••• Zac melangkahkan kakinya dengan pandangan lurus kedepan. Suara sepatu pantofel miliknya menggema dilorong sepi tersebut. Aura dingin kembali muncul dalam dirinya, seperti Zac dulu. Kilatan matanya sangat tajam, kedua matanya seolah menggelap ,rahangnya sudah mengeras, kedua tangannya yang berada didalam saku terkepal kuat. Kenangan demi kenangan muncul didalam otak pintarnya. Saat Marsha memanggilnya dengan nada lirih, saat Marsha pendarahan, dan saat Marsha diseret. Semua terlihat jelas didepan Zac, bagai Film yang terus berputar, yang disetiap tayangannya membawa luka baru bagi Zac. Siapapun pelakunya, mereka harus membayar lebih dari penderitaan yang Zac dan Marsha alami. Zac suka mengusik kehidupan orang. Dia suka membunuh, dia suka menyiksa, tapi dia tetap tidak rela jika mil

