***
Zac memasuki penthousenya dengan dahi berkerut, melihat pria yang telah ditolongnya sedang berdiri di depan pintu.
"Ada apa kau kemari?” Tanya Zac, Nick yang mendengar itu lantas menghampiri Zac. "Saya ingin mengucapkan terima kasih, karena Anda telah menyelamatkan nyawa saya.” Zac mengangkat kedua alisnya. "Terima kasihmu diterima, sekarang pergilah!!” Seru Zac sembari berjalan melewati Nick, dan masuk semakin ke dalam dan diikuti pengawal yang berparas menakutkan, dan itu sangat kentara sekali. Namun kata-kata Nick spontan membuat Zac menghentikan langkahnya.
"Apakah Saya bisa membuktikan kepada Anda, bahwa Saya ingin mengabdi kepada Anda seorang.” Ucap Nick dengan tulus, karena tidak ada jawaban dari Zac, Nick melanjutkan "Saya berhutang nyawa kepada Anda, Jadi dengan menebus semua itu, izinkan Saya membantu Anda sesuai kemampuan saya.” Zac berbalik memandang Nick dari atas hingga bawah. “Ikutlah denganku!!” Seru Zac, dan melangkahkan kakinya, diikuti oleh Nick dan pengawal Zac yang lain.
"Kuberi kau kesempatan itu, dan buktikan bahwa ucapanmu tidak hanya diujung lidah.” Ucap Zac setelah memasuki ruang kerja pria itu.
Nick tersenyum “Terima kasih telah memberinya, Saya tidak akan pernah mengecewakan Anda.” Jawab Nick dengan pandangan kosong.
"Apa jaminannya untuk itu?” Tanya Zac sembari melangkahkan kakinya menuju mini bar dan mengambil dua champagne di lemari pendingin dan melemparnya satu ke arah Nick yang dengan gesit menangkap nya.
"Nyawa saya jaminannya.” Jawab Nick dengan mengepalkan tangannya, pandangan matanya yang tajam, tersirat kebencian dan ke tidak berdayaan, semua itu tidak luput dari penglihatan Zac, Zac yang melihat semua itu hanya tersenyum puas.
"Jangan terlalu formal, panggil saja aku Zac.” Nick mengangkat kepalanya dan memandang Zac dengan Senang, ia tidak menyangka bahwa Zac akan mengatakan semua itu, dan Nick berusaha untuk tidak mengecewakannya. Iya Nick berjanji, meskipun nyawanya yang menjadi taruhannya, Nick rela.
Marsha berlari ketakutan, keringat membanjiri dahinya, nafasnya tersengal. Tulisan itu membuatnya takut, bagaimana bisa dirinya akan dihancurkan?, bukankah selama ini dia tidak pernah memiliki musuh sama sekali, tangisnya kini mulai pecah, dengan cepat dia berlari menuju kamarnya, menghiraukan rasa sakit di kedua lututnya.
"Apa sebenarnya yang terjadi Tuhan?” Ucap Marsha disela-sela tangisnya "Tidak bisakah kau membiarkanku bahagia sedikit saja?" lanjutnya.
Kedua kaki Marsha seakan tak mampu berdiri, gadis itu terjatuh ke lantai dengan tangisnya yang belum juga terhenti, sebenarnya apa yang membuat Zac begitu membencinya?, Demi Tuhan Marsha baru saja mengenalnya, dan kenyataan lain membuatnya tak habis pikir bahwa dia adalah orang yang dipercaya kedua orang tuannya untuk menjaganya.
"Ma, Pa, Marsha tidak bahagia di sini, Jemput Marsha Ma, Pa.” teriak Marsha, tangisnya langsung pecah. Kenapa takdirnya begitu kejam mempermainkannya? Marsha juga berhak bahagia, bukan penderitaan seperti ini yang diharapkannya. Bukan.
Apa sebenarnya yang membuat lelaki itu membencinya? kenapa lelaki itu begitu ingin menghancurkannya? Bukankah dirinya sudah hancur saat mengenalnya, lalu menyandang sebagai istrinya. Marsha benci kenyataan itu.
Marsha menghapus air matanya dengan kasar, dia harus pergi dari rumah ini, dia harus pergi dari kehidupan pria tak berperasaan itu, ya Marsha harus pergi. Marsha mendekati jendela dan melihat suasana di luar, Marsha geram, sekaya itukah Suaminya hingga menyuruh belasan penjaga di gerbang utama. Marsha semakin frustrasi, rencana untuk kabur tak memungkinkan untuk berhasil. Namun Marsha tak mau tinggal diam, dia harus mencari cara. Dia akan kabur nanti malam, saat semuanya tertidur dia akan beraksi. Yah dia akan kabur. Malam ini.
Saat suasana sudah meyakinkan, Marsha turun dari balkonnya, dengan bantuan kain panjang yang sengaja dia satukan. Tak lupa gadis itu membawa tongkat baseball, dengan ancang-ancang akan memukul pengawal itu satu persatu.
"Mau ke mana Anda Nyonya?” Tanya pengawal yang mulai curiga saat melihat Marsha celingak-celinguk seperti pencuri. Tanpa membalas Marsha langsung memukul hingga pengawal itu tak sadarkan diri, hingga ke pengawal terakhir, dari Sembilan orang yang telah tumbang, satu pengawal berusaha untuk menelepon seseorang, Marsha mulai panik, dia tak ingin rencana kaburnya diketahui oleh Zac.
"Gadis itu kabur.." Marsha melayangkan pukulannya membuat pengawal itu meringis kesakitan di area kepalanya, setelah melihat mereka semua tak sadarkan diri, Marsha mulai berlari, tangisnya kembali pecah, rasa takut mulai merayapi gadis itu, sungguh ini adalah kali pertamanya dia membuat orang tak sadarkan diri, sebenarnya Marsha tidak tega kepada mereka yang tak salah apa-apa, tapi keinginan Marsha untuk berlari dari rumah itu sudah bulat.
Marsha tidak ingin hidupnya hancur dengan sia-sia, dia juga berhak untuk bahagia, dan dia akan mencari kebahagiaannya sendiri. Marsha berlari di kegelapan tanpa alas kaki, dengan cepat tanpa memedulikan lututnya yang mulai nyeri.
Zac mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Pria itu menyentuh kain yang Marsha gunakan untuk turun dari balkon kamarnya. Dengan cepat Pria itu keluar dan memasuki mobilnya dengan kecepatan paling tinggi.
"Jangan bermain-main denganku Marsha!” Seru Zac dingin. Zac memasang Bluetooth ditelinga lalu menyambungkan kepada John dan juga Nick untuk bertindak lebih cepat.
“Gadis itu masih belum jauh dari sini.” Ucap Zac dingin, setelah telepon terputus Zac kembali melajukan mobilnya dengan cepat.
"Kau akan dihukum atas tindakan bodohmu ini Marsha.” Umpat Zac dengan sesekali memukul setir mobilnya dengan gusar.
Dilain tempat Marsha berlari dengan sesekali terjatuh karena penglihatannya yang sedikit buram karena air matanya yang tak mau berhenti, nafasnya sedikit tersengal, keringat membanjiri seluruh tubuh Gadis itu.
Marsha tidak peduli dengan status sebagai istri dari pria yang sudah menyakitinya secara lisan dan batin, Marsha muak dengan drama yang dirinya saja tak merasa memiliki salah pada pria itu.
Semua terjadi tanpa Marsha duga, rasanya begitu menyesakkan d**a, lebih baik Marsha kehilangan Kekasihnya yang memilih untuk berkhianat, daripada hidup dengan orang yang sama sekali tak memiliki hati, seseorang yang kejam, dan seseorang yang tak tahu cara menyikapi seorang wanita, dan sialnya orang itu sudah menjadi suaminya.
Suaminya.
Marsha tetap berlari, hingga lengan seseorang menghentikan langkahnya.
"Waw dia cantik sekali.” Ucap lelaki berambut coklat dengan senyum menggoda ke arah Marsha, membuat gadis itu merasa mual melihat wajahnya.
Marsha mendelik kesal, tiga orang pria dengan wajah menakutkan mulai mengelilinginya, seolah menahan Marsha untuk tidak berlari lebih jauh lagi.
"Saatnya kita makan malam, dude” Ucap lelaki satunya yang sekitar berumur 34 tahun, lelaki itu membawa botol minuman keras yang menyisakan sedikit isinya, jalannya yang terseok-seok membuat Marsha yakin, bahwa ketiga lelaki itu dalam keadaan mabuk.
Perasaan takut melingkupi diri Marsha. Marsha berusaha kabur namun detik kemudian tubuhnya ambruk, akibat kaki dari salah satu pria yang sengaja menghambat langkah Marsha. Dengan cepat gadis itu berdiri, namun tubuhnya limbung karena pria yang berambut keriting dengan jenggot panjang kini menggendong Marsha, lalu melempar ke arah Pria yang membawa botol, Marsha menangis histeris, tubuhnya yang di lempar-lempar seperti barang tak berguna kini merasakan sakit yang luar biasa, dengan cekatan pria berambut keriting itu merobek piama Marsha dan menyisakan bra hitam yang melekat ditubuh Gadis itu.
"Waw, ini kenikmatan yang luar biasa.” Pekik pria berambut coklat. “Kita harus bergilir hari ini.” Seru yang lain. "Ah rasanya disayangkan jika sesuatu yang menyembul itu masih berada di tempat persembunyiannya.” Timpal pria yang membuat Marsha terjatuh tadi berusaha untuk melepas bra Marsha, dan ditangkis oleh gadis itu.
Marsha berusaha menutupi tubuhnya yang setengah telanjang, Marsha menggeleng cepat, berharap Zac datang untuk menolongnya.
Zac.
Marsha merasa menyesal telah meninggalkan Mansion pria itu, sekarang dirinya harus dihadapkan dengan manusia najis seperti yang ada di hadapannya. Rambut Marsha tertarik ke belakang, dengan jelas Gadis itu melihat pria berambut keriting menatapnya dengan lapar. "Kau harus ikut kami jalang.” serunya dengan menyeret rambut Marsha membawanya ke suatu tempat.
Marsha berusaha untuk lepas, namun cekalan pria itu begitu kuat menarik rambutnya, membuat kepalanya sakit seketika. "Kau menyakiti mainan kita, dude.” tukas salah satu pria, membuat ketiganya tergelak.
"Aww" lirih Marsha saat tubuhnya terlempar ke dinding. Tubuhnya yang masih keadaan setengah telanjang membuatnya meringkuk di tempat kotor itu. Bau rokok dan alkohol menyeruak menyerbu hidung mancung nya.
"Lepaskan aku, aku mohon!" pinta Marsha dengan tangisnya. "Kau pikir kita bodoh? melepaskanmu sebelum kita mencicipinya.” Jawabnya, dan membuang botol minumannya ke sembarang arah. Pria itu berjalan mendekat ke arah Marsha dengan seringai tajam lalu menindih tubuh Gadis mungil itu, tangannya mulai membuka kaitan bra Marsha, Marsha hanya bisa memejamkan matanya dengan pasrah.
"Arrggghhh" pekik ketiganya, Marsha membuka kedua matanya, dan terkejut saat melihat tubuh ketiga pria itu dalam keadaan terlepas dari kepalanya, darah bercucuran ke tubuh Marsha membuat gadis itu mual dan memuntahkan isinya saat itu juga.
Matanya masih tidak bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang membunuh pria najis itu dengan cara memenggal kepala mereka bersama.
"Kau tahu apa yang terjadi saat kau melanggar aturanku Marsha?" Marsha membuka kedua matanya
Zac.
Dengan cepat Marsha bangkit dan memeluk tubuh pria yang dibencinya, Marsha masih takut saat melihat tubuh ketiga pria tanpa kepala yang telah terkapar tak bernyawa.
Zac membalas pelukan Marsha dan mengelus punggung gadis itu, nafasnya memburu, rahangnya mengeras, kemarahannya sampai di ubun-ubun saat melihat Istrinya hampir saja diperkosa.
"Maafkan aku.” lirih Marsha sebelum Gadis itu tak sadarkan diri di pelukannya, dengan sigap Zac mengeratkan pelukan itu, berharap angin dingin tak mengganggu tubuh mungil Gadisnya yang dalam keadaan setengah telanjang.
Zac mengecupi dahi Marsha yang berkeringat, sembari melepaskan jaketnya dan memakaikannya untuk menutupi tubuhnya yang mengundang untuk dijelajah, tapi Zac tidak ingin mengganggu Istrinya, dia memilih untuk tetap memeluk memberi jawaban melalui pelukannya bahwa gadis itu tidak sendiri, masih ada dirinya yang selalu menjaga, meskipun terkadang caranya salah dan membuat hati gadis itu terluka karenanya, bagi Zac itu lebih baik, daripada melihat gadisnya disakiti oleh orang lain.
Nick yang mengemudikan mobil masih tercengang, melihat atasannya yang mulai naik pitam, dengan tidak segan-segan memenggal ketiganya tanpa ampun. Bagaimana tidak, saat mendengar gadisnya menjerit kesakitan pria itu tidak menghiraukan panggilannya, dan saat dirinya ingin membantu justru pria itu memukul wajahnya sehingga Nick tidak ikut campur ke dalam urusannya, dan di saat itu juga Zac mengambil pedang yang tak tanggung-tanggung bisa memenggal tiga kepala sekalipun. Sungguh, Nick merasa mual saat itu. Namun kali ini dia percaya atas kesimpulan dari berita yang dibacanya, dibalik ketampanan dan sikap dinginnya pria itu, banyak sekali sifat mengerikan di dalamnya.
Zac berlari menuju kamar Marsha, diikuti Maria yang tampak khawatir dengan keadaan gadis itu di belakangnya. Setelah Maria selesai menggantikan baju Marsha, Zac kembali menemuinya, di lihatnya Marsha yang terlelap dan memicingkan matanya, keringat tanpa henti keluar dari dahi gadis itu, Zac menyejajarkan dirinya dan Marsha, dengan lembut Pria itu mengelus pipi Marsha. "Cukup ini pertama dan terakhir Marsha, kenapa kau tak mengerti? kalau aku sangat khawatir tadi.” Zac menatap Marsha dan mengelus dahi istrinya yang berkeringat. Lalu bangkit dan melangkah meninggalkan wanita tersebut.
"Tolong!" Racau Marsha yang masih memejamkan matanya, Zac kembali menghampiri gadis itu lalu memeluknya. Membelai Marsha yang tertidur di dalam pangkuannya. Zac mengamati wajah Marsha, menikmati pahatan Tuhan yang begitu sempurna, kecantikannya yang begitu kentara meskipun tanpa polesan make up apa pun. Membuat Hati Zac berdetak dengan cepat. Bagaimana bisa? Apa yang terjadi kepada Zac? perasaan yang sudah lama mati kenapa kini kembali berdetak hanya dengan mengamati wajah istrinya? Kenapa perasaannya begitu sakit saat melihat istrinya disakiti oleh orang lain. Kenapa?
Apakah Zac bisa menghancurkannya? Bukankah membuatnya hancur itu berati menghancurkan dirinya sendiri? Zac hanya ingin balas dendam, Zac hanya ingin Marsha merasakan seperti apa penderitaannya dulu. Apakah Zac harus melupakan dendamnya? Apakah bisa? Rasa dendam yang sudah mendarah daging di dirinya, segala cara yang begitu fasih dia lakukan demi membuatnya mendapat kepuasan setelah itu. Lantas apakah dia harus merelakannya begitu saja? Tidak! Dia harus balas dendam, dia harus menghancurkan Marsha, lalu membuang jauh gadis itu setelahnya, dan semua itu juga berlaku bagi siapa pun yang ingin menghentikan langkahnya. Dering ponsel Zac membuat sang empunya mengalihkan pandangan dari Marsha. Dengan lembut Zac menidurkan gadis itu dan menyelimutinya, Zac melangkahkan kakinya keluar setelah mencium kening gadis itu.
"Iya Ma?” Jawab Zac dengan nada lembut.
"Bagaimana kabarmu dan juga menantu Mama?" Zac melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya sendiri, tatapan tajamnya berubah sendu saat mendengar suara Ferla.
