ENAM BELAS

1027 Kata
Viola mengantarkan Nada ke kamarnya untuk beristirahat. Shin dan Braga duduk berdua di ruang tamu. Tiba-tiba sosok Cello muncul, mengerucutkan bibirnya sembari berjalan ke arah Braga yang tengah sibuk dengan ponselnya.   "Kakak," ucapnya manja.   "Oh, baru bangun tidur?" tanya Braga merapikan rambut Cello yang berantakan.   Cello mengangguk, matanya mengarah pada Shin yang juga sibuk dengan ponselnya.   Anak berumur sebelas tahun itu pun penasaran dengan orang asing di depannya.   "Kakak siapa?" tanya Cello penasaran.   "Ah, aku? aku Shin, teman Kak Viola," jawab Shin memperkenalkan diri, "Pasti kamu, Cello."   Cello mengangguk, "Pasti Kak Vio membicarakanku," gerutu Cello.   Shin tersenyum.   "Kakak juga temenan sama Kak Braga?" tanya Cello lagi kepada Shin.   "Tentu," jawab Shin singkat.   "Kak Braga pantes nggak sama...."   Tiba-tiba ucapan Cello terhenti, ketika Viola datang yang dengan sengaja menghentikan ucapan Cello agar terdiam.   "Dek, anak kecil nggak boleh gabung sama orang dewasa. Masuk!" perintah Viola.   "Ih, bahkan aku belum bicara banyak," gerutu Cello menggemaskan. Membuat Shin dan Braga tersenyum melihatnya.   Setelah Cello masuk kembali dan meninggalkan ruang tamu, Viola tersenyum kepada kedua teman SMAnya.   "Vi, aku pamit pulang dulu," ucap Shin tiba-tiba.   "Lho, kok pulang? kenapa?" Viola bingung.   "Ada urusan, biar cepat kelar," Shin beralasan.   Shin berpikir bahwa kehadirannya di rumah Viola membuatnya ingin segera pergi karena Braga terlihat sangat tidak nyaman terhadapnya. Bahkan pertemuan setelah sepuluh tahun itu masih sama, keduanya memiliki hubungan yang kurang baik karena mereka menyimpan perasaan pada Viola.   °°° Viola berjalan menuju elevator di perusahaannya. Ia mempercepat langkahnya, karena memang hari ini dia sedikit terlambat.   Shin sudah berdiri menunggu pintu elevator terbuka, setelah pintu terbuka Shin pun masuk dengan santainya. Matanya menyelidik ketika sosok wanita yang sangat Ia kenal tengah berlari ke arahnya mengejar pintu elevator yang akan tertutup. Dengan cepat Shin menekan tombol agar pintu kembali terbuka.   Viola menghela napas, matanya langsung menangkap sosok Shin yang sudah berada di dalam.   "Terima kasih," ucap Viola terengah.   Shin tersenyum.   Setelah beberapa detik keduanya hening, Shin membuka pembicaraan.   "Kesiangan?" tanya Shin.   Viola yang berdiri tepat di depan Shin mengangguk cepat. Shin lagi-lagi tersenyum melihat Viola.   "Mau setiap hari aku jemput?" tanya Shin, berhasil membuat Viola menoleh ke arahnya.   Teng___   Pintu elevator terbuka di lantai lima. Di mana Shin harus keluar karena ruangannya berada di sana.   "Kalo nggak ada jawaban, aku anggap kamu setuju," ucap Shin tersenyum, lalu keluar meninggalkan Viola yang masih terdiam.   Lagi-lagi Shin membuat Viola merona, entah apa yang membuat semua perkataan Shin membuat Viola salah tingkah.   Viola tengah memilah file yang berada di ruangan bosnya. Kiar juga berada di sana, memeriksa satu-persatu file yang diberikan Viola.   "Vi," panggil Kiar.   Viola yang tengah sibuk dengan tumpukan file di depannya menoleh ke arah bosnya.   "Iya Pak, ada apa?"   "Apa Shin sudah mengatakannya?" tanya Kiar.   "Mengatakan apa?" Viola bingung, "Pak Shin Heraldyne?" tanya Viola memastikan bahwa yang di maksud Kiar adalah Shin.   Kiar mengangguk, "Ah, nanti saja biar dia yang mengatakannya."   Pikiran Viola terbang, dia memikirkan apa yang akan dikatakan Shin kepadanya.   "Oh ya, aku akan berangkat lusa ini, Ayah memintaku ke sana lebih awal," ucap Kiar.   "Benarkah?" Viola mengangguk mengerti. Raut wajahnya sedikit kecewa, karena dia tau sebentar lagi pekerjaannya akan hilang. Seolah Kiar mengetahui kekecewaan Viola, dia tersenyum melihat sekretarisnya.   "Tenang aja, kamu masih bisa bekerja di perusahaan ini," ucap Kiar.   Viola tersenyum walaupun sedikit terpaksa. Ia merasa Kiar hanya membuatnya tenang.   __ Di kantin perusahaan. Viola duduk seorang diri, menikmati makanan perusahaan untuk menghilangkan rasa laparnya. Biasanya Ia habiskan waktu makan siang bersama Kiar di luar perusahaan sembari bertemu kliennya.   Tiba-tiba sosok Shin duduk di depan Viola tanpa aba-aba. Membuat Viola terkejut.   "Kenapa duduk di sini?" tanya Viola bingung. Kini mata Viola berkeliling entah apa yang dicarinya.   Shin tersenyum, "Kenapa? nggak boleh? lagipula di sini kosong bukan?" tanya Shin.   "Iya. Tapi, apa kata orang nanti, seorang bos makan dengan karyawannya," ucap Viola sedikit lirih.   Shin tersenyum, "Bukan karyawannya, tapi calon sekretaris pribadinya," ucap Shin membenarkan.   "Heh," Viola kaget, "Sekretaris pribadi?"   Shin mengangguk cepat, "Gimana? mau jadi sekretaris pribadiku?"   "Shin, jangan bercanda, aku nggak suka."   "Kok bercanda, ini serius. Kau menolak pindah ke luar negeri. Jadi, kamu nggak punya pekerjaan, bukan?" tanya Shin, "Aku ingin kau menjadi sekretaris pribadiku? Bagaimana?" tanya Shin kembali menanyakannya.   "Tapi___"   "Kau membutuhkan pekerjaan ini."   "Benar. Tapi, apa aku bisa? menjadi sekretaris pribadimu?" tanya Viola.   Shin tersenyum, "Kau hanya harus tetap di sampingku," ujar Shin berbisik.   "Heh," Viola kaget, Ia berpikir Shin tengah menggodanya.   "Maksudku," Shin gelagapan mencari jawaban, "Ah, tugas sekretaris kan memang harus selalu di samping bosnya," ucap Shin salah tingkah.   Viola tersenyum. Dibalas senyum itu oleh Shin.   "Bagaimana? mau kan?" tanya Shin lagi untuk meminta jawaban Viola. Viola yang sedikit ragu akhirnya menjawab dengan anggukan kepala tanda setuju.   "Oke, kau bisa mulai memindahkan barang-barangmu ke ruanganku, mengerti?" ucap Shin.   "Iya," jawab Viola lalu tersenyum.   °°° Tepat di hari ini adalah hari pertama Viola bekerja sebagai sekretaris pribadi Shin. Viola berangkat sangat pagi. Mengatur napasnya agar tak terlalu gugup.   Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB, Shin muncul dari balik pintu elevator, berjalan menuju ruangannya. Ketika matanya melihat sosok Viola, senyum Shin mengembang.   Viola membungkukkan badannya untuk memberi salam pada Shin. Mata Shin celingukan, lalu kembali menatap Viola.   "Tak usah seperti itu, bersikaplah biasa," bisik Shin menggoda Viola. Viola hanya tersenyum.   "Ke ruanganku sebentar," ucap Shin lalu melenggang masuk ke dalam ruangannya.   Viola mengikuti langkah Shin masuk ke dalam ruangannya.   "Ada apa Pak?" tanya Viola.   "Jadwalku hari ini," jawab Shin, berbalik pada Viola. Viola terlihat sangat gugup, membuat Shin tersenyum.   "Ah, sebentar," Viola langsung bergegas untuk keluar, kesempatan dirinya untuk bisa pergi dari Shin agar tak terlihat bodoh di depan Shin. Wajah Viola memerah seperti tomat, bahkan cara berbicaranya yang gugup terlihat jelas bahwa dia salah tingkah.   Shin segera menarik lengan Viola, seraya berkata, "Jam sepuluh ada meeting dengan bagian marketing, jam dua belas akan ada makan siang bersama direktur Star Mall, dan pukul tiga sore harus melihat lokasi yang akan dijadikan rumah sakit," Shin mengatakan semua jadwalnya hari ini.   Viola sangat gugup kala itu, Shin tersenyum.   "Lalu, kenapa Bapak memanggilku ke sini?" tanya Viola gugup.   "Aku ingin melihatmu pagi ini," jawab Shin berhasil membuat Viola tersipu.   "Terima kasih, sudah mau berada di dekatku," ucap Shin lirih.   Viola tersipu, pandangannya tak berani menatap mata Shin, dia mengangguk sebagai jawaban.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN