Marsha menghentikan langkahnya saat mendengar suara tepukan tangan. Dia membelalakkan matanya saat melihat pria itu, pria yang ia takuti menghampirinya dan tersenyum mengejek kepadanya.
“Bagus, kau pergi dan datang di tengah malam seperti ini dengan orang yang baru saja kau kenal.” Ujar Zac sembari tetap melangkahkan kakinya menghampiri Marsha yang diam di tempatnya.
"Apa saja yang sudah kau lakukan dengannya? Oh ayolah, kau memang jalang yang menjijikkan. Apa kau akan melakukannya dengan semua temanku?” Ucap Zac lagi, namun kali ini dengan nada penuh penekanan di setiap katanya.
Marsha mendongak, melihat manik mata abu-abu yang memancarkan penuh kebencian kepadanya.
"Berhenti menyebutku Jalang, Zac. Aku dan Vito tidak ada hubungan apa-apa.” Jawab Marsha dengan nada kesal.
"Vito?” Tanya Zac. Pria itu mengangkat satu alisnya.
"Maksudku Adam” Jawab Marsha sedikit gugup.
Zac menyeringai penuh arti kepada Marsha, Pria itu menarik lengan Marsha hingga sang empunya meringis kesakitan.
"Apa kau lupa, siapa dirimu di sini?, kau adalah b***k. B U D A K, dan b***k tidak diizinkan berkeliaran seperti jalang.” Zac mencengkeram rahang Marsha hingga gadis bermata coklat itu semakin meringis kesakitan.
"Aku bukan bud.." Ucapan Marsha terpotong, saat bibirnya dilahap habis oleh Zac, pria itu sekali lagi menggigitnya lalu menghisap darahnya, Marsha berusaha untuk memberontak tapi Zac semakin mengeratkan cekalannya dan menghisap kasar darah di bibir Marsha.
Zac seolah merasa haus, Pria itu melakukannya berkali-kali. Setip gigitan dan isapannya, mampu membuat Marsha kesakitan. Bukan hanya di bibirnya, melainkan juga dihatinya. Gadis itu menangis sembari memejamkan matanya. Seolah merasakan dan akan selalu mengingat kesakitan yang setiap suaminya itu torehkan kepadanya.
Apa gunanya memberontak dan meminta Zac untuk melepaskannya? Yang ada pria itu semakin keras menyakitinya. Marsha marah, sangat marah, namun gadis itu hanya bisa melampiaskan semuanya dengan keterdiamannya dan pasrah kepada setiap hukuman yang Zac berikan kepadanya.
Zac menghisap habis darah-darah yang mengalir dimulutnya. Zac kembali menggigit bibir Marsha dan kembali menghisap darah segar yang keluar akibat gigitannya. Zac seolah tak pernah puas. Zac menyukai darah. Apalagi jika itu darah yang berasal dari tubuh musuhnya. Bagi Zac itu adalah minuman segar yang membuat staminanya semakin kuat.
Zac menghentikan aksinya saat ada rasa aneh yang tercampur di dalamnya. Pria itu membuka matanya dan melihat kedua mata Marsha yang tengah terpejam mengeluarkan air mata yang begitu deras. Zac mendorong Marsha, dan melihat kedua mata itu terbuka menatapnya.
“Sudah puas?” Tanya Marsha dengan suara seraknya.
“Aku tidak akan pernah puas dengan apa pun. Meski melihat mayatmu sekalipun.”
Marsha menggeleng. “Aku hanya budakmu bukan?” Marsha tersenyum, namun kedua matanya masih mengalir cairan bening.
“Budakmu sudah melakukan kesalahan, pecat saja dia, biarkan dia pergi. Bukankah itu hukuman yang sangat pantas untuk b***k tak tahu diri sepertiku?”
Zac mengetatkan rahangnya, kedua matanya berkilat tajam.
Zac menarik Marsha menghilangkan jarak antara dirinya dan gadis itu. Tatapannya yang tajam tidak membuat Marsha takut begitu saja. Marsha berusaha untuk memberontak tapi cekalan Zac begitu kuat sehingga sulit baginya untuk melepaskan.
“Jangan memancing kemarahanku.” Ucap Zac geram. Tatapan pria itu tak pernah luput dari Marsha.
“Kau ingin pergi dariku dan menghampiri Vito kesayanganmu itu?” Zac tersenyum kecut dan melepaskan cekalannya, dia berjalan hingga membelakangi Marsha yang sedang menangis.
"Jangan harap kau bisa pergi dari sini, kau milikku, dan milikku tidak akan pernah menjadi milik orang lain.” Ucap Zac lagi.
Marsha mendelik tanda tidak setuju dengan ucapan Zac. Gadis itu menghampiri Zac dan berdiri di hadapan tepat di depan laki-laki itu.
“Hubungan ini hanya berlaku di atas kertas. Aku memang istrimu, tapi istrimu ini sangat membenci suaminya.”
“Apa kau pikir aku menginginkan hubungan seperti itu? Kau memang istriku, tapi kau ditakdirkan mati di tanganku.”
“Kalau begitu bunuh aku! Sekarang!” Zac tertawa.
“Tidak semudah itu.” Jawab Zac dingin. Pria itu seketika menghentikan tawanya dan menatap Marsha tajam. “Bersikaplah sopan kepada majikanmu!” Marsha memalingkan tatapannya dan tersenyum miris. Gadis itu berjalan ke depan dan berhenti membelakangi Zac.
"Dari kecil, orang tuaku mengajariku tentang sopan santun, dan baik kepada siapa pun, tapi aku heran kenapa semua itu bisa hilang begitu saja saat bersamamu."
"Kau tahu Zac?, terkadang aku bertanya kepada Tuhan, kesalahan terbesar apa yang telah aku lakukan sehingga dia menghukumku dengan mengirimkan dirimu di kehidupanku."
"Sungguh Zac, jika dengan datangnya aku ke negara ini kehidupanku hancur. Aku menyesal kenapa harus ke sini, jika aku lebih bahagia di negara kelahiranku sendiri." Marsha menyeka air matanya dengan kasar dan menghela nafas dengan berat.
"Kau membuatku takut Zac.” Ucap Marsha lemah. “Kau membuatku takut akan takdirku kelak.” Tangis Marsha mulai pecah, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Perkataan Marsha membuat Zac seperti tertampar begitu keras, Pria itu pergi meninggalkan Marsha yang sedang menangis. Zac menuju kamarnya dan membanting pintunya hingga dinding-dinding di kamarnya bergetar. Ada apa dengannya, kenapa hatinya hancur saat melihat gadis itu menangis histeris seperti tadi?. Bukankah itu memang tujuan awalnya, untuk membuat gadis itu terus menderita.
Zac mengambil segelas champagne dimini bar yang berada di kamarnya. Dia meminumnya dengan sekali teguk dan memecahkan gelasnya setelah isinya tandas begitu saja. Dia membuka sebotol besar dan meminumnya sesekali dengan memicingkan matanya dan merasakan panas menjalar ke tenggorokannya.
Entah ada apa dengan dirinya saat ini, kenapa harus ada penyesalan di dalam diri Zac setelah melihat gadis itu menangis menderita, bukankah tujuan awalnya menikahi gadis itu hanya untuk memberi pelajaran dan membuatnya hidup menderita, lalu saat ini kenapa justru semuanya terbalik, bahkan dia sendirilah yang merasa menderita.
Zac tengah mabuk, penglihatannya mulai tak terkendali, jalannya sudah sempoyongan. Pria itu tiba-tiba bangkit dari tempatnya dan berjalan dengan penuh hati-hati agar tidak terjatuh. Yang saat ini ia lakukan adalah menemui Marsha, entahlah hanya untuk terlelap saja sulit bagi Zac, Pria itu memutuskan untuk pergi menemui Marsha dan meminta maaf. Benarkah itu?.
Marsha sedang menangis di dalam kamarnya, hari sudah mulai tengah malam, tapi gadis itu tidak merasa mengantuk sedikit pun. Hatinya sedang sakit perihal Zac suaminya sudah merendahkannya, Pria itu telah menganggapnya w************n, membuat Marsha merasa hancur, dan membuat Marsha semakin membenci Pria yang bernama Zac Trellix itu.
Hidupnya telah hancur, masa depan yang begitu indah yang biasa ia bayangkan kini telah tiada, takdirnya telah berubah. Marsha yang menjadi putri kesayangan di keluarganya, kini berubah menjadi Marsha seorang istri dari pengusaha kaya yang memiliki gelar sebagai psikopat. Seorang istri yang menderita, seorang wanita yang sama sekali tidak mengharapkan pernikahannya sendiri.
Gadis yang seharusnya merasa senang, bercerita dengan kawan-kawannya tentang pernikahannya dan menceritakan bagaimana menegangkannya malam pertamanya, tapi semua itu tidak terjadi sesuai dengan keinginan Marsha, karena pada kenyataannya semua tak seperti itu. Justru dia merasa takut dengan suami nya, setiap hari yang diisi pengantin baru itu hanyalah pertengkaran dan pertengkaran.
Zac membuka pintu kamar Marsha, kegelapan menyapanya dan hanya diterangi sinar kecil dibalik tirai jendela, terlihat sekali di mata Zac, gadis itu meringkuk di tempat tidurnya seperti bayi yang sedang terlelap.
Zac menghampiri Marsha dan mendudukkan bokongnya di bibir ranjang Marsha. Marsha merasakan kedatangan Zac di kamarnya hanya menggerutu pelan sehingga tidak terdengar oleh pria itu. Marsha memejamkan matanya dan berpura-pura untuk tidur, karena dia malas jika harus meladeni pria di tengah malam ini, apalagi jika orangnya seperti Zac Trellix.
Zac Mendekatkan dirinya kepada Marsha, Pria itu memandangi wajah polos Marsha yang sedang terlelap, tanpa sadar bibir Zac menyunggingkan senyuman yang bertolak belakang dengan profesinya. Zac mengangkat tangannya dan mengelap dahi Marsha yang mulai berkeringat
"Maafkan aku.” Ucap Zac sedikit berbisik, namun masih bisa didengar oleh Marsha. Zac menundukkan kepalanya dan mengecup singkat bibir Marsha.
Sungguh Marsha sedikit terkejut dengan perkataan Zac, gadis itu bingung dengan perlakuan lelaki kejam seperti Zac. Bagaimana bisa sifatnya berubah dalam sekejap, terkadang kejam, menyebalkan, dan sekarang dia baik dan apa, seorang Zac Trellix, Pria yang arogan dan terkenal sebagai seorang psikopat, dia meminta maaf kepada wanita yang dia benci, apakah dia berubah?
Apa Zac Trellix berubah?
Tidak, pria itu sama sekali tidak memiliki hati, dia itu pria kejam yang selamanya tidak akan pernah paham arti dari kebaikan dan cinta, lalu bagaimana bisa dia berubah, itu tidak mungkin.
Zac menyelimuti Marsha dan bangkit meninggalkan Marsha sendiri di dalam kamarnya. Selepas kepergian Zac Marsha bangkit dan duduk, dia memandangi pintu yang telah menelan Zac di dalam kegelapan. Marsha mengerutkan alisnya, dia masih tidak bisa berpikir dengan jelas, apakah benar itu Zac, pria yang sama, pria yang memiliki gelar sebagai seorang psikopat?
Tapi Marsha segera menepis semua itu, karena dia yakin Zac tidak akan melakukan hal kebaikan meskipun itu sedikit saja, mungkin dia hanya menyadari bahwa apa yang dia katakan tadi salah. Dan itulah sebabnya dia kembali kemari dan meminta maaf kepada Marsha.
•••
Pagi yang begitu cerah menyapa Zac yang baru saja tersadar. Dia mengerjapkan matanya, dan meringis saat kepalanya tiba-tiba berat akibat terlalu banyak minum semalam. Pria itu berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi untuk menyelesaikan segala rutinitasnya.
Pikirannya menyalang ada kejadian semalam, di mana dia melangkahkan kakinya ke kama Marsha. Zac masih tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Dia terlihat seperti orang yang jatuh cinta. Tidak!, dia tidak boleh jatuh cinta kepada gadis yang selama ini dia benci. Menikahinya hanyalah untuk membuat gadis itu semakin menderita, dia harus kembali menjauh dari gadis payah seperti Marsha.
Ponsel Zac berbunyi, membuat sang empunya tersadar dari lamunannya.
"Apa yang kau katakan?, kenapa dia bisa lolos begitu saja John?” Ucap Zac dengan nada sedikit berteriak.
"Maaf Tuan, Saya tidak bisa melacak keberadaannya.”
Jangan lupa John, kalau aku pernah menyeting ponselnya, dia masih bisa dilacak meskipun ponselnya dalam keadaan mati sekalipun.” Ucap Zac tambah geram
"Ah i iya tuan.”
“Jangan pernah bertingkah bodoh denganku John, kau tidak ingin menggantikan posisinya bukan?”
“Tidak Tuan, maafkan saya.”
"Aku tidak membutuhkan maafmu John, Sekarang selidiki dia lagi, dan ingat setelah kau menemukannya, bawa dia ke hadapanku dalam keadaan hidup-hidup. Biar dia tahu, bahwa sangat keliru memilih bermain dengan malaikat maut sepertiku.” tambahnya dengan mematikan sambungannya. Zac kembali bangkit dan bersiap-siap hendak ke kantor.
Zac menuruni tangga dengan tatapan tajam seperti biasanya. Saat ini Pria itu sangat haus akan darah, kedua tangannya sudah sangat gatal dan ingin membunuh seseorang, hingga tatapannya bertemu dengan Marsha. Gadis itu tengah memakan sarapannya, kedua matanya sudah beralih kepada makanannya tanpa memedulikan hawa menyeramkan yang tiba-tiba memasuki ruang makan.
Marsha seolah menghindar dari Zac. Gadis itu melahap makanannya dengan cepat dan segera bangkit setelah piringnya benar-benar kosong. Marsha terus berjalan tanpa menghiraukan tatapan tajam Zac seolah menelanjanginya. Gadis itu berjalan dengan sedikit berlari, dan memasuki kamarnya dengan cepat.
Setelah berhasil menutup pintu. Marsha mengambil nafas dan menghembuskannya dengan cepat. Oh ayolah! Bertemu dengan Zac benar-benar membuat pernafasannya terhenti seketika itu juga, entah aura apa yang pria itu miliki, bagi Marsha itu sangat mengerikan. Apalagi tatapannya yang menunjukkan bahwa pria itu benar-benar iblis. Marsha sangat mengingat bagaimana pria itu mengatainya yang tidak-tidak, dan setelah itu meminta maaf dengan cara yang membuat Marsha begitu terkejut. "Mungkin dia sudah gila.” gerutu Marsha.
Marsha semakin membentengi dirinya sendiri. Gadis itu harus selalu bisa menjaga dirinya sendiri. Dan harus selalu waspada dari Zac. Bagi Marsha, Zac adalah Pria yang susah ditebak. Mungkin bagi mereka yang mendapatkan perlakukan manis dari Zac seperti semalam, siapa pun bisa jatuh cinta. Bukan hanya mereka saja, bahkan Marsha juga. Namun suatu kenyataan membuat gadis itu menggeleng keras. Dia bukan pria baik-baik. Zac adalah jelmaan jin yang tidak pantas mendapatkan cinta.
Ponsel Marsha bergetar. membuat sang empunya tersadar dari lamunannya. Dalam sekejap Marsha mengangkat dan meletakkan benda pipih di daun telinganya.
"Halo Key?!” Sapa seseorang di seberang telepon.
"Iya Vit?” Jawab Marsha dengan senyumnya yang langsung merekah.
"Bagaimana keadaanmu? Apa b******k itu memukulimu lagi?” Tanya Adam dengan nada dingin. "Tidak Vit, Aku baik-baik saja, Bagaimana dengan dirimu sendiri?" terdengar helaan nafas lega di seberang telepon. "Kau pasti tahu jawabannya Key, setelah pergi bersamamu kemarin, hari ini aku merasa tidak bisa jauh-jauh darimu, kau gadis yang sudah berhasil membuatku nyaman Key"
Mendengar penjelasan Vito membuat Marsha tersenyum senang. Tapi dalam sekejap dia menepis semua itu. Marsha percaya jika Vito adalah lelaki yang baik, tapi bukan berarti jatuh cinta kepadanya adalah tindakan yang benar. Dia masih trauma untuk menjatuhkan hatinya kepada lelaki. Perihal cintanya pernah disepelekan hanya karena hasrat dan nafsu.
"Jangan coba-coba untuk mera....” Perkataan Marsha terhenti saat kedua matanya menangkap sosok yang tidak diinginkannya tengah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku dan memandanginya dengan tatapan tajam.
"Mera apa Key?” Tanya Adam yang tak sabar ingin mendengarkan kelanjutan Marsha bicara. Marsha terbuyar dari pandangan Zac dan kembali mematikan sambungan teleponnya dengan Adam setelah mengucapkan bahwa ia akan menghubunginya nanti.
"Siapa yang mencoba merayumu, b***k?” Tanya Zac dengan mengetatkan rahangnya dan berjalan mendekati Marsha dengan pelan dan Pasti.
Marsha memundurkan langkahnya hingga terjatuh keranjang
"Apa pria b******n itu yang mencoba merayumu?"
"Berhenti memanggilnya b******n, dia tidak sebejat dirimu.” Jawab Marsha sedikit berteriak. Perasaan takut mulai merayapi diri Marsha, keringat dingin bercucuran di dahi gadis malang itu. Zac sangat marah, Pria itu semakin mendekati Marsha, jalannya tak lagi pelan dia menarik kaki Marsha hingga gadis itu tersungkur lalu menarik lengannya dengan paksa.
Marsha kembali meringis, karena bekas ungu yang ada di lengannya belum sembuh kini Zac kembali membuat luka itu semakin terasa sakit. Zac menghilangkan jarak tubuhnya dengan Marsha dan mulai menggerayangi bagian intim Marsha. Marsha terkejut dan menepis tangan Zac lalu menampar Pria itu.
Tubuh Marsha bergetar. Gadis itu mengulurkan tangannya dan menatap nanar kepada pada telapak tangan yang baru saja menampar pria di hadapannya ini. Zac semakin menatap tajam pada Marsha. Pria itu mendorong Marsha hingga Marsha jatuh terlentang di atas ranjangnya.
Zac mulai melepaskan pakaian lengkap baju kantornya lalu menindih Marsha tanpa jarak. Marsha menangis, dan memohon kepada Zac untuk menghentikan semua ini.
"Aku mohon jangan lakukan itu, aku minta maaf!. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lag..” Ucapan Marsha terhenti saat Zac merobek baju Marsha sembari membungkam Mulut gadis itu dengan kain.
Tubuh Marsha semakin terlihat jelas, p******a yang sangat disukai oleh Zac terpampang jelas di hadapannya, Zac semakin geram saat tangan Marsha mulai menutupi Payudaranya meskipun hasilnya sama saja Zac masih bisa melihatnya. karena tangan Marsha yang begitu mungil.
Zac mengikat tangan Marsha dan melebarkan kaki gadis itu, kali ini Zac menyeringai puas. Marsha tidak bisa memberontaknya lagi. Gadis itu masih saja menangis, air matanya terus mengucur, wajah Gadis itu memerah ketakutan.
"Inilah akibatnya jika kau masih bermesraan dengan pria lain.” Ucap Zac dingin, Marsha menggeleng. Zac mulai melepas paksa bra Marsha, tanpa memedulikan sang empunya meringis kesakitan. p******a yang berukuran tidak seberapa besar bagi Zac, dibandingkan dengan milik p*****r-p*****r yang selama ini ia tiduri.
Tapi Zac tetap menyukainya.
Ia mulai meremas-remas, sambil mencium bibir Marsha dengan kasar, dari bibir turun ke leher jenjang Marsha yang sangat menggoda. Zac tersenyum, saat meninggalkan bekas-bekas keunguan ditubuh Gadis itu, membuat Zac kembali bersemangat untuk memuaskan nafsunya.
Zac berhenti di tengah-tengah p******a Marsha. Pria itu kembali menjalankan aksinya, melumat-lumat bagian putingnya. Dari p******a yang kanan hingga yang kiri. Zac menikmati aksinya. Pria itu mengambil sesuatu yang sempat ia taruh di atas nakas. Benda kecil namun runcing,
Marsha menggeleng, tangisnya semakin menggeram dibalik kain yang saat ini menutupi mulutnya. Itu adalah pisau, pisau kecil yang sudah menghilangkan banyak nyawa. Marsha meringis kesakitan, rasa nyeri memenuhi pundaknya. Entah apa yang pria itu lakukan. Demi Tuhan, bahu Marsha sangat perih.
Setiap gesekan pisaunya membuat Marsha mengernyit kedua matanya terpejam, dadanya membusung saat pisau itu menancap sempurna dan pria itu merobeknya ke bawah dan kembali lagi ke atas. Marsha menggeleng penuh arti, berharap Zac sedikit memiliki rasa kasihan kepadanya. Namun bukannya berhenti, pria itu malah semakin menyeringai.
Marsha kembali meringis, saat lidah Zac menjilat daging dalamnya. Rasanya begitu menyakitkan bagi Marsha. Kenapa pria itu menghukumnya seperti ini? Kenapa dia tidak langsung membunuhnya saja? Batin Marsha menyesali akan takdirnya.
Jilatan pria itu turun lagi ke bawah hingga sampai pada perut Marsha. Dengan kembali meremas p******a Marsha. Hingga pada satu titik Zac berhenti tepat di hadapan bagian intim yang sempat membuatnya mendapatkan tamparan tadi.
Zac merobek bagian celana dalam Marsha membuat gadis itu semakin menggeleng cepat. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Marsha memejamkan matanya berharap sisi baik Zac kembali datang. Namun harapan Marsha tidak sesuai kenyataan, karena pria itu tak memedulikan keadaan Marsha, dan memilih untuk memenuhi hasratnya.
Zac menjulurkan lidahnya dan mulai melumat bagian intim Marsha, dia berganti memasukkan tiga jarinya ke dalam lubang Marsha, dengan cepat Zac melepaskan celanya sendiri. Dia menunjukkan kejantanannya ke Marsha membuat Marsha mendelik lalu menggeleng cepat. Keadaan Marsha sangat mengerikan. Gadis itu begitu kesakitan, bukan hanya di daerah kewanitaannya, melainkan didada, bahu terutama dihatinya.
"Kau suka, jalang?” Pertanyaan Zac benar-benar membuat Marsha mual. Dalam hitungan detik Zac mulai memasukkan kejantanannya ke dalam bagian intim Marsha dengan paksa, Marsha menjerit kesakitan, gadis itu kembali menangis. Zac mulai memaju mundurkan pinggulnya dan sesekali terpejam menikmati aksinya.
Bercak darah bercucuran dari bagian intim Marsha, tapi Zac tak memedulikan itu, dia tetap melakukan aksinya hingga keduanya mencapai klimaks. Zac menyemburkan ke dalam tubuh Marsha.
Zac menarik lagi kejantanannya, dan tersenyum licik ke arah Marsha. "Kau menikmatinya, b***h?" Zac bangkit dan kembali memakai pakaiannya setelah itu pergi begitu saja dari kamar Marsha.
“Maria, urus dia!” perintah Zac, sembari tetap melangkahkan kakinya, meninggalkan kediamannya.