Part 05

3399 Kata
Di ruangan Zac. "Sayang, kau tidak akan jatuh cinta dengan pelayanmu itu kan?” Tanya Zefra kepada Zac. Saat ini mereka berdua berada di kamar tidur yang berada di ruangan kantor Zac. Zac mendengarkan pertanyaan dari Zefra lantas tergelak. "Apa kau cemburu dengannya?” Tanya Zac, Zefra menggeleng cepat. "Tidak, aku hanya bertanya, karena dia kan istri kamu, kamu kan bisa kapan saja cinta sama dia.” Ucap Zefra, membuat Zac semakin tergelak. "Dia pantas kujadikan b***k sayang.” Jawab Zac dengan kembali menciumi bibir Zefra dengan lapar. Keduanya pun hanyut dalam ciuman panas mereka, hingga suara ketukan pintu terdengar, membuyarkan aksi mereka. "Oh s**t" Zac sesekali mengumpat, siapa yang berani mengganggunya saat bersenang-senang. "Hei Zac?" suara bariton itu mengejutkan Zac yang tengah berjalan menuju pintu. Zac menatap pria yang sangat dikenalnya kini telah duduk di sofa ruangannya. "Hei Dam” Jawab Zac sembari menghampiri Adam dan keduanya pun berpelukan ala lelaki pada umumnya. "Kenapa kau tak memberi kabar kalau kau akan ke sini?” Ucap Zac lagi. "Kalau aku mengabari dulu, itu namanya bukan kejutan Zac.” Jawab Adam, dengan menepuk bahu Zac secara gentle. “Lalu kenapa kau mengetuk pintu jika kau sudah ada di dalam?” Adam memutar kedua bola matanya. “Lalu apa yang harus aku lakukan Zac? Menunggumu hingga ciuman panasmu berakhir dengan suara desahan seseorang yang baru saja mendapatkan orgasmenya?” "Ok baiklah, bagaimana usahamu di paris?” Tanya Zac. namun Adam mengalihkan pandangannya kepada Zefra yang tiba-tiba datang dan bergelut Dilengan Zac. Zac mengikuti arah pandang Adam hanya tersenyum sinis memandang Zefra dan kembali menghadap Adam. "Apa itu yang berikutnya?” Tanya Adam, membuat Zefra mengernyit sebelum menatap Zac dengan tanda tanya besar dikepalanya. "Maybe” Jawab Zac sembari mengedikkan kedua bahunya. "Oh iya sayang, kenalkan dia temanku Adam Belvisto, dan Adam perkenalkan dia kekasihku Zefra Alexiano.” Adam mengulurkan tangannya kepada Zefra dan Wanita itu menerima uluran tangan Adam, sembari tersenyum menggoda kepada Adam yang tak kalah tampan dengan Zac. Dasar Jalang. Batin Adam dan kembali menarik tangannya dari genggaman Zefra yang begitu rapat. "Ah iya, kau tadi tanya apa Zac?” Tanya Adam kembali. "Bagaimana usahamu di Paris?” Tanya Zac untuk yang kedua kalinya. "Ya begitulah, seperti yang kau lihat, aku sedang dalam proses pembangunan cabang di Rusia.” Zac mengangguk mengerti. “Kenapa? apa kau sedang ada masalah?” Tanya Zac dengan mata menyipit, Adam tak seperti biasanya, Pria itu terlihat lemas saat ini. Adam menggeleng. “Aku bingung dengan permintaan Mommy. Jawab Adam lemah. “Memangnya apa yang diminta Mommy-mu? Oh ayolah Dam, kau sudah terlalu kaya, lalu apa yang membuatmu tidak bisa menuruti permintaan Mommy-mu?” “Masalahnya ini berbeda Zac. Mommy memintaku untuk segera menikah, kau tahu sendiri aku tidak pernah serius dengan wanita yang aku kencani, karena mereka tidak ada yang bisa menarik perhatianku.” Zac tergelak. “Turuti saja Dam, apa susahnya menikah.” Adam menatap Zac percaya lalu menggeleng. "Oh iya, Apa istrimu mengetahui semua ini?” Tanya Adam akhirnya dengan nada berbisik, namun masih bisa didengar oleh Zac. Zac menoleh menghadap Zefra dan melepaskan cekalan Zefra di lengannya. "Sayang, bisa tinggalkan kami berdua.” mendengar pernyataan Zac, Zefra cemberut, dan bangkit untuk pergi meninggalkan kedua pria tampan bak malaikat itu. Setelah kepergian Zefra, Adam memandang serius kepada Zac. "Tahu apa?” Tanya Zac sedikit malas, karena harus membahas gadis yang sama sekali tidak disukainya itu. "Iya tahu, kalau kau selingkuh dengan Zefra?" pertanyaan Adam membuat Zac tertawa keras, Adam hanya mengerutkan keningnya karena melihat tingkah kawan lamanya itu. "Hei, dia mau tahu ataupun tidak itu urusannya, dan asal kamu tahu ya aku tidak pernah serius menikah dengannya, dia hanyalah gadis yang bodoh, dan..." "... penggila harta seperti Zefra, ataupun jalang-jalang lain di luar sana.” Jelas Zac membuat Adam menyunggingkan senyum kecutnya. "Malang sekali nasibmu Zac, hmm kau membuatku semakin takut untuk menikah.” Jawab Adam yang membuat keduanya tertawa. "Di mana istrimu sekarang? Oh ayolah, Demi Tuhan kau jahat sekali tidak mengundangku ke pernikahanmu.” "Hmm, aku hanya mengundang keluarga saja, tidak terlalu meriah, karena pernikahan itu bukan keinginanku, tapi hanya untuk membuat Mom bahagia, kau tahu sendirilah, aku sangat menyayangi Mommy-ku.” Jawab Zac, dengan nada sedikit menyindir Adam yang sudah beberapa kali dipaksa ibunya untuk menikah, tapi dia tidak pernah menjawab atau menuruti permintaan orang tuanya itu. Dan sesekali mereka berdua membahas masalah usaha, mobil, ataupun cerita-cerita yang lalu, membuat mereka berdua tertawa bersama-sama. Zac dan Adam sama-sama menatap pintu yang tiba-tiba terbuka, dan menampakkan sosok gadis yang berpenampilan bak pelayan. "Hai Key?” Sapa Adam seraya berdiri menghampiri gadis itu, yang tak lain adalah Marsha. Marsha ternganga tak percaya bahwa di dalam ruangan pria kejam ini ada Adam, seseorang yang membuat pikirannya tak karuan beberapa saat lalu. Apakah Zac yang dimaksud Adam kawan lama itu?, ih kenapa mau sih Adam temenan sama dia. Batin Marsha Key? hmm tidak buruk. Batin Zac "Kalian saling mengenal ternyata.” Ucap Zac tiba-tiba, saat melihat Adam dan Marsha yang saling melempar senyum. "Ah iya, aku bertemu dengannya tadi di luar Zac.” Jawab Adam, tanpa mengalihkan pandangannya kepada Marsha. "Oh iya, berbicara tentang istriku tadi, kau ingin menemuinya bukan?” Ucap Zac tiba-tiba, sembari berjalan menghampiri Marsha dan berhenti tepat di depan gadis itu. Marsha menundukkan kepalanya takut untuk menatap mata Zac yang penuh kebencian untuknya. Adam yang melihat ekspresi Zac hanya mengernyit tak paham, dia memandang Zac dan Marsha bergantian. "Iya, memangnya dia di sini?” Tanya Adam saat matanya bertemu dengan mata elang Zac. "Gadis di depanmu itu, dia b***k pribadiku, sekaligus dengan Istriku. Istri yang tidak pernah kuharapkan, istri yang telah mengubah kehidupanku seperti dineraka, istri yang menghancurkan kehidupanku semenjak kedatangannya.” Jelas Zac dengan nada penuh penekanan di setiap kata-katanya sembari memutari badan Marsha yang tampak ketakutan. Cukup, Marsha sudah lelah jika harus bersabar lagi, dia mengepalkan tangannya dan memberanikan diri untuk mendongak, menatap seseorang yang dengan kurang ajarnya mengatakan bahwa dialah yang membuatnya sengsara? apa semua itu tidak keliru. "Apa kau sedang mabuk? Sadarkah kau saat mengatakan semua itu? Kau bilang bahwa aku yang datang ke dalam hidupmu dan menghancurkan hidupmu? Yang benar saja.” Jawab Marsha dengan menatap Zac tajam. "... apakah kau mengalami amnesia sayang? Oh di mana benturan itu, kulihat kepalamu baik-baik saja.” lanjut Marsha dengan nada mengejek. Zac merasa geram melihat tingkah Marsha, dia hendak menampar perempuan itu, tapi tangannya tertahan diudara, saat Adam mencekalnya. "Hei, apa kau lupa? Kalau aku datang, itu sama sekali bukan keinginanku, ada lelaki bodoh yang menculikku dan mengurungku di dalam istana yang begitu mengerikan, dia menyiksaku setiap hari, dan lelaki bodoh itu juga yang menikahiku. Demi Tuhan, aku tidak pernah memikirkan untuk menikah dengannya, Tapi iblis itulah yang memaksa masuk ke dalam kehidupanku.” Ucap Marsha dengan nada yang begitu tinggi. Zac mengepalkan tangannya, dan mengetatkan rahangnya. Adam yang mendengarkan penjelasan dari Marsha hanya terkejut dan setelahnya dia mengubah ekspresi datarnya. Zac menghempaskan tangan Adam yang sedang memeganginya, dan menampar Marsha dengan keras, sehingga menimbulkan suara yang sangat mengerikan di ruangan itu. Marsha tersungkur ke bawah dengan air matanya yang tiba-tiba gugur begitu saja. "Zac!!!!" Adam menarik kerah Zac dengan kuat, sehingga kedua laki-laki itu berhadapan dengan tatapan yang sama-sama tajam dan seolah hendak membunuh satu sama lain. "Jangan ikut campur berengsek!!" geram Zac kepada Adam. "Tutup mulutmu itu Zac, lihatlah!, dia istrimu, dia perempuan, dan kau...kau...shit.” Adam menghempaskan tubuh Zac. Zac tersenyum licik mendengar perkataan Adam, hingga dia tertawa dengan begitu keras, sehingga ruangan itu dipenuhi dengan gelak tawa Zac seperti iblis itu. "Apakah kawanku ini tertarik dengan b***k baruku?” Tanya Zac. BUGH… Adam spontan memukul Zac dengan keras, sehingga rahang lelaki itu mengeluarkan darah segar. "Cukup Zac!!, aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi.” Ucap Adam sembari menghampiri Marsha dan membantu gadis itu untuk berdiri. Tubuh Marsha gemetar, Adam tahu gadis itu sedang menangis. Adam membawa Marsha ke dalam pelukannya dan mengelus punggung gadis itu, seperti menyalurkan kekuatan untuknya. "Sekali lagi, jaga bicaramu jika kau tidak ingin aku membunuhmu di sini.” Ucap Adam dengan menuntun Marsha menuju pintu keluar ruangan Zac. "Aku tidak takut, meskipun kau memiliki jiwa psikopat sekalipun.” Ucap Adam lagi sebelum menutup pintu dengan keras, sehingga menimbulkan suara dentuman di ruangan Zac, disertai menghilangnya tubuh Adam dan Marsha. Zac mengepalkan tangannya, terlihat sekali di wajah tampan itu ada secercah kebencian melintas dibenaknya, membuat matanya berkilat karena api yang berkobar dengan dahsyatnya. Zac mengambil jasnya yang sempat dia lepaskan, dan memakainya kembali dengan sebuah alat mengkilat yang sangat tajam yang saat ini berada di dalam genggamannya. "Aku akan datang dan membunuh kalian semua!” Ujar Zac dengan nada yang sangat menekankan, jika saja di ruangannya ada orang lain selain dirinya, orang itu pasti takut saat mendengar suara dan menatap pria tampan yang dikuasai oleh iblis itu. Seperti itulah Zac jika sedang Marah, dia selalu melampiaskan kemarahannya kepada musuh-musuhnya. Bukan hanya itu justru Zac selalu melakukan hal yang membuat siapa pun akan kabur jika melihatnya dalam keadaan seperti iblis. Karena Zac tidak segan-segan membunuh semua musuhnya dengan tangannya sendiri. Membunuh mereka yang menghalangi jalan Zac. dan bagi Zac melihat darah segar yang keluar dari musuhnya itu adalah hal yang sangat menggiurkan. Zac menyimpan pisaunya dibalik jas mahalnya, dia kembali ke meja untuk mengambil kunci mobilnya sebelum keluar dari ruangan kerjanya, dengan tatapan dingin. ••• Marsha memandang kosong ke arah luar jendela mobil. Dia saat ini berada di dalam mobil Adam, lelaki itu entah hendak membawanya ke mana, karena hanya untuk sekedar bertanya pun Marsha enggan melakukannya. Sesekali Adam melirik Marsha yang sedang melamun, dia merasa terpukul sekali saat melihat tetes demi tetes air keluar dari kelopak matanya yang begitu indah bagi Adam. Sebenarnya Adam ingin sekali menghibur gadis itu, tapi niatnya dia urungkan, karena terlihat sekali di wajahnya jika dia masih sangat terlihat sedih, dan Adam tidak ingin mengganggunya. Marsha merasa bersalah kepada Adam, karena telah mendiami lelaki yang telah menolongnya itu, dia berusaha untuk terlihat ceria, dan tersenyum tulus untuk Adam saat lelaki itu menatapnya. "Vito, terima kasih.” Ucap Marsha memecahkan keheningan antara dirinya dan lelaki itu. Adam mengalihkan pandangannya sebentar untuk melihat senyum Marsha yang mulai terbit. Tapi dalam hati dia tahu, jika senyum itu adalah senyum keterpaksaan. Adam tersenyum dan tangan kirinya naik ke atas untuk mengacak rambut Marsha dengan gemas. "Sama-sama Key, kau mau kita ke mana setelah ini?” Tanya Adam, Marsha melihat lelaki itu dengan intens, tingkat ketampanannya sangat luar biasa, 11 – 12 lah dengan Zac Trellix. Hmm kenapa harus nama pria itu lagi?. Batinnya kesal. "Key?, apa melamun adalah salah satunya hobi kamu?” Tanya Adam, Marsha terbangun dari lamunannya, dia merasa pipinya memerah, karena telah tertangkap basah sedang melamun untuk yang kedua kalinya.” "M ma af” Jawab Marsha sedikit gugup. "Tak masalah, baiklah, aku akan membawamu pergi untuk bersenang-senang.” Ucap Adam. "... dan aku tidak menerima penolakan, untuk saat ini.” Ucap Adam lagi saat melihat Marsha hendak menolak ajakannya. "Baiklah, Mr. Vito yang terhormat, aku mengalah untuk saat ini.” Jawab Marsha pasrah lalu keduanya tergelak bersama-sama. Adam merasa bahagia saat melihat Marsha kembali tersenyum, dia merasa nyaman saat memandang gadis itu. Entah kenapa ada desiran aneh di dalam dirinya saat bersama Marsha. Dia merasa dia tidak ingin berpaling dari gadis itu. Mungkin hanya Zac lelaki bodoh yang menyia-nyiakan gadis seperti Marsha. Marsha merasa dirinya kembali bersemangat saat Adam mengajaknya berjalan-jalan, seperti tidak ada beban sedikit pun di dalam dirinya, tersenyum adalah hal yang selalu dilakukannya saat bersama Adam. Apakah mungkin Marsha mulai nyaman dengan pria itu?. Setelah berganti pakaian dan menikmati beberapa wahana, Marsha merasa beban pikirannya sedikit terangkat, namun fisiknya sudah sangat lelah dia memilih untuk beristirahat dan menjatuhkan punggungnya di atas rumput hijau yang indah. Adam yang tengah menatap Marsha menggeleng dan tersenyum geli, Sepertinya gadis itu sudah kelelahan, sebelum menghampiri Marsha, Adam membeli 2 ice cream, satu untuknya dan satu untuk Marsha. "Tidak ingin main lagi?” Tanya Adam tiba-tiba sembari memberikan ice cream kepada gadis itu, dengan sigap Marsha menerima ice cream itu, dan melahapnya seperti anak kecil. "Aku lelah, Vit.” Jawab Marsha dengan ekspresi memelasnya. Ada terkekeh, lalu mengacak puncak rambut Marsha lembut. "Baiklah tuan putri, kamu belum makan siang kan? Ayo kita makan dulu.” Ajak Adam yang tidak ditolak oleh Marsha. Karena gadis itu sudah merasa lapar setelah selesai bermain di beberapa banyak wahana. Adam dan Marsha telah duduk berhadapan di sebuah Restaurant yang terkenal di Los Angeles (Angelini Osteria). Mereka berdua kembali bergurau dan sesekali tertawa, sembari menunggu pesanan mereka tiba. "Setelah ini kita mau ke mana?” Tanya Adam, Marsha menundukkan kepalanya dan menggeleng, dia sebenarnya tidak tahu harus ke mana, apakah dia harus pulang dan bertemu lagi dengan Zac. Oh tidak, kenapa harus dia lagi? Adam yang memahami ekspresi Marsha lantas tersenyum penuh arti. "Aku tahu aku harus mengajakmu ke mana.” Ucap Adam tiba-tiba. Marsha yang tengah menunduk pun lantas mendongak menatap manik mata Adam, gadis itu masih tidak mengerti dengan perkataan Adam. "Sudah, tidak usah dipikirkan, kita makan dulu ya.” Ujar Adam dengan mengelus puncak kepala Marsha, dan dibalas anggukkan oleh gadis cantik itu. Marsha merasa nyaman dengan adanya Adam di sampingnya, membuat Marsha sedikit lebih percaya bahwa di Los Angeles ini masih ada manusia yang baik hati setelah Freya sahabatnya. Membicarakan tentang Freya, membuat Marsha rindu dengan teman cantiknya itu, entahlah bagaimana kabarnya saat ini, karena setelah penculikan itu Marsha tidak pernah menginjakkan kakinya di kampus, padahal dia di sana masih mahasiswi baru. "Key?” Sapa Adam, Marsha terbuyar dari lamunannya dan menatap Adam dengan cengirannya, karena untuk ke sekian kalinya dia ketahuan melamun lagi. "Hm memang benar bukan?, bahwa melamun adalah hobi terbarumu saat ini.” Ucap Adam lagi disertai dengan anggukan serta senyuman yang memabukkan bagi para wanita-wanita yang saat ini berada di restoran itu. Marsha yang menyadari akan tatapan Wanita-wanita yang ada di restoran itu lantas tersenyum. "Lihat lah Vit, ku rasa wanita-wanita di sini menyukaimu, lihatlah tatapan mereka, seperti singa yang melihat makanannya rroooaaaarrrr.” Ucap Marsha sedikit berbisik kepada Adam. dengan memainkan tangannya seperti menyerupai mulut singa, dan memainkannya di depan wajah Adam, membuat lelaki itu tergelak melihat tingkah gadis di hadapannya ini. "Apa kau sedang menakuti aku gadis cantik.” goda Adam dan berhasil membuat Marsha menarik tangannya dan merasakan panas di sekitar pipinya. Marsha gelagapan saat Adam menatapnya dan menyebutnya dengan sebutan gadis cantik. Oh Tuhan rasa apa ini? kenapa dia selalu saja membuat aku bahagia, hatiku seperti sulit untuk menjauh darinya. Apakah aku menyukainya? oh tidak ini masih hari pertama perkenalanku. Mana mungkin aku mencintai seseorang dengan waktu sesingkat ini. Batin Marsha. Adam memperhatikan Marsha yang sedang berusaha menutupi pipi merahnya seperti kepiting rebus dengan kedua tangannya, pria itu menangkap tangan Marsha dan menjauhkannya dari pipi mulus Marsha. "Tidak usah disembunyikan seperti itu, kau terlihat lebih cantik saat memerah karenaku.” Ucap Adam dengan lembut. Marsha semakin salah tingkah di hadapan Adam, sungguh, dia rasanya ingin menghilang saja dari hadapan pria itu. "Sekarang makanlah!, kau belum