"Baik-baik saja Ma.” Jawab Zac singkat, karena Zac tidak ingin ibunya terlalu panjang menanyakan kabar Marsha, yang jelas bertolak belakang dengan keadaannya saat ini.
"Zac, dia gadis yang baik, Belajarlah untuk mencintainya, Sayang!!" Zac memejamkan matanya, menghirup udara dingin, lalu membuangnya kembali.
"Sulit Ma.” Jawab Zac akhirnya. Dia tahu dengan jawabannya itu pasti membuat ibunya kecewa, tapi Zac tidak bisa terlalu lama membohongi ibunya, karena ibunyalah alasan Zac ingin membalas dendam, setiap tetes air mata yang turun di kedua mata ibunya, harus Zac balas dengan berliter-liter darah dari seseorang yang telah menyakitinya. Zac tidak peduli jika nyawanya sebagai taruhannya, yang Zac inginkan adalah kebahagiaan ibunya.
"Apa yang kau dapatkan setelah menghancurkannya Zac? Mama tidak pernah mengajarimu menjadi pria pendendam seperti ini.” Jawab Ferla sedikit membentak.
Zac mengepalkan tangannya, apa yang harus dia lakukan? Kenapa ibunya begitu baik dan dengan mudahnya memaafkan kesalahan seseorang yang telah membuatnya terluka?. Tapi tidak, Zac tidak seperti ibunya, jika bukan ibunya yang membalas semua perbuatan mereka, maka dengan senang hati Zac yang akan menggantikannya.
"Dia harus merasakan seperti apa yang pernah aku rasakan Ma.” Jawab Zac dingin.
"Kesakitan dulu kini terlahir sebagai kebencian untuk membalasnya Ma, semua kebencian itu kini mendarah daging, sangat sulit untuk melepaskan begitu saja.” Ingatan Zac kembali pada saat Ibunya yang diam-diam menangis, saat mengingat pernikahan kekasihnya, yang dengan tega meninggalkannya demi perempuan lain, lalu Ayahnya yang setiap hari memukul ibunya dan dirinya, setiap hari pulang larut malam dan tanpa malu membawa jalangnya di hadapan ibu dan dirinya, di saat umurnya yang masih terpaut kecil untuk memahami semua masalah kedua orang tuanya. Betapa keji ayahnya itu.
"Zac, Mama tidak ingin kau menyesal Nak, lupakan masa lalu Zac, Nikmati pernikahanmu!” Jawab Ferla dengan nada rendah. "Mama semakin hari semakin tua, tidakkah kau ingin memberi kebahagiaan kepada Mama dengan menghadirkan cucu yang lucu untuk Mama?"
Nafas Zac tertahan, mencerna segala ucapan ibunya.
"Mama sekarang sudah malam, tidurlah!!, besok Zac akan menelepon lagi.” Jawab Zac mengalihkan perhatian ibunya.
"Baiklah, kau juga tidurlah Zac!! dan ingat! Apa pun yang Mama katakan padamu, semua itu demi kebaikanmu sendiri.” Jawab Ferla, lalu sambungan terputus.
Zac mengepalkan tangannya, tatapannya tajam, pikirannya berlari mengingat segala ucapan ibunya, cucu? Bagaimana bisa? Itu adalah permintaan ibunya yang sulit untuk Zac kabulkan, kenapa ibunya meminta cucu? Apakah tidak lebih baik memintanya untuk membunuh siapa pun yang telah menyakitinya, bukankah dengan begitu dia bisa bernafas dengan lega, dan kesakitan yang pernah ditorehkan sedikit terbayarkan.
Zac berjalan ke arah mini bar di kamar nya, meminum sebotol champagne mungkin bisa membuat pikirannya kembali tenang. Dilain tempat, seorang pria tampan namun terkesan menakutkan sedang menghabiskan minumannya, dan mengernyit merasakan cairan coklat pekat menjalar membasahi kerongkongannya. “Kabar apalagi yang kau dapatkan?” Tanya pria itu dengan nada dingin.
"Dia diselamatkan kan, Tuan.” Jawab seorang pria bertubuh besar, pakaiannya serba hitam, dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, sebuah Bluetooth tersampir ditelinganya.
"Siapa yang telah menyelamatkannya?"
"Musuh Anda sendiri, Zac Trellix.” Suara gelak tawa yang menakutkan terdengar, menghilangkan keheningan dan membawa aura kejam di ruangan tersebut.
"Satu umpan, dua ikan sekaligus, tus... tus.” Jawabnya dengan memainkan kedua jarinya membentuk pistol, dan menggerakkan jarinya seperti menembak lalu meniup ujung jarinya seolah dijarinya keluar asap setelah melakukan penembakan.
"Terus awasi dia, dan bawakan berita bahagia kepadaku.” Ucapnya lagi, dan dibalas anggukkan oleh bodyguardnya.
***
Marsha menyipitkan matanya, kilauan matahari menerobos masuk melalui celah jendela membangunkan Marsha yang tengah tertidur lelap. Kepalanya berdengung sakit, dengan sedikit kesadaran berusaha mengingat apa yang telah terjadi kepadanya.
Marsha membulatkan matanya saat bayangan tiga orang pria mencoba untuk melecehkan nya, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat ingatannya kembali kepada pria tak bernyawa tanpa kepala.
Zac. Di mana pria itu? apakah dia marah kepadanya karena kabur dari Mansionnya? Ketakutan melingkupi diri Marsha, dia tahu Zac pasti akan menghukumnya karena sudah berani kabur.
"Nyonya sudah bangun?” Tanya Maria, sembari membawa nampan berisi bubur dan minuman. Marsha hanya menganggukkan kepalanya. Dia masih malu untuk melihat Maria, mengingat dirinya yang sempat kabur.
"Makanlah bubur ini Nyonya, setelah itu obatnya diminum!!” Ucap Maria. "Tuan sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali.” Ucapnya lagi, seolah olah kemarin tidaklah terjadi apa-apa.
Marsha melihat Maria, menyendokkan buburnya dan mulai melahapnya.
"Apakah tadi dia marah?” Tanya Marsha dengan hati-hati. Maria tersenyum mendengar pertanyaan Marsha.
"Tuan semalam cemas, entah lah mungkin itu pemikiran saya saja, dia menunjukkan ekspresi yang jarang sekali dia tunjukkan kepada siapa pun.” Jawab Maria. Marsha mengernyit tak paham dengan apa yang Maria bicarakan.
"Tuan Zac semalam menangis melihat keadaan Nyonya.” Marsha tersedak buburnya, dengan cepat dia meminum air putih yang telah disediakan Maria. "Nyonya tidak apa-apa?" Marsha hanya menggelengkan kepalanya.
"Ada banyak alasan yang membuat Tuan menjadi seperti itu.” seru Maria, keingintahuan Marsha semakin besar "Apa yang membuatnya bisa seperti itu Maria?" Maria hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Menceritakan semuanya bukanlah keputusan yang baik. "Saya tidak diperbolehkan untuk mengatakan Nyonya, biar nanti Nyonya tahu kebenarannya dari Tuan sendiri.” Jawab Maria sembari pergi meninggalkan Marsha dengan rasa keingintahuan nya.
Marsha menghabiskan buburnya dalam diam, setelah itu meminum obat dan kembali berbaring, tubuhnya masih lemah untuk memikirkan kejadian yang telah menimpanya, dan semua teka-teki yang berputar di dalam otak cantiknya.
Zac menangis? Benarkah?
Banyak sekali pertanyaan yang melintas di pikiran Marsha, tentang semua yang telah terjadi kepadanya. Kebencian Zac?. Ah Marsha pusing memikirkannya. Sebenarnya saat ini dia rindu.
Rindu dengan Indonesia
Rindu dengan Ayah, Ibunya
Rindu dengan sahabat barunya, Freya
Ah apa kabar gadis itu?
Ponsel Marsha berdering, membuat sang empunya kembali tersadar, senyumnya mengembang setelah melihat nama yang tertera di sana.
"Holla key."
"Hai, iya Vit?"
"Bagaimana kabarmu?” Tanya Adam
"Aku... Baik-baik saja.” Jawab Marsha dengan nada sedikit ragu.
"Jangan membohongiku Key, kalau kau baik-baik saja tidak mungkin Topan balik dua kali ke sana.” Marsha mengernyit, seperti mengingat nama yang disebutkan Adam, seperti paham dengan keterdiaman Marsha, Adam melanjutkan "Topan seorang dokter yang mengobatimu beberapa hari yang lalu.”, ah iya Marsha mulai mengingatnya.
"Ah itu aku sedang demam, lalu keesokannya aku jatuh dari tangga, karena saat itu kepalaku sangat pusing.” Jawab Marsha mantap.
"Benarkah?” Tanya Adam, Adam tahu Marsha berbohong.
Kenapa kau masih membelanya, Key? Batin Adam
"Iya benar.” Jawab Marsha
"Key?!"
"Iya?"
"Aku rindu kepadamu, bisakah kita bertemu Key? Menemaniku makan siang mungkin.” Seru Adam penuh harap.
"Aku tidak tahu, ah aku akan minta izin Zac dulu.” Jawab Marsha, meskipun Marsha tahu Zac tidak akan mungkin mengizinkannya.
"Dia tidak akan mengizinkan mu, Key” Jawab Adam "Apa kau takut?" tambahnya.
"Baiklah, Aku akan menemanimu makan siang.” Jawab Marsha mantap.
"Benarkah? Baiklah nanti aku jemput ya!"
"Iya Vit.” Sambungan pun terputus.
Apakah tindakannya sekarang tidak membuat Zac marah kepadanya?, toh dirinya dan Adam tidak ada hubungan apa-apa, dia hanya teman yang asyik dan lebih pengertian, daripada suaminya yang arogan itu.
Tapi, Marsha tetap saja takut. Bagaimana jika Zac menyiksanya lagi seperti biasa. Atau mungkin lebih parah dari yang dulu. Tapi kalau dibatalkan Marsha tidak enak sama Adam, toh Adam orang baik.
Marsha memutuskan untuk membersihkan dirinya, dan bersiap-siap menunggu Adam menjemputnya.
Setelah semuanya selesai, Marsha turun dari kamarnya dan menemui Maria.
"Maria aku akan pergi sebentar" Maria yang mendengarnya lantas pucat pasi, bagaimana tidak, Tuannya telah menyuruhnya untuk menjaga gadis itu karena kondisinya yang masih lemah.
"Tapi Nyonya, Tuan Zac sudah melarang Nyonya untuk tidak pergi ke mana-mana.” Marsha menyadari perubahan wajah Maria yang pucat, dengan cepat Marsha menyuruhnya untuk duduk.
"Kau tenanglah Maria, tidak akan terjadi apa-apa.” Jawabnya "Dan yaa, aku akan segera pulang sebelum Zac pulang.” tambahnya.
"Tapi Nyonya... " Marsha langsung berlari menghiraukan panggilan Maria. Perasaan takut sebenarnya ada, tapi Marsha berusaha untuk tenang, dia tidak ingin terlihat ketakutan di depan Adam.
"Nyonya mau ke mana?” Tanya penjaga di depan gerbang utama, Marsha memutar kedua matanya jengah, meladeni begitu banyak penjaga di rumah ini.
"Aku pergi untuk Makan siang sebentar.” Jawabnya dengan terus berjalan menghiraukan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut penjaganya.
Persetan dengan bos kalian.
Marsha memasuki mobil yang telah menunggunya dan menemukan Adam yang melihat ke arah gadis itu tanpa berkedip.
"Hai.” Sapa Marsha dengan melambaikan tangannya di depan wajah Adam.
"Oh, Hai.” Jawab Adam salah tingkah. Jantungnya berdetak dengan cepat, seolah girang telah bertemu kembali dengan pujaannya
"Kita jalan sekarang!!” Ucap Marsha dan dibalas anggukan oleh Adam.
Hening. Tidak ada percakapan antara Adam dan Marsha, Marsha menundukkan wajahnya, dan menautkan jari-jarinya.
"Kenapa Key?” Tanya Adam yang memperhatikan Marsha dengan aneh.
“Hmm tidak.” Jawab Marsha dengan senyum lebarnya.
***
"Bagaimana kabar pernikahan kalian?” Tanya Adam, disela kunyahannya. Saat ini mereka berdua berada di Resto cepat saji yang menyediakan makanan vegetarian.
"Baik-baik saja.” Jawab Marsha dengan senyuman lebarnya. Adam tahu senyuman itu adalah kebohongan.
"Apakah Zac masih sering memukuli mu?" Kali ini tatapan Adam menajam, seolah menginterogasi seorang pencuri yang ketahuan mencuri di sebuah toko.
"Tidak, dia sangat baik.” Jawab Marsha sambil menikmati makanan favoritnya Dim Sum Vegetarian, menghindari tatapan tajam Adam.
Kau bohong, Key?. Batin Adam.
Hening. Tidak ada percakapan antara keduanya. Marsha menghabiskan makanannya dalam diam, dia ingin segara selesai dan pulang, sebelum Zac mengetahuinya.
Adam merasa kenyang hanya dengan memandang Marsha, kini rindunya terbayarkan, meskipun sakit saat mengingat bahwa gadis itu masih membela seseorang yang jelas-jelas telah menyiksanya.
Apakah gadis itu tidak mempercayainya? Sehingga menutup-nutupi segala hal yang telah menimpanya.
Adam mengingat dengan jelas, bagaimana Topan menceritakan kelakuan Zac yang begitu keji, menyiksa gadis sebaik Marsha.
Tapi Adam berusaha untuk diam, untuk tidak membahas, Adam ingin Marsha yang menceritakan semua kepadanya, tanpa paksaan atau apa pun.
"Vito.” panggil Marsha untuk ke sekian kalinya.
"Ah, ada apa Key?” Jawab Adam salah tingkah
"Sekarang giliran kau yang hobi melamun ya?” Seru Marsha membuat Adam semakin salah tingkah
"Sudahlah, ayo kita pulang!!" tambahnya
"Baiklah, Ayo!!"
Keduanya pun berjalan menuju tempat parkir dan memasuki mobil, di perjalanan hening tidak ada yang berniat membuka suara.
Sesampai di kediaman Zac, Marsha hendak turun namun lengannya ditahan oleh Adam.
"Aku Mencintaimu.” Adam melihat wajah terkejut Marsha, gadis itu diam seolah mencerna ucapan Adam, dengan sadar Marsha melihat lengannya yang dicekal oleh Adam lalu melepasnya dengan pelan.
"Maaf Vit, aku sudah memiliki suami. Akan kuingatkan itu jika kau lupa.” Jawab Marsha dengan menunduk.
"Tapi kenapa Key? Kenapa meskipun kau sudah memiliki suami, bukankah dia tidak mengharapkan mu.” kali ini kesabaran Adam telah habis, dia tidak bisa menahan perasaannya sendiri.
"Dia memang tidak mengharapkanku, tapi dia tetaplah suamiku.” Jawab Marsha mulai berkaca-kaca. Dengan cepat gadis itu mendongak menatap Adam dengan tajam "Bukankah kau sahabatnya, kau yang lebih tahu daripada aku kesakitan apa yang telah menimpanya, hingga membuatnya berperilaku dingin seperti itu?" tambahnya.
"Dia sudah tidak waras Key, kehidupannya hanya diisi dengan membunuh dan membunuh, pria psikopat itu sudah gila, gila Key, gilaaa.”
Plakkkkkk
Satu tamparan melayang di wajah tampan Adam. Marsha menatap Adam dengan pandangan tak terbaca, nafas gadis itu tersengal, menahan gejolak amarah yang hendak keluar.
"Kau bukanlah sahabat yang baik untuknya, kau ingin mengambil keuntungan dari semua itu, di saat sahabat mu kesakitan membutuhkan dorongan dari sahabat yang lainnya, kau malah menghinanya dan mengatakan bahwa dia gila, aku Kecewa padamu Vit.” Marsha berlari memasuki Mansion menghiraukan panggilan Adam.
"Shittttt.” Umpat Adam dengan memukul setir mobilnya.
Marsha berlari menuju kamarnya, menghiraukan panggilan Maria dan pengawal lainnya yang mulai cemas melihat keadaannya.
Dengan cepat gadis itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Pulanglah!!” Ucap Marsha disela-sela tangisnya, lalu mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban dari orang tersebut.