TIGA BELAS

955 Kata
Viola tersenyum manis saat menyaksikan Kiar memakaikan cincin di jari manis Velove.   Shin menatap wajah Viola yang masih tersenyum.   "Mau?" tanya Shin menyadarkan Viola.   "Apa?" tanya Viola bingung.   "Kayak Kak Kiar," jawab Shin menunjuk Kiar dengan dagu tirusnya.   Viola tersenyum, "Belum saatnya, belum nemu juga calonnya," jawab Viola sekenanya.   "Udah ada kok calonnya, tungguin aja. Bakalan lebih romantis dari ini," jawab Shin, lagi-lagi Viola tersipu.   Setelah pesta selesai, Shin mengantar Viola pulang. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, walaupun jalanan terbilang sepi.   "Oh ya, kok pas reuni kemarin, teman sebangku kamu nggak dateng?" tanya Shin membuka pembicaraan.   "Ah, Alika? dia di Korea, kerja di sana," jawab Viola.   "Korea? Korea bagian mana? Seoul? Busan? Jeju? atau Korea Utara?" Shin menjawabnya dengan nada candaan.   Viola tersenyum, "Mana ada orang yang mau kerja di Korea Utara," jawab Viola.   "Ya kali aja, dia mau jadi warga sana."   "Di Seoul kalo nggak salah, tapi nggak tau daerahnya mana, susah ngapalin nama kota di sana," jawab Viola.   Shin tersenyum, "Makanya sekali-kali liburan ke sana?"   "Liburan? nggak ada waktu buat liburan," jawab Viola datar.   "Nanti ya, aku ajakin kamu kesana," ucap Shin, "Janji, bakalan aku ajak ke sana."   "Nggak perlu janji, kamu orang sibuk, mana bisa liburan lama," jawab Viola sekenanya.   "Buat kamu apa sih yang enggak, bahkan Aku bisa cuti satu bulan biar bisa liburan sama kamu," ujar Shin menggombal.   "Ih, bohong," Viola tersenyum.   °°   Hari ini adalah jadwal kemoterapi Nada. Braga sudah datang pagi-pagi sekali untuk mengantarkan Nada dan Viola ke rumah sakit. Viola menuruni anak tangga dengan menyeret kakinya, penampilannya yang sudah rapi dan siap untuk pergi membuat Braga bertanya-tanya.   "Mandi nggak sih? kok layu gitu kaya bunga yang belum disiram," protes Braga.   Viola mendengus lirih, "Mandilah. Capek tau, dari kemarin lembur terus," Viola menanggapinya malas.   Braga tersenyum.   Viola berjalan ke kamar Nada. Matanya melirik Cello yang tengah menonton serial tv anak dengan serius.   "Dek, jangan pergi kemana-mana sebelum Bibi dateng," ucap Viola sedikit lebih keras, kakinya tetap melangkah menuju kamar Nada.   "Iya," jawab Cello, matanya tak beralih sedikit pun dari layar tv di depannya.   __   Braga melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat di mana Nada akan melakukan kemoterapi.   Jalanan Kota Jakarta di hari Minggu terbilang lancar, walaupun ada jalan utama yang ditutup karena memang hari minggu adalah hari car free day khusus di Jakarta.   Braga melewati jalanan kecil agar tetap sampai di tempat tujuan dengan tepat waktu.   "Maaf ya Ga, gue ngerepotin lo mulu," ucap Viola menoleh ke arah Braga.   "Iya, Nak Braga," timpal Nada dari bangku penumpang yang ada di belakang.   "Enggak kok Tante, Braga juga nggak sibuk," jawab Braga sopan.   Nada tersenyum, walaupun senyumannya tidak dilihat oleh Viola dan Braga yang berada di kursi depannya.   Sesampainya di halaman rumah sakit, Braga mencari tempat parkir yang kosong. Memarkirkan mobilnya tepat di lahan paling ujung. Braga berlari mengitari mobilnya, membukakan pintu untuk Nada.   Viola berjalan dengan menggandeng tangan Nada.   "Vi, gue urus pendaftarannya dulu ya, lo sama Tante tunggu di tempat biasa," ujar Braga, Viola mengangguk. Braga berjalan mendahului wanita di depannya.   