makan dari tadi.” Ucap Adam lagi, Marsha menganggukkan kepalanya, lalu mulai menyantap makanannya. Adam memandang gadis di sebelahnya dengan perasaan senang, entah kenapa sejak bertemu dengan Marsha, pria itu terlihat sangat bersemangat sekali. Adam seorang pria yang dikenal dengan sifat dinginnya, terutama dengan kaum hawa, kecuali Ibunya. Kini Pria itu berbalik dengan sifat aslinya sejak bertemu dengan gadis yang baru dijumpainya tadi pagi. Tuhan memang telah merencanakan semuanya, tanpa bisa ditebak. Marsha merasa gugup saat matanya tidak sengaja menangkap mata pria di sampingnya sedang memandangi dirinya. Entah kenapa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Marsha berusaha mengontrol detak jantungnya agar kembali tenang, namun semua nya tidak membuahkan hasil, malah yang ada detak jantung itu semakin berdetak dengan kencang saat tangan pria itu menyentuh pipinya. Marsha khawatir jantungnya akan melompat dari tempatnya karena berdetak terlalu cepat. Marsha berusaha menepis segalanya, saat hatinya mengatakan jika dia mencintai Adam. dia tidak boleh mencintai pria yang baru saja dikenalnya itu, bagaimana bisa dia jatuh cinta dengan pria lain? sedangkan dia sudah memiliki suami, Oh Ayolah, meskipun Marsha sama sekali tidak menerima pernikahan itu, tapi di dalam hukum dia sudah menikah bukan? "Aku suka melihat pipimu yang memerah seperti ini, Key.” Ujar Adam dengan mengelus lembut pipi Marsha. Marsha gelagapan lantaran dia tidak pernah seperti ini jika dengan siapa pun. Marsha menepis pelan tangan Adam yang ada di pipinya, berusaha untuk membuyarkan segalanya, karena dia tidak ingin Adam mendengarkan detak jantungnya yang berdetak tak karuan saat ini. "Vito, kau mau mengajakku ke mana?” Tanya Marsha mengalihkan pembicaraan. "Nanti kau akan tahu, Key. Bersabarlah cantik.” Jawab Adam sembari mengacak rambut Marsha dengan lembut. Marsha hanya cemberut mendengar jawaban Adam dan kelakuannya yang mengacak-acak rambutnya itu. Adam hanya tersenyum geli melihat gadis itu cemberut sembari memfokuskan dirinya pada kendaraan. Adam memang sengaja tidak memberitahu Marsha ke tujuan yang sebenarnya, karena Adam berencana akan memberikannya kejutan. Ah setidaknya dengan cara itulah Adam menghibur Marsha. Adam tidak tega jika harus melihat kesedihan yang terlalu lama di mata gadis itu. "Ingat, Key, jangan buka kedua matamu sebelum aku memberikan perintah. Ok?” Ucap Adam untuk yang ke sekian kali. Sembari menuntun Marsha menuju tempat yang sengaja dibuat oleh Adam sebagai kejutan untuk Marsha. "Yaya aku mengerti, kau sudah ketiga belas kalinya mengatakan ini.” Adam terkekeh mendengar pernyataan Marsha, dia sangat terlihat semangat sekali. Entahlah mungkin ini awalan baik bagi seorang Adam, setelah mengenal Gadis itu. Setelah sampai kepada tempatnya, tiba-tiba angin datang menerpa mereka berdua. Membuat rambut panjang Marsha bergerak-gerak seperti menari-nari dengan perasaan bahagia. "Baiklah, Key. Dalam hitungan ketiga kau bisa membuka kedua mata kamu.” "... 