sekali berteriak kegirangan. Mungkin jika lambang hati bisa dilihat, akan terlihat keluar dari kepala Viola dan akan disaksikan langsung oleh Shin.
"Udah, kamu mendingan balik ke kamar, kamu harus istirahat," ucap Viola kembali menatap luar jendela.
"Viola," panggil Shin.
"Hmm," jawab Viola tanpa menoleh. Pipi Viola merona.
"Viola Melodyna," panggil Shin lebih lengkap.
"Apa?" Viola menoleh, tanpa basa-basi Shin langsung memangsa bibir Viola.
Shin mencium Viola dengan penuh gairah. Hasrat yang selama ini Ia tahan kini dikeluarkan hari ini. Saat tidak ada seorang pun yang mengganggu. Awalnya Viola kaget, matanya membulat, tetapi setelah merasakan ciuman hangat dari Shin membuat Viola merasa menikmatinya. Perlahan menutup matanya untuk lebih menikmati lagi. Shin terus menyerang bibir Viola, memainkannya secara lembut.
Setelah hampir lima menit mereka berciuman, perlahan Shin melepaskan ciuman itu. menatap Viola yang sudah sangat merona. Shin tersenyum dan memeluk Viola.
"Aku mencintaimu Viola," ucap Shin mempererat pelukannya.
Air mata Viola menetes, dan mengangguk perlahan.
"Aku juga," jawab Viola.
Shin menatap Viola, "Kenapa nangis?" tanya Shin lembut.
"Aku bahagia Shin," jawab Viola lirih, Shin tersenyum dan kembali mengecup bibir Viola.
°°
Shin bertemu dengan mitra bisnisnya, yang bertugas di Star Mall Jogjakatra dan juga merupakan seorang direktur. Shin berbincang sangat banyak, Viola bertugas menulis semua hal yang diperlukan cabang mall, dan juga project yang sudah direncanakan untuk pembangunan sebuah balai pengobatan di daerah-daerah kecil Kota Jogjakarta.
Waktu menunjukan pukul 15.30 WIB, Shin berpamitan. Shin juga mendapat undangan makan malam dan dia menyetujuinya.
Shin kembali ke hotel, untuk bersiap-siap memenuhi undangan makan malam dari sang direktur mall.
Shin sama sekali tak mau melepas tangan Viola saat berjalan menuju kamar hotel mereka.
"Yya! lepasin," protes Viola manja.
Shin menggeleng cepat, "Nggak mau," jawabnya lebih manja lagi.
Viola tersenyum, "Aku harus mandi, bersiap untuk acara makan malam nanti," jawab Viola.
Shin lagi-lagi menggeleng.
"Shin," protes Viola.
Setelah Shin benar-benar tak mau jauh dengan Viola. Shin pun diizinkan untuk tetap di kamar Viola.
"Aku mau mandi, jangan macem-macem," ucap Viola tegas. Shin tersenyum.
"Tergantung," ledek Shin.
"Shin!!" protes Viola.
"Iya, iya," jawab Shin.
Hampir tiga puluh menit Viola menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi. Dia keluar dengan sudah memakai sebuah dress selutut berwarna biru muda, dan handuk yang melilit di kepalanya.
Viola kaget setelah keluar mendapati Shin berdiri tepat di depan pintu kamar mandinya.
"Yya!" protes Viola.
Shin tersenyum, langsung berhambur memeluk Viola.
"Lama banget," ucap Shin manja.
"Cepetan mandi, kita akan terlambat," ujar Viola melepaskan pelukan Shin.
Shin mengerucutkan bibirnya, menuju kamar mandi yang baru saja dipakai Viola.
°°
Acara makan malam berjalan lancar, Shin mendatangi rumah direktur yang mempunyai nama lengkap Adi Chandra Sucipto. Mengunjungi kediamannya yang berada di perumahan kawasan elit Kota Jogja tepatnya di Green Hills Residence.
Perumahan elit yang berada di Kota Sleman Jogjakarta.
Setelah berbincang cukup lama, Shin berpamitan untuk pulang, keluarga Adi Chandra terlihat sangat harmonis, dan juga orang-orangnya menyambut Shin dan Viola dengan sangat ramah.
__
Lagi dan Lagi, Shin tak mau melepaskan tangan Viola selama perjalanan menuju hotel.
"Shin, kamu lagi nyetir, bahaya," protes Viola.
"Lebih bahaya, kalo tangan ini digandeng sama laki-laki lain," jawab Shin sekenanya.
Viola menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di hotel, keduanya menuju kamar, Shin benar-benar tak mau berpisah dengan Viola.
Benar kata orang, semua hal yang berbau cinta terlihat sangat manis, sampai tak rela untuk berpisah dalam waktu sedetikpun.
"Shin, kita harus istirahat," ucap Viola saat Shin tak mau melepas tangannya.
Shin menggeleng.
"Terus?"
"Mau aku yang di kamar kamu? atau kamu yang di kamar aku?"
"Shin," jawab Viola.
"Cepat, aku udah capek, aku mau tidur," ucap Shin manja.
"Shin," protes Viola.
Tanpa meminta persetujuan Viola, Shin langsung menarik lengan Viola menuju kamarnya.