Hari demi hari Dewa penjaga samudera selalu menunggu kapan waktu nya Aurora bereinkarnasi di alam dunia.
Malam itu dirinya baru mendapatkan kabar, ruh Aurora akan ditiupkan ke dalam rahim seorang wanita di desa terpencil di selatan bumi.
Sang Dewa melakukan meditasi guna memasuki alam ruh untuk mencari Aurora.
Dirinya melihat ruh Aurora yang sudah terpancar dari kejauhan, Sang Dewa menghampiri dengan cepat.
Kalung bertahtakan intan permata berwarna biru itu masih tergantung di leher Aurora, intan permata itu perlahan dimasukan ke dalam jantung Aurora oleh Sang Dewa.
"Auora kekasih ku.. kakanda akan selalu melihat mu dan menjaga mu dari kejauhan.. intan permata ini adalah sinyal cinta ku padamu..dimana pun kau berada.. aku akan menemukan mu sayang.. "
Sang Dewa menitik kan air mata rasa bersalah.. wanita yang dicintai nya menerima hukuman yang seharus nya tidak terjadi.
Dirinya hanya bisa meraba wajah Aurora yang terlelap , tak bisa dipeluk, tak bisa diciumnya.
Sang Dewa hanya bisa memandangi Aurora dengan rasa sayang dan cinta.
Seketika itu ruh Aurora ditarik dan di hembuskan ke rahim seorang Ibu yang berada di daerah terpencil.
Seorang ibu yang sudah lama menunggu kehadiran anak, hingga 50 tahun lamanya barulah dirinya dikaruniai sang buah hati.
Dewa penjaga samudera tersadar dari meditasi nya, dan segera menugaskan naga kesayangan nya untuk menjelma sebagai tabib untuk membantu persalinan ibu tersebut di desa kecil itu.
"Oeee..ooeee..ooeee...!!"
Tangisan bayi perempuan yang cantik menghiasi rumah sepasang orang tua itu.
Bayi yang cantik, lucu, putih, memiliki rambut yang hitam dan lebat, bibir nya merah, hidungnya mancung, bulu mata nya lentik. Sosok nya sangat sempurna menjadi seorang manusia.
Sang Dewa melihat nya dari kejauhan.
"Auora.. kau terlahir untuk yang pertama kali nya.. aku akan selalu menunggu mu.."
Ujar Sang Dewa tersenyum bahagia, karena Aurora terlahir dengan selamat.
Aurora kecil yang hidup di dunia kini bernama Bastari, yang memiliki arti wajah yang menyerupai sang bidadari.
Bastari tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu dan pintar, dirinya sangat banyak disukai warga di desa. Anak nya gemar menolong sesama, periang, dan selalu menghibur seseorang jika dalam kesedihan.
Dari kejauhan Sang Dewa tersenyum kecil melihat tingkah laku Bastari yang lucu.
Dalam benak nya dia berkata,
"Aurora.. menjadi bidadari maupun menjadi seorang manusia,, dirimu tetap cantik dan mempesona.."
Bastari kecil pun kini tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita.
"Ibu.. ibuu.."
"Tiga hari lagi Bastari ulang tahun yang ke 18 .. "
"Boleh kah Bastari mengundang teman teman datang ke rumah tidak bu..?"
Ujar Bastari merayu ibu nya yang sudah mulai menua.
"Silahkan anakku sayang.."
"Ambillah padi di sawah belakang rumah kita.. buat kan kue beras untuk cemilan mereka.."
Sang ibu berkata sambil mencium pipi Bastari yang putih bersih.
Bastari pun memeluk tubuh ibu nya yang mulai renta dengan rasa sayang.
"Terimakasih ibu ku cantiik.."
Kecupan kecil dari Bastari hinggap di kening ibu tua itu.
Ayah Bastari sudah lama meninggal dunia karena sakit dan termakan usia.
Kini Bastari dan ibu nya hidup berdua di rumah yang mungil.
Sehari hari Bastari membantu ibu di sawah, hasil panen nya dijual di lumbung juragan kaya di tengah desa.
Malam sebelum hari ulang tahun Bastari, dirinya memandangi rembulan yang penuh menyinari bumi.
"Bulan purnama,, tunggu..tunggu.. rasa nya ada sesuatu di bulan purnama.."
Bastari seperti mengingat sesuatu.
"Ada apa ya di bulan purnama..??"
Dia bertanya dalam dirinya sendiri.
Jantung nya terasa berdebar kencang.
Bastari merasakan hal aneh timbul dari dalam d**a nya.
Ternyata intan permata yang diberikan Sang Dewa penjaga samudera bergerak, mungkin karena dirinya sudah beranjak dewasa.
Di dalam samudera yang luas Sang Dewa merasakan gerakan intan permata yang dia sematkan di dalam jantung Aurora.
"Aurora.. kau sekarang sudah beranjak dewasa.."
"Diri ini tak sabar menanti waktu itu.."
Gumam Dewa penjaga samudera.
Sang Dewa tak bisa bertemu langsung dengan Aurora, karena akan menggugurkan persyaratan Raja Langit, sehingga menambahkan masa reinkarnasi Aurora.
Akhirnya Sang Dewa mengutuskan naga kesayangan nya untuk melihat keadaan Bastari.
Sang naga pun melintasi bulan purnama yang sedang bercahaya terang menyinari malam.
"Apa itu?!.."
Bastari terkejut melihat sosok naga yang melintasi bulan.
Sambil menegaskan kembali apa yang dia lihat, Bastari keluar dari rumah nya.
Namun aneh sang naga itu pun menghilang dari sela sela awan yang menghitam.
Bastari pun kembali masuk ke dalam rumah nya.
Malam pun kian larut, Bastari tertidur pulas di ranjang beralaskan tilam.
Di dalam tidurnya dia bermimpi berada di taman bunga yang sangat indah, dan bertemu seseorang pria yang tampan, sosoknya yang tinggi, gagah, putih, dan memiliki sorot mata yang tajam.
Di dalam mimpi Bastari mengenali wajah tersebut, dia berlari ke dalam pelukkan Sang Dewa.
"Dewa penjaga samudera.. adinda merindukan mu.."
Di dalam mimpinya Bastari menangis tersendu sendu.
"Esok hari adalah hari ulang tahun mu .."
Ujar Sang Dewa.
Dirinya menyentuh d**a Bastari dan menambah energi di dalam batu permata tersebut.
Bastari harus hidup dalam kebahagiaan, karena itu batu permata yang berada di dalam jantung Bastari harus diberikan energi murni dari Sang Dewa, pada saat Bastari memasuki umur ke 18 tahun.
"Aurora,, engkau tetaplah menjadi Aurora ku.. walau ribuan tahun lama nya, diriku akan selalu menunggu mu..sampai kapan pun itu kau tetaplah menjadi milikku.."
Ujar Sang Dewa sambil mengecup lembut bibir tipis yang dimiliki Bastari.
Bastari pun membalas cium an Sang Dewa berkali kali..
Rindu yang mendalam diantara dua insan telah membuat mereka mabuk kepayang.
Kembali bulan purnama menjadi saksi kisah cinta mereka berdus, walaupun kini keadaan nya berbeda, hanya lah di alam mimpi.
Sebelum terbangun dari mimpi Bastari, Sang Dewa harus melenyapkan ingatan kejadian yang sudah dilewati di alam mimpi tersebut.
"Matahari akan muncul sayang,, kau harus terbangun dari mimpi ini, jalani hari hari mu dengan penuh kebahagiaan.."
Sang Dewa berkata kepada Bastari sambil melepaskan perlahan pelukan nya dari tubuh Bastari.
"Tidak kakanda.. adinda tidak ingin bangun dari mimpi ini.."
Kembali Bastari menangis, melepaskan tubuh Sang Dewa.
"Adinda harus sabar... kita harus sabar.. kelak adinda akan menjadi Dewi di khayangan.." ujar Sang Dewa sambil mengecup lembut dahi Bastari, dan mengusap lembut pipi putih gadis cantik itu penuh rasa cinta.
Sambil mengecup lembut bibir mungil Bastari, Sang Dewa pun menutup mata lentiknya dengan tangan Dewa yang kekar, agar sosok yang paling dicintainya melupakan kejadian di dalam mimpi.