Setelah memasuki lobby utama rumah sakit Viola berjalan menuju elevator. Sesuai perintah Braga, dia dan Nada akan menunggunya di ruang tunggu pasien untuk pemeriksaan sebelum kemoterapi.   Viola duduk tepat di samping Nada, tangannya sama sekali tak melepaskan tangan Nada. Seolah memberi Nada sebuah kekuatan.   "Sayang, maafkan Bunda, selalu saja menyusahkanmu," ujar Nada lirih.   Viola tersenyum, "Bunda, Viola bakal lakukan apapun asal Bunda sembuh," ujar Viola tegas.   Nada tersenyum, "Bagaimana hubunganmu dengan Braga?" tanya Nada.   "Braga? baik-baik aja kok, kenapa?"   Nada menggeleng pelan, "Kenapa kalian nggak bersama saja, Bunda suka sama Nak Braga. Dia baik, perhatian, dia juga sepertinya memiliki perasaan terhadap kamu," ucap Nada pelan.   "Bunda apaan sih, Braga kan emang baik," sela Viola, "Orang yang baik itu belum tentu punya perasaan sama kita," lanjut Viola.   "Iya Bunda tau, tapi kenapa nggak dicoba saja menjalin hubungan dengan dia," ucap Nada berpendapat.   Belum sempat Viola menjawab ucapan Nada, Braga muncul membawa berkas di tangannya.   "Tante, bisa masuk sekarang, susternya udah nunggu di dalam," ujar Braga, membantu Nada berdiri dan menggandeng masuk ke ruangan yang ada di depannya.   Braga dan Viola menunggu di depan ruangan pemeriksaan.   "Kenapa?" tanya Viola saat tau Braga terus memandang ke arahnya.   Braga tersenyum, "Mau makan? atau kopi?" Braga menawarkan.   "Kopi kali ya, biar nih mata melek," jawab Viola.   "Tunggu ya," Braga beranjak dari duduknya, berjalan menuju elevator untuk ke kantin rumah sakit yang berada di lantai satu.   Ponsel Viola bergetar, nama Shin tertera di layar ponselnya.   "Shin?" tanyanya bersemangat sebelum menjawab panggilan Shin.   "Ehemm__" Viola berdehem dan akhirnya menjawab panggilan itu.   "Halo," ucap Viola.   "Iya," sahut Shin dari seberang, "Hari Minggunya ngapain? di rumah?" tanya Shin.   "Enggak, lagi di rumah sakit," jawab Viola.   "Kenapa? sakit? kok nggak bilang?" suara Shin terdengar panik.   Viola tersenyum, "Bunda, hari ini jadwal kemoterapi," jawab Viola.   "Aku pikir kamu sakit," ucap Shin lega, "Udah selesai? perlu Aku jemput?"   "Enggak perlu, ada Braga di sini," tolak Viola.   "Ah, Aku kalah start dari Braga," Shin kecewa.   Viola tersenyum.   Braga kembali dengan dua cup kopi yang dibelinya di kantin rumah sakit. Sembari menunggu, Viola memainkan ponselnya. Viola tengah saling berbalas pesan. Terlihat senyumnya mengembang ketika dirinya mengetikkan sesuatu atau jika ada notif pesan masuk.   Braga yang melihatnya hanya menggelengkan kepala.   ___ Viola tengah menemani Nada di kamarnya. Tersenyum melihat ibunya.   "Kenapa Bunda sangat berbeda denganku? Bunda cantik, sedangkan Aku..."   "Kamu juga cantik, anak Bunda itu cantik sama ganteng," puji Nada lemah.   Viola tersenyum.   "Kalau benar Braga suka sama kamu, bagaimana?" tanya Nada.   "Bunda," protes Viola manja, "Braga nggak suka sama aku, kita sahabatan udah lama, lho."   Nada tersenyum melihat Viola mengerucutkan bibirnya.   "Kenapa nggak dicoba aja? siapa tau kalian cocok."   "Bunda, Aku mencintai laki-laki lain, bukan Braga," jawab Viola.   Nada mengerutkan keningnya tanda berpikir.   "Siapa?" Nada penasaran.   Viola tersenyum dan mengangkat bahunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN