LIMA BELAS

1652 Kata
Braga berkali-kali melambaikan tangan tepat di depan wajah Viola, menyadarkan Viola bahwa di depannya ada orang yang duduk menemaninya.   "Yya!!" protes Braga sedikit kesal, "Ada masalah?" tanyanya penasaran.   Pandangan Viola beralih ke arah Braga, mengangguk ragu lalu menyeruput minuman di depannya.   Braga menjemput Viola sore tadi. Dia juga yang mengajak Viola ke cafe langganannya.   "Kayaknya gue harus nyari kerjaan lain Ga," ucap Viola datar.   "Kerjaan lain? kenapa? udah nggak betah? apa jadi sekretaris terlalu berat?" tanya Braga saking penasarannya.   Viola menggeleng pelan, "Pak Kiar bakalan ditugasin ke luar negeri," jawab Viola.   "Terus?"   "Ya gue nggak mungkin dong ikut ke sana, secara gue nggak bisa ninggalin Bunda sama Cello," ucap Viola tegas.   Braga mengangguk, "Benar," Braga setuju dengan ucapan Viola.   "Ada aja, masalah di hidup gue," keluh Viola.   "Nggak boleh gitu, Tuhan ngasih lo masalah, karena Tuhan sayang sama lo, karena Tuhan percaya lo bisa ngelewatinnya," nasihat Braga.   Viola tersenyum tipis, "Lo tuh guru Bahasa Inggris, kenapa bertindak seperti guru agama?"   "Ya lagian lo, aneh-aneh. Ngeluh di depan gue, yang tau bakalan gue ceramahin," protes Braga.   "Iya bawel," jawab Viola lalu tersenyum.   Setelah menghabiskan minuman dan berbincang di cafe. Keduanya meninggalkan cafe dan menuju rumah Viola.   °° Shin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, matanya menatap langit-langit kamar apartemen. Satu tangannya digunakan untuk bantalan kepala walaupun dia sudah menggunakan bantal di bawah kepalanya.   Bibirnya tiba-tiba tersenyum, seperti teringat sesuatu. Shin memikirkan saat dirinya mencium Viola, dia sangat ingat bagaimana gugupnya dia waktu itu, dan juga Viola yang salah tingkah.   "Viola Melodyna," ucap Shin lirih, "Apa yang sedang kau lakukan malam ini? apa kau setuju untuk ikut dengan Kak Kiar pindah?" lanjutnya.   Shin meraih ponselnya yang berada di bawah lampu tidur di meja samping tempat tidurnya.   Mencari nama Viola dalam daftar kontak. Tersenyum saat melihat nama Viola di layar ponselnya.   "Sedang apa kau?" tanyanya, "Apa boleh aku menelponmu malam ini?"   Shin ragu, ponselnya kembali diletakkan di sampingnya. Sepersekian detik kembali mengambilnya dan melihat nama Viola.   Tut...tut...tut.   Panggilan tersambung.   "Halo," suara Viola menggema di telinga Shin melalui speaker ponselnya.   "Oh, sedang apa?" tanya Shin ragu.   "Heh, aku?" Viola bingung. Pertama kalinya Shin menelponnya setelah sepuluh tahun. Biasanya Viola hanya menerima pesan dari Shin, itu juga karena pekerjaan atau karena kakaknya, Kiar.   "Apa sudah tidur?" tanya Shin pelan.   "Belum, kau?"   "Aku, mmm... belum," jawab Shin gugup.   Viola tersenyum, suara Shin terdengar sangat kentara kalau Ia sedang gugup.   "Ada apa? malam-malam begini menelponku?" tanya Viola.   "Ah, mm.. masalah Kak Kiar, apa kau menyetujuinya untuk ikut pindah ke luar negeri?" tanya Shin.   "Tidak, aku tidak bisa ikut pindah, karena kondisi Ibuku," jawab Viola.   "Syukurlah," jawab Shin spontan.   "Heh," Viola merasa ada yang aneh dengan jawaban Shin, tetapi tiba-tiba dia tersenyum karena merasa Shin tak menginginkannya ikut pindah ke luar negeri.   "Tidak, keputusan yang bagus kau tak meninggalkan Indonesia. Benar, kau harus menjaga Ibumu," Shin menutupi kegugupannya dengan berbicara fakta.   Viola tersenyum, "Iya. Kau sedang apa?" tanya Viola.   "Aku? mmm..." Shin ragu untuk menjawabnya, "Aku terus memikirkanmu," jawabnya tegas.   "Memikirkanku? kenapa?"   "Aku takut kau setuju pindah ke luar negeri," jawab Shin.   "Kamu lucu," ucap Viola terkekeh.   "Lucu? kenapa?" Shin bingung.   "Ngapain kamu mikirin hal yang seharusnya nggak kamu pikirin," ucap Viola lalu tersenyum.   "Karena itu menyangkut kamu," jawab Shin tegas.   "Heh," Viola sadar dengan ucapan Shin. Senyum mengembang di bibir Viola tanpa Shin ketahui.   °°° Kiar tengah sibuk dengan komputer di meja kerjanya, entah apa yang tengah Ia kerjakan. Shin masuk tanpa mengetuk pintu, membuat mata Kiar beralih dari layar monitor di depannya.   "Oh, ada apa?" tanya Kiar.   "Sedang apa?" alih-alih menjawab Shin malah penasaran dengan apa yang tengah dilakukan Kiar.   "Hanya sedang melihat hasil penjualan perusahaan di tahun ini," jawab Kiar.   Kiar berpindah duduk di depan Shin yang sudah mengambil posisi duduk di sofa ruangan itu.   "Jadi, beneran bakalan pergi?" tanya Shin memastikan.   Kiar mengangguk pasti.   "Hubungan kita memang nggak dekat. Tapi, kenapa berbeda setiap kita berjauhan aku merasa akan kesepian," ucap Shin.   Kiar tersenyum, "Makanya cari pasangan biar nggak kesepian," ucap Kiar sekenanya.   "Sebentar lagi, tunggu aja," jawab Shin tersenyum.   "Beneran? siapa? udah ada calon pasangannya?" tanya Kiar beruntun, "Kayaknya aku tau siapa orangnya," lanjut Kiar.   "Oh ya, semua tugas Kakak, dialihkan ke aku? apa aku bisa mengerjakannya?"   "Pasti bisa," jawab Kiar pasti.   "Tapi, aku malas harus sering bertemu Ayah," keluh Shin.   Kiar tersenyum, "Yya!! Ayah nggak seburuk yang kamu kira kok, dia cuma tegas. Dia nggak mau anak-anaknya kalah dalam persaingan bisnis. Dia mau kita tetap menjalankan perusahaan ini tanpa campur tangan pihak luar, dia mau Star Group maju dengan kerja keras kita."   "Ya, ya, ya, pengikutnya ayah gini nih, belain terus," protes Shin.   "Ah, kau juga harus mencari sekretaris pribadi, karena kau pasti akan sangat sibuk nanti," Kiar berpendapat.   "Ah, benar. Aku harus mencari sekretaris pribadi," Shin mendengus lemas.   "Ah," seperti mendapat ide, Kiar mulai memandang adiknya dengan penuh semangat.   "Apa?" Shin penasaran.   "Gimana kalo Viola aja. Kerja dia selama ini sangat bagus, juga sangat cekatan. Bahkan, dia sangat penurut. Bagaimana?" tanya Kiar, "Terlebih kalian sudah saling kenal dan dekat, pasti Viola menyetujuinya," ucap Kiar bersemangat.   "Viola?" tanya Shin ragu. Dia menyembunyikan senyum yang ingin sekali dikeluarkannya. Benar, Shin menunggu Kiar merekomendasikan Viola sebagai sekretaris pribadinya.   "Iya, Viola. Dia nggak bisa ikut pindah ke luar negri, aku juga janji ke dia bakal mencarikan pekerjaan di sini tanpa harus dipecat," ucap Kiar pasti.   "Oke, akan aku coba," jawab Shin.   "Benar, kerjaan dia selalu beres, kau beruntung memiliki sekretaris pribadi seperti dia."   Shin mengangguk tersenyum.   Setelah berbincang lama, Shin pun pamit untuk kembali keruangannya. Dia keluar dan mendapati Viola tengah sibuk dengan komputer di depannya, Shin tersenyum.   Sebelum Shin memasuki ruangan Kiar, dia tak mendapati Viola di mejanya.   "Hai," sapa Shin ragu.   Viola menoleh, dan tersenyum, "Ternyata kamu yang ada di dalam, aku pikir ada tamu," ucap Viola.   "Emang kenapa kalo aku? kamu mau ikut nimbrung?"   "Ya enggak lah," Viola gugup. Shin selalu membuatnya gugup dengan semua ucapannya.   "Oh ya, nanti pulang sama siapa?" tanya Shin.   Viola menggeleng, "Setiap hari juga sendiri, kalo Braga nggak jemput," jawab Viola.   "Aku anterin ya," Shin menawarkan.   "Heh," Viola kaget, Ia ingin tersenyum, tetapi menahannya.   "Aku tunggu pukul lima sore. Nggak pake telat, di parkiran," ucap Shin lalu berjalan meninggalkan Viola dan segala kegugupannya.   °° Setelah waktu menunjukan pukul 16.30, Viola membereskan meja kerjanya, sebelum Ia melaporkan pekerjaannya hari ini kepada Kiar.   Tok..tok..tok.   Viola mengetuk pintu ruangan Kiar, dan membukanya walaupun Kiar belum menjawabnya. Mendapati Kiar tengah sibuk dengan telpon genggamnya.   Kiar menoleh ketika Viola masuk ruangannya.   "Sudah mau pulang?" tanya Kiar, meletakkan ponselnya di meja.   "Belum," Viola tersenyum, menyodorkan beberapa file yang harus Kiar tanda tangani.   "Ini dokumen yang harus Bapak tanda tangani," ucap Viola.   Kiar mengangguk, tangan kirinya mengambil bolpoin yang masih berada di tempatnya.   Setelah selesai, Kiar tersenyum dan memberikan kembali dokumen yang sudah ditanda tangani.   "Kalau begitu, aku bisa pulang sekarang Pak?" tanya Viola.   "Oke, hati-hati di jalan," ucap Kiar tersenyum.   Sebelum Viola menuju tempat parkir, dia menuju ruangan tim marketing, untuk memberikan dokumen yang baru saja ditanda tangani oleh Kiar.   Viola melirik jam tangannya, lalu bergegas menuju elevator. Jalannya sedikit cepat, tapi tiba-tiba berhenti.   "Tunggu! kenapa gue semangat banget?" tanyanya lirih, Viola menoleh ke kanan dan kirinya, memastikan tak ada orang yang melihatnya. Matanya membulat ketika sosok Shin tengah memperhatikannya dengan tersenyum sangat manis.   "Aishh," keluh Viola menahan malu. Viola tersenyum. Shin berjalan ke arah Viola.   "Kenapa? kok tiba-tiba berhenti?" tanya Shin lalu berjalan, keduanya berjalan bersama menuju elevator.   Viola sangat malu, seakan dia tertangkap basah oleh Shin.   ___ Shin mengatar Viola pulang. lagi-lagi mobilnya berhenti, dan ini yang kedua kalinya. Pertama, Shin menghentikan mobilnya di depan toko kue, dan dia membawa sekotak kue. Saat Viola bertanya, Shin hanya menjawab dengan senyuman. Kedua, kini Shin menghentikan mobilnya di depan toko buah.   "Mau apa lagi?" tanya Viola.   "Kepo, tunggu!"   Shin keluar dan Viola melihat dengan jelas Shin tengah memilih beberapa buah yang mungkin akan dibelinya.   Shin membawa sebuah parsel buah yang tak terlalu besar.   "Sebenernya buat apa sih? mau jengukin orang sakit?" tanya Viola makin penasaran.   "Emang cuma jengukin orang sakit, yang harus bawa buah sama kue?" jawab Shin kembali melajukan mobilnya.   "Ih," gerutu Viola sedikit kesal, karena Ia tak puas dengan jawaban Shin.   Jalanan Kota Jakarta memang tak kenal sepi, selalu ada saja yang membuat macet. Shin harus menghentikan mobilnya ketika  sebuah truk besar sedang memutar arah di depannya.   "Yya!! kenapa tiba-tiba pengen ngaterin aku pulang?" tanya Viola.   "Kenapa? nggak mau?"   "Bukan gitu, tapi kamu juga kan sibuk," ucap Viola.   "Sibuk kan di kantor, waktunya pulang ya pulang aja," jawab Shin sekenanya.   "Ih," gerutu Viola.   Shin tersenyum, "Kenapa sih, emang nggak boleh, kalo calon nganterin pulang?"   "Calon? calon apa?" Viola bingung.   "Calon pacar," jawab Shin cepat.   Mendengar itu, Viola tersenyum. Terlihat sangat bahagia, tetapi tidak meluapkannya. Dia malu, wajahnya merona bahkan salah tingkah.   Shin tersenyum.   Sesampainya di rumah Viola, Shin memarkirkan mobilnya di luar gerbang rumah Viola.   "Boleh mampir?" tanya Shin tiba-tiba, membuat Viola yang sudah akan membuka pintu mobil mengurungkan niatnya.   "Heh, serius?" tanya Viola tak percaya.   Shin mengangguk pasti, " Cukup kan? cuma bawa kue sama buah," tanya Shin ragu.   Viola tersenyum, "Jadi, ini semua buat kamu mampir ke rumahku?" tanya Viola, "Yampun, Shin. Nggak perlu kali, bawa ginian," ucap Viola.   "Jadi, boleh mampir nggak?"   "Boleh."   Nada duduk di depan Shin yang terlihat sangat gugup. Viola hanya tersenyum melihat Shin yang hanya terdiam dan menunduk di depan Nada.   "Jadi, dia ini teman SMA Vio, dia juga pemilik perusahaan tempat Vio bekerja lho, Bun," jelas Viola pada Nada yang sedikit kebingungan melihat Shin.   Bagaimana tidak, Shin hanya memperkenalkan namanya, dan selebihnya diam karena malu.   Tiba-tiba saja semua menoleh ke arah pintu masuk, ketika Braga datang.   "Tumben rumahnya di..." ucap Braga terhenti saat melihat keberadaan Shin.   Nada tersenyum, "Kamu datang," ucap Nada lemah, "Sini, duduk di samping Tante," Nada mempersilahkan Braga untuk duduk.   "Tumben jam segini udah pulang?" tanya Braga mengacak rambut Viola lalu mengambil posisi duduk di samping Nada.   "Ih," gerutu Viola.   Braga tersenyum manis, sedangkan Shin terlihat cemburu dan merasa kesal tentang kehadiran Braga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN