Partner In Crime

1156 Kata
Mina berjalan tanpa arah, semenit kemudian ia telah tiba di depan sebuah bioskop, Mina melemparkan pandangan ke sekelilingnya dan memutuskan untuk menonton film horror yang akan membuatnya melupakan patah hatinya untuk sesaat. Nasib yang sangat mengenaskan bagi seorang wanita cantik sepertinya, ia hanya bisa memendam rasa cintanya itu. Ia hanya bisa meratapi nasib percintaannya, tanpa bisa melakukan apapun untuk mendapatkan cinta lelaki yang membuat jantungnya berdebar dengan kencang itu. “Mina? Mina Ariadne Pawaresti?” suara itu menyadarkan Mina dari lamunan panjangnya, suara yang terdengar sangat familiar di telinganya itu membuatnya membalikan tubuhnya. Ia membulatkan kedua matanya, seakan tidak percaya dengan sosok yang dilihatnya. Sosok lelaki yang sudah selama dua tahun ini menghilang dari dalam hidupnya, sekarang tengah berdiri di hadapannya. Sosok lelaki yang dulu selalu menghiasi hari-harinya, sekarang telah kembali. Selama dua tahun, ia telah kehilangan sosok lelaki yang saat ini tengah tersenyum manis padanya itu. Hatinya dipenuhi dengan suka cita saat melihat lelaki yang berada di hadapannya itu.  “Kak Max? kapan balik ke Jakarta?” Mina tersenyum lebar dan memeluk tubuh lelaki itu dengan erat. Ia merindukan Max. Max McWright adalah kakak kelasnya pada masa SMA, lelaki tampan berwajah blasteran Amerika dan Indonesia itu adalah sahabatnya. Mata biru, rambut coklat, hidung mancung dan bibir tipis yang berwarna merah alami itu terbingkai dengan indah di wajahnya. Ketampanan lelaki itu membuatnya menjadi lelaki paling popular di masa sekolahnya dulu. Mina yang menyadari posisi mereka saat ini tengah menghalangi orang yang mengantri tiket di belakang mereka segera melepaskan pelukannya dan menarik tangan Max untuk keluar dari antrian tiket yang cukup panjang itu. Ia tidak ingin menghalangi orang-orang yang sudah mengantri panjang di belakang mereka dan mendapatkan protes dari orang-orang yang tengah mengantri dengan wajah yang masam itu. “Baru seminggu…” Max  menatap intens wajah Mina, kerinduan yang sama terlihat jelas pada wajahnya, “Nggak nyangka bisa langsung ketemu kamu di sini, aku pikir kita akan kehilangan kontak selamanya.” Max tersenyum tipis. “Iya… nggak nyangka banget ya, kak,” Senyuman tidak pernah menghilang dari wajah Mina, “ Nggak nyangka kalau kita bisa ketemu di tempat begini. Udah dua tahun kita nggak ketemu dan nggak berhubungan lagi, gimana kabarnya kak?” ia kembali memeluk tubuh Max dengan erat, ia ingin menyandarkan kepalanya pada d**a bidang milik Max dan menghilangkan sedikit kelelahan di hatinya. “Iya aku kangen banget sama kamu yang cantik ini.” Max membalas pelukan Mina dan mengacak-acak puncak kepala wanita itu. “Gombalnya nggak habis-habis,” Mina mengerucutkan bibirnya, “Aku juga kangen sama partner-in-crime aku yang paling setia ini.” Mina melepaskan pelukannya dan terkekeh pelan menatap Max, tawa itu menular pada lelaki itu. “Kamu sendirian, Min?” Max memandang sekelilingnya mereka dan tersenyum saat mendapati bahwa wanita itu tengah sendiri saat ini, “Pasti mau nonton film horror? bareng aku aja nontonnya ya.” Max melanjutkan pertanyaannya. “Seneng banget kalau ada yang mau nemenin nonton.” Max terkekeh pelan dan mencubit hidung mancung Mina. “Emang selama ini nggak ada yang nemenin nonton?” ia tersenyum menggoda, “Dari dulu nasib kita selalu jadi jomblo yang mengenaskan ya. Kemana-mana berdua. Saat semua orang nonton bareng pacar, kita malah nonton berdua.” Ia melanjutkan perkataannya, ia menatap Mina dengan pandangan yang menerawang, seakan ia mampu mengajak wanita itu kembali ke masa lalu mereka. Mina tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. Bertemu dengan Max membuatnya kembali merasakan rasa bahagia. Hari-hari yang mereka lalui bersama dulu, saat ini tengah diputar ulang di dalam benaknya, ia merindukan masa-masa indah itu. Mina menyetujui ajakan Max, mereka mengantri tiket dan menonton bersama. Ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan lelaki itu. Ia merindukan sahabatnya itu, ia merindukan kakak kelasnya itu dan ia merindukan satu-satunya lelaki yang selalu berada disisinya itu. Max dan Mina sudah saling mengenal semenjak kecil. Kedua ibu mereka adalah sahabat dan dulu rumah keduanya bersebelahan. Jarak usia mereka terpaut satu tahun, mereka sangat dekat dan selalu bersama dalam melakukan kenakalan masa muda mereka. Bersama-sama merasakan amarah orang tua maupun guru mereka. Tertawa bersama atas kekonyolan mereka sendiri. Mereka adalah sepasang anak nakal saat mereka masih muda. Walaupun mereka sering dimarahi karena kejahilan dan kenakalan mereka, pihak sekolah akan dengan mudah memberikan ampun kepada keduanya karena mereka berdua adalah idola sekolah yang baik dalam pelajaran maupun olahraga dan mereka berdua adalah orang yang sudah banyak menyumbang piala dan piagam penghargaan yang menjadi kebanggaan sekolah itu. Mereka adalah sepasang pelajar yang selalu ditatap dengan tatapan penuh kekaguman dari para pelajar lain di sekolah mereka dulu. Max dan Mina, bagaikan pasangan sempurna yang memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk saling melengkapi. Mereka sangat cocok saat disandingkan bersama, tetapi kecocokan mereka tidak pernah menghadirkan perasaan bernama  cinta di dalam hati keduanya. Kenyataan bahwa mereka bukanlah sepasang kekasih sempat membuat seisi sekolah merasa kecewa, banyakn yang berharap para idola mereka itu saling menjalin kasih. Mina sudah menganggap Max sebagai kakaknya sendiri. Sebagai anak tunggal ia merasa sangat beruntung memiliki Max yang selalu ada di saat ia membutuhkan lelaki itu dan Max selalu menjaganya layaknya seorang kakak. Max selalu melindunginya jika mereka dalam masalah. Lelaki itu bisa dibilang sebagai soulmate-nya. Satu-satunya orang yang sangat mengerti dengan perasaannya. Satu-satunya malaikat penyelamat yang ia miliki. *** Hari-hari Mina yang selalu suram sebelum kedatangan Max sekarang terlihat lebih berwarna. Awan gelap yang menghiasai hatinya sekarang telah tergantikan dengan awan putih dan langit cerah yang berwarna biru. Kehadiran Max bagaikan mentari pagi yang menyinari hatinya yang sudah merasa lelah karena berjuang mendapatkan cinta Gafin. Ia merasa dirinya tidak sendiri lagi, selalu ada Max yang mengisi kekosongan hatinya. Max mengisi hari-harinya dengan canda tawa. Tidak ada hari yang ia habiskan untuk meratapi nasib percintaannya dengan Gafin. Ia seakan tidak ada waktu lagi untuk terus bersedih memikirkan hubungan percintaannya yang tidak ada kemajuannya sama sekali, hubungan percintaan yang hanya diam di tempat tanpa kemajuan sedikit pun. Lelah, Mina sangat lelah menanti cinta lelaki itu. Dua tahun lamanya ia menunggu cinta lelaki itu, dua tahun sudah ia menunggu lelaki itu untuk menatapnya, dua tahun sudah hatinya terluka karena cinta yang bertepuk sebelah tangan itu. Ia ingin menyerah dengan perasaan yang menyiksanya itu, ia tidak ingin terus terlarut di dalam kesedihan dan terbuai di dalam cinta yang tidak berbalas.  Baru kali ini ia ingin berjuang secara mati-matian untuk mendapatkan hati seorang lelaki, tetapi selama ini perjuangannya seakan sia-sia. Pada akhirnya ia merasa lelah dengan segala perjuangannya itu dan ingin menyerah akan perasaannya. Ia ingin merasakan percintaan yang indah seperti di dalam kisah dongeng, Ia ingin menemukan seorang lelaki yang akan berjuang bersama dengannya di dalam kisah cinta mereka itu, ia tidak ingin berjuang sendiri di dalam percintaannya. Ia tidak ingin merasakan perasaan yang sakit dan menyesakkan dadanya itu lagi. Ia ingin melanjutkan hidupnya tanpa terus terbuai di dalam indahnya sebuah harapan kosong. Seandainya berpaling dari satu-satunya lelaki pemilik hatinya itu adalah hal yang mudah, mungkin sudah sedari dulu ia berpaling dari Gafin dan mencoba untuk mencari seorang lelaki yang bisa membalas cintanya. Seandainya melupakan seseorang itu adalah hal yang mudah, mungkin ia tidak akan terus tersiksa dengan cinta bertepuk sebelah tangan seperti saat ini. Walaupun tidak mungkin, ia akan mencoba mencari cinta sejati di dalam hidupnya, ia akan mencoba terus maju dan mencari lelaki yang dapat membalas perasaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN