Ketukan sepatu heels Viola sudah menjadi ciri khas kedatangannya di lantai tujuh. Di mana hanya terdapat ruangan Kiar yang merupakan atasannya, juga ada beberapa ruang meeting yang hanya digunakan jika ada rapat.
Shin berdiri dengan bersandar di meja Viola, mendengar ketukan heels itu Shin menoleh dan tersenyum.
"Selamat pagi," Viola memberi salam sembari tersenyum.
"Pagi," jawab Shin ikut tersenyum.
"Ada apa Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Panggil saja aku Shin," pinta Shin datar.
Viola tersenyum, "Ini udah area perusahaan lho, masa saya panggil nama." Viola mengambil posisi duduk di kursinya.
Shin memutar badannya menghadap Viola.
"Serius, kamu nggak sakit?" tanya Shin.
"Enggak, lihat aja," Viola mengangkat tangannya menunjukan dirinya baik-baik saja.
Shin tersenyum, "Terus keadaan Mama kamu gimana?" tanya Shin.
"Berjalan lancar semuanya," jawab Viola lalu tersenyum.
"Oke, aku kembali ke ruanganku," Shin melenggang menunju elevator.
Viola masih tak mengerti keberadaan Shin sedang apa di mejanya, tetapi tiba-tiba senyum Viola mengembang ketika melihat sebuah coffee cup yang diletakkan tepat di depan layar komputernya.
Sebuah note kecil tertempel di sana.
-Semangat hari senin.- tulisan itu membuat Viola tersenyum.
Viola langsung memeriksa semua jadwal Kiar hari ini. Matanya melirik jam tangan, sudah waktunya Kiar datang, tetapi tak ada tanda-tanda dentingan bunyi pintu elevator terdengar di telinga Viola.
"Apa Beliau terlambat?" tanya Viola lirih.
Belum terjawab pertanyaan itu, terdengar suara pintu elevator terbuka. Viola bersiap berdiri di balik meja menyambut kedatangan atasannya.
"Oh," pekiknya lirih, melihat empat orang berdasi dan berjas hitam berjalan kearahnya. Kiar berada di samping orang dengan jabatan tertinggi di Star Group yang juga merupakan pemilik perusahaan itu. Shin juga terlihat berjalan mengikuti langkah Kiar dan Hutama yang berada di depannya.
Viola memberi salam dengan membungkukkan badannya. Hutama dengan langkah tegasnya hanya berjalan lurus mengabaikan salam dari Viola.
Setelah keempat orang yang baru saja melewatinya masuk, Viola menghela napas lega dan mengambil posisi duduknya kembali.
"Apa ada masalah?" tanya Viola melihat pintu ruangan Kiar yang sudah tertutup rapat.
°°
"Bagaimana?" tanya Hutama tegas, wajahnya seperti menginginkan jawaban yang memuaskan dari mulut Kiar.
"Apa boleh buat, Ayah memintaku mengerjakan project di sana," jawab Kiar datar.
"Ayah, kenapa harus Kakak? Kakak baru saja bertunangan, pasti dalam waktu dekat akan mengadakan pesta pernikahan," protes Shin.
"Apa kau mau menggantikannya?" tanya Hutama tegas.
"Heh," Shin terkejut mendengar pertanyaan ayahnya, "Tidak, Aku hanya ingin tinggal di Indonesia saat ini," tolak Shin.
"Om Andra akan menemanimu selama beberapa bulan di sana," jelas Hutama.
Andra adalah orang kepercayaan Hutama, sekaligus menjadi sahabat baik bagi Hutama.
"Baiklah," jawab Kiar setuju. Raut wajahnya tak bisa berbohong, Kiar seakan sangat berat menerima tugas dari ayahnya.
"Masalah pesta pernikahan bisa diadakan setelah project kita di sana berhasil," ucap Hutama seakan mengerti rasa keberatan Kiar,
"Lagipula, Velove juga harus melanjutkan pendidikannya di Kanada selama satu tahun."
"Ayah, tapi bagaimana di sini?" lagi-lagi Shin memprotes.
"Tugas kamu, kamu harus bisa menghandle semua pekerjaan Kiar," jawab Hutama.
"Apa? Ayah, Aku di sini masih baru," Shin tak setuju dengan ucapan ayahnya.
"Shin," panggil Kiar pelan, Shin menoleh ke arahnya, Kiar menggelengkan kepalanya pelan. Shin tahu isyarat itu, kakaknya menghentikan dia untuk tidak melawan Hutama, sehingga Ia memilih mendengus kesal.
"Oke, persiapkan diri kamu, kamu bisa berangkat akhir pekan ini," ucap Hutama, beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu dengan diikuti oleh Andra.
Viola dengan cepat berdiri dan membungkukkan badannya setelah Hutama membuka pintu ruangan itu.
Tinggallah Shin dan Kiar. Kiar membuang napas berat, menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, tangannya memijat kening untuk menghilangkan rasa pening.
"Kakak kan bisa nolak, kalo emang Kakak nggak mau," ujar Shin ketus, "Kakak terlalu nurut sama Ayah," lanjutnya kesal
"Kamu kan tau, Ayah seperti apa," jawab Kiar tanpa memandang adiknya.
"Ih, selalu aja jawabnya gitu. Kalo nurut terus, Ayah bakalan memperlakukan Kakak seenaknya," jawab Shin tegas.
Kiar tersenyum, pandangannya kini beralih kepada Shin, "Terus aku harus gimana? berontak? Ayah punya penyakit jantung yang kapan saja bisa kambuh kalo dia marah."
Shin mendengus, "Terserah," itu adalah jawaban Shin yang selalu dilontarkan saat tidak ingin membahas ayahnya lebih lanjut.
"Yaudah, kembali bekerja, aku harus bertemu klien siang ini," gumam Kiar.
Shin beranjak dari tempat duduknya, melangkah keluar.
Viola berdiri saat Shin membuka pintu ruangan Kiar. Shin tersenyum ke arah Viola, disambutnya senyuman itu oleh sekretaris pribadi kakaknya.
"Sibuk?" tanya Shin berdiri tepat di depan Viola.
Viola mengangguk sembari tersenyum, tetapi pandangannya tiba-tiba beralih pada pintu ruangan Kiar yang terbuka.
Kiar menampakkan kepalanya, mendapati adik dan sekretarisnya yang tengah melihat ke arah di mana dia berada.
"Sedang apa?" tanya Kiar pada Shin.
"Oh, tidak. Kenapa?" Shin terlihat gugup menjawabnya.
"Viola, bisa bicara sebentar?" ucap Kiar.
Viola mengangguk.
Shin tersenyum melihat Viola langsung menuju ruangan atasannya.
°°
Kiar tampak sedang berpikir keras untuk menyampaikannya kepada Viola.
"Kenapa Pak? apa ada masalah?" tanya Viola bingung, melihat bosnya hanya diam tetapi terlihat jelas bahwa Ia tengah menyusun kata-kata.
"Mungkin minggu depan kita akan pindah ke luar negeri," ujar Kiar.
"Maaf, luar negeri?" Viola memastikan ucapan Kiar.
Kiar mengangguk pelan, "Ada project baru di sana, dan aku yang akan menanganinya, otomatis kau juga harus ikut denganku ke sana," ujar Kiar.
Viola tampak bimbang, "Tapi Pak, saya belum bisa meninggalkan Ibu saya, karena Beliau masih harus berobat secara rutin."
Kiar mengangguk mengerti, "Aku bisa aja cari sekretaris lain, tetapi bagaimana denganmu? kau bisa saja dikeluarkan kalau kau tak mengikuti atasanmu," ucap Kiar, "Karena pekerjaanmu di sini hanya sekretaris pribadiku."
"Saya mengerti Pak," Viola terlihat sangat bimbang. Senyum pagi yang Ia keluarkan saat menyambut Kiar kini tak terlihat di raut wajah Viola.
"Baiklah, aku akan usahakan mencari pekerjaan lain di sini buat kamu, tapi aku nggak janji kalo akan mendapatkannya," ucap Kiar.
"Serius Pak," Viola seperti mempunyai harapan, raut wajah khawatirnya perlahan diganti dengan senyum tipis di bibirnya.
Kiar mengangguk pasti.