1....2.... Sabar Key, belum waktunya.” Adam dengan sengaja memperlambat hitungannya, setelah melihat wajah Marsha yang begitu tak sabar ingin segera membuka kedua matanya. "Oh ayolah Vit, kau membuatku semakin penasaran.” Ujar Marsha dengan nada kesal yang dibuat-buat. "..3 “ Jawab Adam. Marsha pun membuka kedua matanya, dia membelalakkan matanya setelah melihat tempat yang saat ini dia pijakkan, secara spontan Marsha memeluk Adam dengan tawanya yang lepas begitu saja. Adam membalas pelukan hangat itu, sembari memejamkan matanya bersyukur karena apa yang dia lakukan tidak sia-sia, untuk membuat gadis itu tertawa kembali akhirnya terjadi juga. "Kau senang cantik?” Tanya Adam, dan dibalas anggukkan antusias oleh Marsha. "Sangat Vit, ini indah “ Jawab Marsha sembari merentangkan tangannya dan memejamkan matanya, merasakan angin yang berembus menerpa wajah cantiknya. Sungguh taman yang begitu cantik, banyak bunga-bunga berwarna-warni. Dengan berbagai macam model. Kedua mata Marsha serasa dimanjakan setelah melihat semua ini. Gadis itu berlarian, dengan merentangkan tangannya seperti anak kecil yang hendak meraih permen dari papanya. Sembari menyusuri tempat demi tempat, hingga tidak ada satu pun yang terlewatkan. Tak lupa dia juga mengabadikan gambar-gambar dirinya di taman itu, dengan menggunakan ponselnya. Adam yang menyaksikan betapa bahagianya Marsha. Entah kenapa hatinya serasa damai, dia begitu lega melihat gadis itu tersenyum kembali, wajahnya yang cantik dan polos itu terlihat tenang saat dia tertawa seperti saat ini. Adam menghampiri Marsha dan duduk di sebelah gadis yang tengah tertawa itu. Tak lupa dia juga diam-diam memotret Marsha saat gadis itu sedang menghirup aroma bunga satu persatu di taman itu, adam melebarkan senyumnya saat melihat ulang hasil jepretannya. Marsha memang cantik. “Kalau memang kau ingin memotretku, sebaiknya kau meminta izin padaku dulu, supaya aku bisa berpose lebih cantik dari foto di ponselmu saat ini.” Ucap Marsha dengan tertawa yang membuat damai hati Adam. "Tanpa berpose pun kau tetap terlihat cantik, Key.” Jawab Adam yang berhasil membuat Marsha gelagapan dan salah tingkah. dia memalingkan wajahnya, berharap Adam tidak melihat pipinya yang mulai memerah karena ulahnya. Mereka terus tertawa dan sesekali berkejar-kejaran dengan waktu yang cukup lama. Hingga hari sudah menjelang malam, selesai mengajak Marsha makan Malam, Adam memutuskan untuk mengantar Marsha menuju rumahnya. Rumah Suaminya, Zac Trellix. Sebenarnya Adam sudah membujuk Marsha untuk tidak kembali ke rumah itu. Tapi karena gadis itu masih menghormati hubungannya sebagai istri dari Zac Trellix. Dia akan pulang ke rumah suaminya. "Terima kasih Vit, kau sudah menghiburku dengan mengajakku berjalan-jalan.” Ucap Marsha saat dirinya hendak keluar dari mobil. Saat ini keduanya telah sampai di depan kediaman Trellix. "Sama-sama, Key.” Jawab Adam dengan senyumnya yang tulus. Saat Marsha hendak keluar dari mobil, Adam mencekal tangan Marsha membuat Marsha membalikkan badannya dan duduk kembali di dalam mobil itu. "Ada apa, Vit?” Tanya Marsha, dengan kening berkerut. "Jaga diri baik-baik ya!, jika Zac berbuat kasar padamu lagi, cepat hubungi aku.” Jawab Adam sembari menatap mata Marsha dengan sendu. "Baiklah Vito, sekali lagi terima kasih untuk hari ini.” Jawab Marsha sembari tersenyum dan keluar dari mobil Adam. Dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kediaman Zac Trellix. Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari atas balkon kamarnya, dengan sorotan mata yang penuh dengan kebencian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN