Part 07

2916 Kata
Kejadian yang telah menimpa Marsha membuat gadis itu trauma, menangis seharian. Itulah yang di lakukan gadis malang itu saat ini. Bagaimana tidak? Dia telah menjadi korban kekerasan oleh suaminya sendiri. Makanan yang disiapkan Maria pun tak dilirik sama sekali oleh Gadis itu. Membuat Maria khawatir dan takut jika majikannya itu jatuh sakit. Air mata Maria membendung di kedua pelupuk matanya. Bayangan tadi pagi membuatnya ingin sekali memaki Tuannya itu. Tapi apalah daya, Maria hanyalah seorang pembantu yang di percaya untuk menjaga mansion besar ini. "Mariaaaa.” Panggil Zac dengan nada sedikit membentak, Maria terlonjak kaget dan mengalihkan pandangannya dar Marsha. "Mariaaa.” tambah Zac sedikit geram karena wanita itu tidak menyahuti panggilannya. "Iya T..uuan “ Jawab Maria sedikit menunduk, "Di mana wanita itu?" Zac mengepalkan tangannya, rasanya dia ingin sekali menghabisi Wanita itu saat ini. "Nyonya ada di kamarnya Tuan. Seharian ini dia belum makan, makanan yang saya siapkan pun belum disentuh sama sekali." Zac menatap Maria tajam, Pria itu melebarkan langkahnya menghampiri Marsha. "Kasihanilah Nyonya Tuan, Beliau terlihat terluka sekali, tubuhnya panas, Saya khawatir jika terjadi apa-apa dengan Nyonya.” Ucap Maria dengan menunduk lebih dalam lagi, Maria tahu pasti Tuannya tidak akan suka melihatnya mengikut campuri urusan majikannya. Deggg!!! Zac terhenti, hatinya seperti tak nyaman saat mendengar gadis itu terluka karenanya. Tidak Zac!! Bukankah itu yang kau mau? harusnya kau senang dia menderita, itu tandanya rencanamu berhasil, kau yang memenangkan peperangan ini Zac, iya, Kauuu!!. Batin Zac dan melanjutkan langkahnya menemui incarannya itu. Maria menggeleng sedih melihatnya. "Bangun, Jalanggg!!!" bentak Zac dengan menyiramkan air dingin ke tubuh Marsha. Marsha terkejut dan refleks meloncat dari ranjangnya. Kepalanya terasa berat dan… Brukkkkk.. Wanita itu pingsan, Zac menangkap tubuh Marsha, Pria itu memeriksa suhu tubuh Marsha. Dengan menempelkan punggung tangannya di dahi Marsha. Panas Sekali?. Zac membopong Marsha dan membawa wanita itu ke kamarnya. Karena saat ini ranjang Marsha telah basah karenanya. Zac sangat gelisah saat Topan belum juga keluar dari kamarnya. Topan adalah dokter Pribadi alias sahabat Zac Trellix. Ceklek.. Secepat kilat. Zac menghampiri Topan dan menatap Pria itu dingin seperti biasanya.” Bagaimana keadaannya?” Tanya Zac kali ini menunjukkan raut wajahnya cemas. Topan menautkan alisnya heran. Tak biasanya Zac menanggapi seperti itu. Karena biasanya Zac hanya menunjukkan tatapan tajam ke semua orang terkecuali kepada Ibunya. "Apa kau sudah gila?” Jawab Topan menatap Tajam Zac. Zac membalas tatapan Topan tak kalah tajam. "Hentikan celotehmu dan katakan apa yang terjadi dengannya?" "Kau memperkosanya?" Pertanyaan Topan membuat Zac memundurkan langkahnya. Ingatannya kembali saat ia mengambil keperawanan Marsha. Apakah karena itu Marsha sakit? "Kau membuat gadis itu trauma bodoh, dia sangat ketakutan, tubuhnya gemetar saat matanya menatapku, dia memohon bahwa kau tidak boleh menyentuhnya lagi, dan….” “Dan apa?” Tanya Zac cepat. Saat Topan tak kunjung membuka suara. “Apa yang kau lakukan pada bahunya? Demi Tuhan Zac, semua orang tahu bahwa dia adalah milikmu, tidak perlu lagi mengukir namamu dibahunya. Gila kau Zac.” Zac menyeringai, dan mendapat galengan dari Topan. "Dan kau juga telah membuat v****a gadis itu membengkak. Kau tahu dia masih perawan, tapi kenapa kau melakukannya dengan kekerasan, dasar bodoh, dia belum siap, tapi kau sudah menerobosnya." "Jangan menghinaku, atau kau akan kuhabisi sekarang juga.” "Terserahlah. Aku tidak takut akan ancamanmu.” Jawab Topan dengan melenggang pergi meninggalkan Zac. "Jangan pergi!, Katakan apa yang harus aku lakukan?? " Topan menghentikan langkahnya dan kembali menghampiri Zac "Oh kau masih cemas rupanya.” "Cepat jawab, atau aku tidak main-main dengan ucapanku tadi.” Topan berdecap kesal. "Dia masih tidur, kau tenang saja di sana sudah ada obat, kau minumkan nanti saat dia bangun, dan sesudah makan " "Dan ingat Zac!?" "Jangan kau ulangi lagi, kalau kau membencinya, berikan saja padaku.” Buggh. "Jaga bicaramu Dokter bodoh, atau aku akan membuatmu susah untuk bicara lagi.” "Hahaha, dasar b******n!" Topan menyeringai, saat melihat Zac terpancing godaannya. Topan tahu Zac sangat mencintai Marsha. "Kau mulai mencintainya ya? Haha jujur lah pada sahabatmu ini.” Goda Topan dengan cengiran tanpa salah. "Hentikan basa-basimu.” Jawab Zac sembari melangkah pergi meninggalkan Topan yang menggeleng geli melihat tingkah laku Sahabatnya. Angin malam menerpa wajah tampan yang tengah berdiri kokoh di balkon kamarnya, dengan sesekali menyesap rokok dan menyembulkan asapnya ke udara. Iya, si tampan itu adalah Zac Trellix, Pria arogan yang sangat tak berperasaan. Selintas kenangan mengusik pikirannya. Kejadian yang membuat Zac menjadi Pria yang sangat tak berperasaan. Namun perkataan Topan membuatnya berpikir keras, Dia sudah memperkosa istrinya sendiri, dan Zac juga sangat terkejut. Istrinya itu Masih Perawan? Wanita yang selalu dijulukinya sebagai perempuan jalang, wanita penggila harta yang selalu haus akan uang, wanita yang sama dengan p*****r-pelacurnya, dan ternyata itu semua salah. Zac mengepalkan tangannya, dan sesekali memejamkan matanya, masih merasakan embusan angin yang berebut menerpa wajahnya. Dering ponsel membuyarkan aktivitasnya, dengan cepat dia mengangkat tanpa melihat nama yang tertera di ponselnya. "Selamat Malam, Mr. Trellix” Sapa seseorang dibalik telepon, Zac menegang, dia mengenal suara itu, suara yang telah mengubah kepribadiannya, yang sudah membuatnya menjadi pria yang tak berperasaan. "Ada apa kau menghubungiku?” Jawab Zac dengan nada dingin. "Ayolah! jangan jadi pria yang membosankan.” "Jangan berbasa-basi, katakan apa yang kau mau?” Jawab Zac sembari meremas batang rokoknya yang masih dalam keadaan menyala, dan membuangnya begitu saja setelah rokok itu hancur dan mati. "Aku sedang merindukan, Anakku.” Zac tersenyum kecut, dia mengetatkan rahangnya, tatapannya tajam tangannya terkepal, ingin sekali dia menghabisi seseorang yang ada dibalik telepon itu. "Anakmu sudah Mati.” Tiba-tiba dalam hitungan detik terdengar gelak tawa di seberang telepon, Zac menggeram marah. "Ayolah Zac!, buang pikiran kotormu tentang Papa.” "Papaku sudah Mati, Ingat itu baik-baik Tuan Keppey" karena tidak ada jawaban dibalik telepon Zac melanjutkan "Oh ayolah, bahkan aku benci saat mengingat belakang namaku, diambil dari belakang namamu.” Di ranjang. Marsha yang terbangun dari tidurnya dan merasa sakit di bagian kepalanya, dengan usaha keras dia bangkit untuk menyenderkan punggung nya di kepala ranjang. Matanya mulai mengamati ruangan yang saat ini dia tempati, perihal ini bukan kamarnya. Matanya mulai memanas saat mengingat bahwa ini kamar Psikopat itu. Ah mengingatnya hanya membuat hatinya sakit. Marsha mendengar geraman pria itu, sepertinya bukan untuk dirinya, tapi untuk siapa? Marsha mencoba bangkit dan melihatnya sendiri, apa yang sedang pria itu lakukan, dan kenapa kelihatannya dia marah. "Pria itu selalu seperti itu, apa baik dan juga lembut tidak ada dikamus besarnya?" gerutu Marsha, dengan sesekali memperhatikan Zac. Marsha kembali melangkahkan kakinya menuju ranjang dengan pelan dan menidurkan dirinya seperti semula saat Zac mulai mematikan telepon dan hendak berbalik. Namun bukan Zac namanya, jika dia tidak tahu apa-apa. "Apa kau sedang menguping?" ••• Marsha melahap sedikit demi sedikit sarapannya. Gadis itu sama sekali tidak memiliki selera untuk makan, namun permohonan dari Maria, membuat Marsha terpaksa harus memakan makanan yang terasa pahit dilidahnya. Setelah sesi makannya selesai, Marsha bangkit dan melangkahkan kakinya dengan pelan menuju kamarnya. Sebentar lagi Pria penguasa itu akan datang, dan Marsha tidak ingin melihat wajah yang membuatnya semakin sakit hati. Di kamarnya. Marsha menatap nanar keluar jendela, kedua matanya menangkap tumbuhan hijau yang menghiasi taman di rumah ini. Marsha akui pemiliknya memang memiliki selera yang sangat elegan dan sempurna. Lihat saja dari bangunan, tata letak. Pria itu membangun Mansion dengan interior yang sangat berkelas. “Kau sudah makan?” Suara itu menghilangkan keheningan di ruangan kamar Marsha. Wanita itu tahu, siapa pemiliknya, Marsha tidak terlalu terkejut dengan kedatangan pria itu, karena dirinya sudah menduganya dari awal. “Sudah” Jawab Marsha datar. Marsha yang berdiri membelakangi Zac memejamkan kedua matanya, perasaan takut kembali menyerangnya. Pria itu berjalan mendekati Marsha, dan setiap langkahnya mampu membuat Marsha semakin bergidik. "Seharusnya kau tak melewatkan obatmu.” Ucap Zac sembari menyodorkan obat yang siap untuk di minum, beserta dengan air putihnya. Marsha melihat ke arah Zac sebelum mengambil obat dari tangan lelaki itu. Dan mulai meminumnya dalam hitungan detik. “Hari ini kau boleh istirahat. Tapi besok, kau harus kembali memakai seragam yang pernah Maria berikan padamu.” Zac memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan mengalihkan tatapannya dari Marsha ke taman hijau yang berada di luar jendela. Marsha meringis. Dia kira…. kemudian Wanita itu menggeleng. Zac tetaplah Zac. Zac menyerongkan tubuhnya dan melihat Marsha yang berada di sebelahnya. “Hapus pikiranmu itu, aku hanya tidak ingin kau mati dengan cepat karena penyakitmu. Setelah kau sembuh, kau akan berurusan lagi denganku.” Zac membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Marsha yang tengah menangis dalam diam. “Zac!” Langkah Zac terhenti saat mendengarkan panggilan Marsha untuknya, namun pria itu masih membelakangi Marsha. “Apa sebenarnya yang kau mau dariku?” Marsha berusaha mengeluarkan suaranya senormal mungkin. Marsha sudah tidak tahan, dia selalu menerima hukuman atas sesuatu yang tak pernah ia lakukan. "Kehancuranmu.” Jawab Zac dingin, lalu kembali melangkahkan kakinya keluar, sebelum Marsha mengeluarkan suaranya kembali. Marsha terdiam di tempatnya. Bibirnya melengkung, namun air matanya semakin deras membanjiri wajah cantiknya. Wanita itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, kakinya mendadak tidak mampu menopang tubuhnya yang mungil. Marsha sudah ambruk ke lantai dengan tangis yang semakin histeris. Mulutnya mengeluarkan isakkan yang begitu pedih dan menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya. Kehancuranmu Perkataan Zac terngiang-ngiang ditelinga Marsha, Wanita itu menutup kedua telinganya dan berteriak "Hentikannnn!!” “Aku sudah hancur sejak bertemu dengan mu.” tambahnya dengan suara sedikit berbisik. Zac mengepalkan tangannya, Pria itu tidak benar-benar pergi meninggalkan Marsha. Zac melihat, bagaimana hancurnya wanita itu saat dirinya menginginkan kehancurannya. Tanpa sadar hatinya nyeri, melihat wanita itu menangis karenanya. Tidak Zac. Zac kembali ke tempat Marsha saat wanita itu tidak bergerak sedikit pun, tangis histerisnya kini tergantikan dengan suara deru nafas Wanita itu. Marsha tertidur setelah menangis Zac mengangkat Marsha dan menidurkan Wanita itu di ranjang, lalu menyelimutinya hingga ke leher, Zac merapikan anak rambut Marsha yang menghalangi mata sembab Gadis itu, dan menghapus keringat di pelipisnya. Zac memundurkan langkahnya, dan mengamati wajah istrinya dengan cermat. "Kebencian itu sudah mendarah daging Marsha, apalagi sejak aku mengenalmu. Iya, kau benar, aku yang membawamu ke dalam lingkaran api kehidupanku, tapi ketahuilah aku tidak benar-benar menginginkannya.” Ucap Zac kepada Marsha, Zac selalu berharap bahwa Marsha mendengarkannya, namun kenyataannya suaranya hanya angin lalu karena gadis itu sedang tertidur. Zac pergi meninggalkan Marsha dengan langkah dan tatapan seperti biasanya. Zac memasuki ruangannya dan terkejut saat melihat Zefra duduk di kursi kebesarannya. "Oh ayolah baby, kau terlambat, tidak seperti biasanya.” Ucap Zefra sembari melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, lalu wanita itu melangkahkan kaki nya menuju Zac dan mulai bergelayut manja seperti biasa. Zac memang tidak pernah terlambat, dia adalah pria yang sangat disiplin perkara waktu, meskipun kantor ini adalah miliknya, dia selalu memberikan contoh yang baik bagi karyawan-karyawan yang lain. Zac terlambat karena dia menunggu Marsha menghentikan tangisnya, Zac ingin tahu seberapa pengaruhnya Marsha saat Zac mengatakan akan menghancurkannya Benarkah itu? Benarkah Dia akan menghancurkan Marsha? Lalu kenapa dia merasa sakit di dadanya saat gadis itu meringkuk dan menangis seperti tadi? Lumatan di bibirnya membuat Zac kembali ke alam sadar, Zac merengkuh tubuh Zefra dan mendudukkannya di meja kerja miliknya. "Lain kali, jangan masuk ke dalam ruanganku, sebelum mendapat Ijin dariku, kau harus ingat itu Zefra!" Zefra cemberut dan kembali menggoda Zac dengan melingkarkan tangannya di leher lelaki itu dan menghilangkan jarak antara dirinya dan Zac. "Aku ini kekasihmu Zac, dan sebentar lagi aku akan menjadi Istrimu.” Zac tersenyum miring dan melepaskan cekalan Zefra di lehernya "Kau memiliki batasan untuk masuk ke dalam hidupku Zefra.” Ucap Zac dingin, karena tidak ada jawaban Zac melanjutkan " Bagiku kau hanya p*****r, yang datang kepadaku karena harta yang kumiliki.” "Zac apa yang kau katakan? aku mencintaimu.” Zefra memeluk Zac dan menuntun tangan lelaki itu untuk menyentuh payudaranya. "Hentikan!!" Zac mendorong Zefra menjauh dan menatap wanita itu dengan tatapan jijik. "Jangan mencoba untuk membodohiku, Jalang” Ucap Zac dengan nada dingin "Kau hanya w************n yang tergila-gila dengan hartaku.” Zefra menunjukkan wajah terkejutnya dengan sedih. Zac melangkah kembali mendekati Zefra, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Zac menaikkan dagu Zefra dengan benda lancip yang tengah dibawanya. Pria itu menyeringai saat melihat wajah ketakutan Zefra. “Sepertinya kau datang di waktu yang tepat, Sayang.” Zefra menggeleng cepat. “Jangan Zac!!” Zac semakin memajukan langkahnya hingga kini Zefra terpojokkan di dinding ruangan Zac. Zac menatap binar mata Zefra. Namun wanita itu menatap Zac takut. Dalam hitungan detik, Zac menancapkan pisau kecilnya tepat di mata kiri Zefra. Wanita itu berteriak kesakitan. “Hahaha.” Zac tertawa sangat keras. Melihat Zefra kesakitan entah kenapa membuat dirinya merasa puas. “Zac hentikan! Maafkan aku.” Bukannya menghentikan Zac malah memutar pisaunya hingga terdengar gesekan antara tulang wajah Zefra dan juga pisau kecil milik Zac. Zac memperdalam tusukannya hingga bola mata Zefra terjatuh ke lantai dengan posisi masih terbelalak. Zac menarik pisaunya dan kembali menancapkan ke mulut Zefra yang tengah menganga. Wajah wanita itu terlihat mengenaskan. Mulutnya mengeluarkan darah yang begitu banyak, sama seperti mata kirinya. Zefra masih menatap Zac dengan raut wajah pengampunan. Wajah merah gadis itu menunjukkan bahwa ia sudah sangat kesakitan. Zac menarik kembali pisaunya membuat Zefra bernafas lega, lalu dalam hitungan detik. Zac menjilat lidah Zefra dan menghisap habis darah yang membanjiri mulut wanita itu. Kemudian menarik lagi wajahnya dan kembali menusukkan pisau kecilnya hingga menembus dagu wanita itu. Zac tertawa terbahak-bahak, saat melihat raut wajah Zefra yang begitu ia sukai. Satu matanya membelalak, mulutnya menganga, dengan tancapan pisau tajamnya. Wanita itu terjatuh ke lantai. Zac menunduk, dan menarik kembali pisaunya, setelah itu menghubungi John bawahannya. “Urus dia!!” Ucapnya dingin, lalu mematikan sambungannya dan kembali duduk di kursi kebesarannya. Zac memandang jauh ke arah jendela kebesaran di kantornya, terlihat banyak orang berlalu lalang yang tampak begitu kecil bagi Zac, ponsel Zac berbunyi membuat sang empunya memalingkan dan menatap ponselnya sebelum menerima panggilan. "Kukira kau akan menghapus nomorku setelah menghapus pertemanan kita “ Ucap Zac dingin "Aku tidak pernah menyesal jika hal itu terjadi.” Jawab Adam dengan seringai dibalik telepon, yang pasti tidak terlihat oleh Zac "Tapi karena aku bukan anak kecil, jadi aku masih cukup waras untuk hal itu.” "Jangan mendekatinya!” Ucap Zac penuh ancaman. "Kau tidak berhak ikut campur ke dalam KELUARGA KECILKU.” Ucap Zac lagi dengan penuh penekanan di kata keluarga kecilku. "Bukankah kau tak menginginkannya? Kau mempermalukannya kepada seluruh staf karyawanmu, kau memperlakukan dia layaknya budak.” karena tidak ada jawaban dari Zac, Adam melanjutkan "Dia gadis yang baik Zac, kau harus menyadari itu, dia tidak pantas mendapatkan dirimu yang bastard.” Aku tahu. Batin Zac Zac mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, entah kenapa perkataan Adam membuat Zac sakit hati. "Oh, jadi kau mulai menyukainya?" pertanyaan Zac seperti Pernyataan bagi Adam, Pria tampan itu tersenyum miring dan menjawab "Hanya pria bodoh sepertimu yang tidak menyukainya dan malah membencinya, Zac.” Adam tersenyum kecut. "Kau tidak akan bisa mendekatinya.” Jawab Zac "Dia milikku, dan dia akan hancur Di tanganku.” Zac tersenyum sinis, dia tahu Adam pasti terkejut mendengar ucapannya "Kau akan menyesal Zac, kebencianmu telah mengambil alih dirimu, kau akan menyesal” Jawab Adam dengan mematikan telepon nya sebelum Zac mengatakan apa pun. "Tidak, Aku tidak akan menyesal, karena sedikit lagi kebencianku akan segera dibayarkan.” Marsha mendengar, iya, dia mendengar. Dia tidak benar-benar tertidur. Perlakuan lembut Zac membuat Marsha berpikir dua kali, dan Marsha harus mencari tahu sendiri, apa yang membuat lelaki itu membencinya. Air mata Marsha melolos begitu saja, membuatnya begitu sesak. Kenapa harus dirinya? kenapa? Kenapa bukan Wanita lain saja, kenapa harus dirinya yang masuk ke dalam kehidupan Zac? Marsha menghela nafas kasar, keputusannya untuk mencari tahu kebenaran tentang Zac sudah bulat, dan dia yakin, tidak ada keputusan tanpa adanya alasan, dan keputusan yang Zac ambil adalah untuk menghancurkannya. Cepat atau lambat, Marsha akan tahu semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN