***
Marsha berjalan ke ruang makan, dan menghabiskan sarapan paginya. Keadaannya sudah membaik, dan hari ini dia akan mengikuti Zac ke kantornya.
Sebagai b***k pastinya.
Hmm sungguh miris nasib Marsha bukan?, menjadi b***k dari suaminya sendiri, Marsha tersenyum meratapi nasibnya yang begitu buruk. Tanpa dia sadari Zac memperhatikannya dari tadi.
Dengan pakaian lengkap dan sama seperti yang pernah Maria berikan padanya, Zac menghampiri Marsha dan tersenyum kecut, penuh kemenangan.
"Good, Kau cocok dengan pakaian itu.” Ejek Zac.
Marsha memaksakan senyumnya, dan berlalu meninggalkan Zac dengan seringainya.
Marsha masih mengingat dengan jelas, bagaimana lelaki itu mengancamnya pada saat Marsha menguping pembicaraan lelaki itu.
"Apa kau sedang menguping?"
Sebenarnya bagi Zac itu bukanlah pertanyaan, melainkan penyataan. Dia sama sekali tidak menyukai jika ada yang terang-terangan menguping dan selalu ingin tahu masalahnya, karena bagi Zac itu adalah tindakan yang tidak bisa dimaafkan, jika saja Marsha lelaki maka Zac tidak akan segan-segan untuk mematahkan tulang-tulangnya, dan menguras habis darahnya.
Marsha terkejut, dan spontan terbatuk-batuk dengan cepat dia mengambil air di sebelah nakas dan meminumnya cepat, panik?? Iya
"Ak uu t idakk... “ Jawab Marsha gugup dan langsung dipotong oleh Zac "Perilakumu menunjukkan bahwa yang aku ucapkan benar, sialan!” Jawab Zac dengan nada dingin. Dia menghampiri Marsha dan memaksa gadis itu untuk berdiri, setelah berdiri Zac menjambak belakang rambut Marsha dengan keras, membuat sang pemiliknya terpaksa memandang manik mata abu-abu milik Zac.
"Kau tahu apa hukumannya jika kau berani menguping?" Marsha mengernyit, karena kepalanya yang sakit tambah parah akibat jambakan dari Zac, Marsha berusaha untuk tidak menangis, tapi keadaan kepalanya yang berdenyut dengan cepat membuatnya memohon pada lelaki seperti Zac.
"Aku mohon, lepaskan, kepalaku masih sakit.” Ucap Marsha dengan sesekali meringis.
Zac spontan melepaskan Marsha, sebenarnya dia lupa, kalo Gadis itu baru sadar dan Zac sudah berulah lagi, dan dia berkata dengan nada dingin untuk menghilangkan rasa bersalahnya. "Aku tidak akan melepaskanmu jika kau tidak memohon dengan nada menjijikkan seperti tadi." karena tidak ada jawaban dari Marsha, Zac melanjutkan. “Aku akan menghukum mu nanti dan jangan harap kau akan lolos dariku.”
"Aku mohon jangan lagi” Ucap Marsha dan air matanya melolos begitu saja, dengan cepat Marsha menghapus sebelum Zac mengetahuinya.
Namun bukan Zac namanya jika dia tidak tahu, Zac mengepalkan tangannya, melihat Marsha yang menangis membuat hatinya sedikit tersentuh. Sedikit.
"Baiklah aku tidak akan menghukummu” Jawab Zac cepat, lalu memandang Marsha yang juga sedang memandangnya, lalu Zac melanjutkan " Tapi ada syaratnya!" dan seketika kelegaan Marsha kembali hilang, iya Marsha sempat terkejut dan merasa lega, namun lenyap dalam hitungan 2 detik saja. Marsha memberanikan diri untuk menanyakan apa persyaratan lelaki itu, meskipun dalam hatinya mengatakan, ada hal yang tidak beres, dan Marsha takut akan hal itu.
"Kau harus berhenti berhubungan dengan Adam, dan. " Zac menghentikan ucapannya dan tersenyum licik lalu melanjutkan "Dan kau harus menuruti perintahku tanpa perdebatan apa pun, aku sudah muak dengan tingkahmu.” Zac membalikkan tubuhnya hendak keluar, namun berhenti dan berbalik memandang Marsha yang masih mencerna segala ucapan dari Zac.
"Jika kau melakukan lagi, aku tidak segan-segan memperkosamu kembali seperti kemarin.” Ucap Zac dengan nada dingin, dan spontan Marsha memundurkan langkahnya dan menggeleng cepat, ingatannya kembali pada saat Zac mengambil Mahkotanya yang telah ia jaga seumur hidupnya, yang akan ia serahkan kepada orang yang sangat dicintainya kelak namun tidak, Mahkotanya telah hilang, dan yang mengambilnya adalah pria jahat yang sama sekali tidak memiliki perasaan. Melihat tatapan takut Marsha membuat Zac menyeringai.
"Jangan membuatku terlambat!!” Ucapan Zac yang dingin menyadarkan Marsha dari lamunannya. Dia berlari kecil mencoba berjalan mengikuti Zac yang tengah berjalan angkuh menuju mobilnya.
Sampai di kantor Marsha semakin menundukkan wajahnya, dia masih belum siap melihat tatapan mencemooh dari karyawan-karyawan Zac, hingga memasuki lift namun Zac menghentikan langkahnya.
"Kau tidak akan satu lift denganku.” Ucap Zac dingin, Marsha membelalakkan Matanya tak percaya dengan ucapan pria di hadapannya "Baiklah, kau masuk dulu, aku akan naik setelahmu.” Jawab Marsha tanpa menatap Zac yang sedang menatapnya dengan dingin.
"Kau b***k, jangan kotori lift kantorku dengan kehadiranmu, naik saja lewat tangga.” Jawab Zac tanpa ekspresi.
"Whatt!" teriak Marsha memancing tatapan tajam dari karyawan-karyawan di sana "Apa yang kau katakan?” Tanya Marsha dengan nada sedikit memelan. Sungguh dia tidak tahu dengan jalan pikiran lelaki di hadapannya ini, tangan Marsha terkepal, ingin sekali menghabisinya pria psikopat itu.
"Naik lewat tangga, sekarang!!! “ Jawab Zac, sembari mendekatkan wajahnya kepada Marsha, spontan gadis itu memundurkan langkahnya, karena tidak ada jawaban Zac melanjutkan "Kau harus sampai sana, tepat saat aku baru saja menginjakkan kakiku di depan ruanganku.”
"Kau ingat!, aku tidak suka menunggu terlalu lama "Zac melangkahkan kakinya menuju lift dan menekan tombol 41 menuju ke ruangannya, Sebelum pintu lift benar-benar tertutup, Zac melihat raut wajah kesal pada gadis itu, membuatnya tersenyum sinis.
Marsha mulai berlari menuju tangga darurat, dalam hatinya merutuki lelaki psikopat itu, yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Brukk.
Marsha terjatuh, keringat bercucuran deras di dahinya, nafasnya ngos-ngosan, lalu membelalakkan matanya saat melihat bahwa dirinya masih dilantai 4. Dengan usaha penuh Marsha mulai berlari dan mengabaikan luka yang ada di kedua lututnya.
Lagi-lagi Marsha meringis, seolah kehilangan separuh nafasnya, gadis itu terduduk dilantai, tangisnya mulai pecah, dia merutuki nasib dan takdirnya, yang lagi-lagi dipermainkan oleh suaminya sendiri.
Dia benci kepada dirinya sendiri, yang begitu lemah, dia benci kenapa dia dengan senang hati menerima perjodohan demi membuat kedua orang tuannya bangga.
Persetan dengan janji.
Marsha mulai bangkit, saat ini dia masih berada di lantai 6, mungkin bastard itu sudah sampai dilantai tempat ruangannya berada, dan Marsha semakin membenci dirinya sendiri karena menuruti keinginan bodoh suaminya itu. Iya, Suami yang sama sekali tidak diharapkan Marsha.
Zac memperhatikan John dengan saksama, setelah datang lelaki itu mendapati John yang tengah berdiri tepat di ruangan bosnya dengan raut wajah khawatir, membuat Zac melupakan sesuatu.
"Apa yang akan Anda lakukan, Tuan?” Tanya John setelah menjelaskan semua berita yang dia bawa
"Hentikan, jangan sampai Luke memenangkan peperangan ini!!” Jawab Zac dingin, menatap kosong dengan sorot mata yang tajam. John pamit mengundurkan diri setelah mengiyakan perintah atasannya.
Zac mengerang, tangannya terkepal kuat, jari-jarinya memutih karena cengkeraman tangannya sendiri. Dengan cepat lelaki itu mengambil kunci mobil dan berjalan keluar dengan cepat.
Setelah di lobby Zac menghentikan langkahnya saat menuju tempat parkir, dia mengingat sesuatu.
"s**t" Zac berlari sembari merogoh sakunya dan mengambil benda pipih untuk menelepon seseorang.
"Zayn, Apakah ada gadis di ruanganku? Atau di depannya?” Tanya Zac dengan nada begitu cemas, dia melupakan Marsha, gadis itu belum menampakkan wajahnya saat Zac di sana.
"Tidak ada Tuan, di sini tidak ada siapa-siapa, begitu pun di ruangan Anda.” Jawab Zayn yang tak lain adalah sekretaris Zac. Zac kembali mengumpat, dengan segera dia mengecek CCTV di ponselnya, rekaman kantornya semuanya terlihat begitu jelas, Zac mengetikkan sesuatu dan terlihatlah ruangan Tangga darurat, ya setiap lantai ada CCTV yang tertata rapi di setiap pojok dinding ruangannya. Dan Zac membulatkan matanya saat melihat Marsha tak sadarkan diri di lantai dua belas "Gadis Bodoh" umpat Zac dan berlari memasuki lift lalu menuju lantai dua belas.
Zac melihat Marsha tampak kacau, penuh keringat dan kedua lututnya berdarah, Zac semakin merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia menyuruh Marsha melewati tangga ke ruangannya yang begitu tinggi? Dengan cepat Zac menggendong Marsha dan membawanya pulang, tak lupa di jalan dia memanggil Topan sahabatnya. Zac berlari tak peduli dengan pandangan heran seluruh karyawannya, yang penting sekarang Marsha sadar dan Zac lega akan hal itu.
"Kau berulah lagi Zac?” Ucap Topan yang baru saja keluar dari kamar Marsha, "Demi Tuhan, gadis itu baru saja sembuh" lanjut Topan dengan pandangan tak percaya melihat sahabatnya yang satu ini.
"Diamlah!, dan segera pergi jika urusanmu selesai.” Jawab Zac dingin, tatapan matanya tajam ke arah Topan.
"Okelah, mungkin aku akan benar-benar merebutnya darimu.” Ucap Topan dengan seringai ”Dan aku tidak akan main-main dengan ucapanku jika kau memukulku sekali lagi.” Ucap Topan cepat saat tahu Zac akan melayangkan pukulannya yang terhenti diudara.
"Pergilah!, sebelum aku menguliti tubuhmu di sini.” Ucap Zac dingin tanpa memandang Topan yang mulai menahan tawanya.
"Kau sangat aneh Zac.” Jawab Topan sembari meninggalkan Zac.
Zac masuk ke dalam kamar Marsha, melihat gadis itu yang tertidur dengan lelapnya, Zac berlutut kini wajahnya mendekat ke wajah Marsha hanya berjarak 2 jengkal saja, Zac mencium ujung hidung Marsha, dan mengusap lembut pipi gadis itu.
"Sekali lagi Maafkan aku.” Ucap Zac yang sama sekali tidak didengar gadis itu, Zac menegakkan tubuhnya lagi, saat Marsha mulai menggeliat. Zac menatap Marsha lama, lalu berlalu meninggalkan Marsha yang masih bergulat dengan tidurnya.
•••
Topan tak habis pikir dengan jalan pikir Zac yang tak lain adalah sahabatnya. Bagaimana bisa pria itu begitu membenci gadis cantik seperti Marsha?.
Persetan dengan balas dendam
Toh yang berulah bukan Marsha, Marsha hanya korban, kalau dia mau balas dendam tentu saja bukan ke gadis malang seperti Marsha, yang Topan yakini tidak tahu apa pun. Topan menuju tempat parkir, hendak mengambil mobil yang masih di pelantaran penthouse Zac Trellix. Namun langkahnya terhenti saat melihat Adam Belvisto, yang tak lain adalah sahabatnya juga.
"Kau mau menemui Zac?” Tanya Topan, yang dibalas tepukan bahu dari Adam.
"Kenapa kau ke sini? Siapa yang sakit?” Tanya Adam saat melihat Topan membawa koper peralatan rumah sakitnya. "Ah iya, Zac bodoh itu membuat istrinya celaka lagi.” Adam mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, tatapannya tajam memandang Zac yang sedang melihatnya dari balkon kamarnya, dengan tatapan mengejek.
"Apa yang sedang terjadi pada gadis itu?” Tanya Adam lagi, lalu Topan menjelaskan semuanya saat Zac memperkosanya, dan yang terakhir, Zac menyuruh Marsha melewati tangga darurat untuk menuju ke ruangannya.
“What the f**k, ruangan bastard itu dilantai empat puluh satu, bagaimana bisa b******n itu menyuruh Marsha melewati tangga?" umpat Adam, Topan hanya menaikkan bahunya, dia juga masih belum paham melihat sahabatnya yang satu itu.
"Ini tidak bisa dibiarkan.” lanjutnya Adam yang masih bisa didengar oleh Topan. Adam berlari menuju mobilnya dan pergi meninggalkan penthouse bak istana itu. Topan menaikkan satu alisnya melihat reaksi Adam lalu mengendikan bahunya acuh setelah itu melangkah pergi dari kediaman Trellix dan menuju rumah sakit tempatnya bekerja.
Adam mengerang, pantas saja Marsha tidak bisa dihubungi akhir-akhir ini, Adam selalu merindukan gadis itu, merindukan senyumnya, merindukan segalanya tentang gadis itu, entah perasaan apa yang sedang Adam rasakan, tapi Marsha begitu menghantui pikirannya, mengingat tak ada kabar dari Marsha, Adam sama sekali tak bisa fokus bekerja, takut jika Zac berulah lagi, dan dugaan Adam benar, saat mengetahui semuanya dari Topan. Dan itu semua tidak bisa dibiarkan.
Zac sudah keterlaluan, lelaki itu harus diberi pelajaran supaya sadar, Adam tak habis pikir melihat Zac yang begitu tega menyiksa gadis sebaik Marsha, hanya untuk membalaskan dendamnya.
Arrggghhh.
Adam meremas setir mobilnya, dia harus bertemu Marsha, Adam harus memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja, tapi tidak, Zac tidak akan mengizinkan dirinya masuk dan menemui Marsha, sudah terlihat jelas dari tatapan pria itu saat mengejeknya, membuat Adam sangat jengkel sekali.
“Hahaha, pria arogan itu harus diberi pelajaran!!” Suara mengerikan itu terdengar jelas di sebuah ruangan yang sangat menakutkan, pria bertubuh tinggi itu menatap kosong dengan sorot mata tajam. Semua anak buahnya hanya mendengarkan dengan pandangan takut melihat nada yang keluar dari mulut atasannya.
“Aku akan menghancurkannya!!" janji pria tampan namun terkesan menakutkan. "Lucas, lakukan apa yang telah aku perintahkan, kita harus bergerak cepat, agar psikopat itu tak mengetahuinya.”
“Baik, Tuan.” Jawab Lucas yang tak lain adalah orang kepercayaannya.
Marsha mendudukkan bokongnya dan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Gadis itu menatap pedih ke arah kedua lututnya yang diperban, ia sangat ingat, bagaimana Zac menyuruhnya menaiki tangga menuju ruangannya yang begitu tinggi.
"Bodoh." umpat Marsha mengejek dirinya sendiri yang begitu lemah. Dia berusaha untuk terlihat tegar di hadapan Zac, tapi bahasa tubuhnya seolah dia menggigil takut mendengar ancaman yang begitu memuakkan bagi Marsha.
Keputusan untuk ikut campur di kehidupan Suaminya membuat Marsha berpikir dua kali, dia tidak ingin ketahuan dan mendapatkan hukuman lagi, Zac tidak pernah melihat apakah dia laki-laki atau perempuan, tua ataupun muda Zac tetap akan menghukumnya dengan berat. “Dasar Psikopat.” Umpat Marsha.
Marsha bangkit dari tempat tidurnya, lututnya yang masih sakit membuatnya susah berjalan, Maria datang membawa nampan berisi bubur dan minuman untuk Marsha "Nyonya sebaiknya jangan berjalan dulu, kan kakinya masih sakit.” Ucap Maria sedikit khawatir, Marsha tersenyum dan menggeleng pelan "Kalau aku tetap tidur, Maka luka ini akan semakin manja, dan tidak sembuh-sembuh Maria.” Jawab Marsha, Maria menatap Marsha dengan sedih. "Kapan penderitaan wanita ini berakhir?, sungguh dia adalah wanita cantik, tidak hanya wajahnya namun juga hatinya " batinnya membuat Maria berkaca-kaca
"Hey Maria.” Panggil Marsha untuk kedua kalinya, Maria terbuyar dari lamunannya, dan membantu Marsha untuk kembali duduk di bibir ranjang, setelahnya memberikan bubur yang sempat di bawahnya, dan menyuruhnya untuk makan, dan Marsha tidak menolak, membuat Maria tersenyum senang. "Saya ke dapur dulu ya Nyonya, kalau butuh apa-apa panggil saya.” Ucap Maria, sebelum Maria membalikkan tubuhnya, kemudian Marsha memanggilnya membuat langkah Maria terhenti.
"Maria, setelah kakiku sembuh, kau mau kan mengajakku berkeliling melihat Penthouse ini?" pinta Marsha, Maria tersenyum dan mengangguk. "Siap Nyonya, semoga cepat sembuh ya!! “ Jawab Maria dibalas senyuman lebar dari Marsha.
Zac membanting setir dan menginjak rem dengan mendadak, decitan ban mobil terdengar jelas, untung saja dia tidak ada di dekat jurang, kalau tidak nyawanya sudah berakhir dalam hitungan detik yang lalu. Zac mengernyitkan alisnya, perihal dia melihat beberapa pria berbadan besar sedang memukuli pria lain, pria yang tak berdaya itu tak kalah jauh, tubuhnya yang besar dan berotot seharusnya bisa menghabisi beberapa pria itu, namun karena tandingannya lebih banyak sehingga membuatnya tak berdaya.
Dooorrrrr
Dooorrrrr
Dooorrrrr
Beberapa pria telah tumbang akibat tembakan yang berasal dari Zac, Zac menghampiri mereka dan dengan cepat memukuli pria yang hendak mencelakainya.
Doooorrrrr
Zac menembaknya lagi tepat di dahi pria itu, sehingga semuanya tumbang, Zac mendekat ke arah pria yang tak berdaya itu mengangkat tubuh besarnya dan membawanya menuju mobilnya, Zac masuk ke balik kemudi dan melajukan mobilnya ke rumah sakit.
Setelah dokter mengatakan bahwa pasien dalam keadaan tidak mengkhawatirkan, dan sebentar lagi sadar, Zac segera melangkahkan kakinya dan berdiri tepat di samping pria yang sedang memejamkan matanya, dengan tatapan angkuh dan tangan yang sengaja dimasukkan ke dalam saku.
Selang beberapa menit pria itu membuka kedua matanya, lalu meringis kesakitan dengan memegang kepalanya, Zac masih menatapnya dengan pandangan datar, tanpa berniat untuk menolong.
Merasa diperhatikan pria itu memandang Zac dengan tatapan tak kalah dingin "Siapa kau?” Tanya pria itu kepada Zac, Zac yang melihat tatapan dingin itu hanya tersenyum kecut "Aku yang menolongmu, dan aku yang menghabisi semua musuh-musuhmu.” Jawab Zac dengan tatapan tajam, pria itu terkejut, dan melihat Zac dari atas hingga bawah.
“Sepertinya kau bukan orang sembarangan.” Ucap Pria itu lemah, Zac menarik sudut bibirnya tipis, namun terpaksa. "Seperti yang kau lihat, aku adalah Zac Trellix" pernyataan Zac membuat pria itu menganga, dia tidak percaya bahwa yang menyelamatkan nyawanya adalah Zac Trellix, orang yang bukan main-main tentang gelarnya, orang yang terkenal sangat ditakuti dan disegani banyak orang.
"Terima kasih, dan maaf sudah menatapmu dengan dingin tadi.” Ucap Pria itu, lalu berusaha untuk duduk, namun dilarang oleh Zac, dan pria itu pun menuruti. "Siapa namamu?” Tanya Zac masih dengan tatapan datarnya. "Aku Nick.” Jawab pria itu. Tanpa menjawab, Zac melangkahkan kakinya keluar ruangan dan melanjutkan ke tujuannya yang sempat terhambat tadi.
Nick akhirnya bisa bernafas lega, dia lolos dari ancaman sepupunya sendiri. Akibat kejadian itu Nick berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan bersujud dikaki Zac dan mengabdi kepada lelaki yang telah menyelamatkan nyawanya.
Nick telah diperbolehkan pulang oleh dokter, sebelum Nick benar-benar pergi, lelaki itu berusaha bertanya kepada resepsionis tentang alamat Zac, setelah mendapatkannya, Nick menaiki taksi hendak ke rumah tuannya itu.
Zac sedang membaca laporan dari sekretarisnya, pria itu terlihat seperti biasa, tatapan dingin dan tanpa senyum.
"Tadi Tuan John datang ingin menemui Anda, tapi karena Anda tidak dapat dihubungi beberapa jam lalu, akhirnya beliau menitipkan ini.” Sembari menyodorkan sebuah Map yang memiliki sandi, dan Zac sangat tahu sandinya itu, John memang orang kepercayaan Zac, meskipun menitipkan barang kepada Sekretaris Zac, Setidaknya Map itu memiliki sandi rahasia yang hanya diketahui Zac dan John Saja. "Baiklah kau bisa pergi!!” Ucap Zac setelah menerima Map dari Zayn Sekretarisnya.
Zac memijat pelipisnya, dia sangat ingat tatapan Adam sahabatnya saat mengetahui kondisi gadis itu dari Topan.
"b******k itu menyukai milikku rupanya.” Seru Zac dengan senyuman jahat. "Kau salah telah ikut campur di kehidupanku Tuan Belvisto.” Ucapnya lagi kepada dirinya sendiri. "Marsha adalah milikku, dan hanya aku yang berhak atas dirinya.”
Kedua lutut Marsha mulai membaik, gadis itu menagih janji ke Maria untuk mengajaknya berjalan-jalan di sekitar Penthouse Zac, ruangan demi ruangan telah ia lalui, sungguh cantik rumah ini. Memang Marsha akui Zac sangatlah kaya raya, Marsha melanjutkan perjalanannya sendiri menuju taman belakang, setelah Maria berpamitan untuk mengurus sesuatu. langkahnya terhenti, sebuah pintu yang tertutup menarik perhatiannya, dan Maria belum mengajaknya ke sana, pintu yang terlihat jarang dibuka, dengan rasa penasaran Marsha menghampiri dan membuka ruangan.
Gelap
Itu yang pertama kali Marsha rasakan ketika masuk ke dalam ruangan, Marsha berusaha mencari tombol untuk menyalakan lampu, setelah lampu menyala, Marsha membelalakkan matanya, dan menutup mulutnya dengan kedua tangan "Ruangan apa ini? Berantakan sekali.” Seru Marsha kepada dirinya sendiri. Marsha melangkahkan kakinya dengan mengibaskan tangannya karena debu yang berebut menyerbu hidungnya, seperti dugaannya, ruangan ini memang sengaja tidak dibersihkan, tidak mungkin kan, Zac kekurangan pembantu, itu adalah hal yang sangat mustahil.
Marsha menatap sosok yang berada di bingkai foto, yang sengaja ditutup dengan kain putih, dia mengenal wanita itu yang tak lain adalah ibu dari suaminya sendiri, sedang tersenyum dan menggendong anak laki-laki sekitar umur empat tahun, tangannya yang mungil menggenggam lengan seorang pria yang Marsha yakini kalau itu adalah Ayahnya.
"Keluarga yang sangat bahagia.” batin Marsha.
Beberapa foto yang telah rusak akibat remukkan kembali menarik perhatian Marsha, kedua tangan gadis itu terulur mengambil dan melihat foto seorang pria yang sengaja wajahnya dicoret-coret dengan darah.
Marsha merasa mual, dan membuang foto itu, lalu kedua tangannya kembali mengambil foto yang lain, dan terkejut saat melihat foto dirinya saat masih remaja. “Apa maksudnya semua ini?" Marsha menemukan tulisan tangan dibalik fotonya, dan Marsha merasa jantungnya berhenti berdetak saat itu juga. "Aku akan menghancurkanmu.”