Pagi hari terasa lambat, Aurora menunggu kehadiran Sang Dewa di depan gerbang lembah Firdaus.
Dalam benak Aurora berkata,
"Apakah nanti akan disetujui oleh Raja Langit hubungan ku dengan kakanda...semoga tidak terjadi masalah..." tubuh molek itu resah, menunggu pujaa. hati.
Dari kejauhan Sang Dewa penjaga samudera terlihat menghampiri Aurora, mengenakan jubah putih yang panjang, rambut nya yang biasa terurai sebagian, kini diuntal keatas. Makin terlihat dengan jelas ketampanan Sang Dewa.
Aurora menyambutnya dengan senyuman manis, bibir nya yang tipis dan merona sangat indah dipandang.
Sang Dewa pun menggapai tangan Aurora dan mengecup nya.
Sambil berkata,
"Pagi yang indah, seindah wajah mu Aurora..."
Aurora pun tersipu malu, pipi nya yang putih bersih memerah seketika. Dirinya tertunduk malu dan menutupi pipi yang makin memerah dengan kedua tangan nya.
"Mari kita berangkat ke istana langit, dan menemui Raja Langit.."
Sang Dewa turun dari pundak naga yang dia tunggangi, kemudian menggendong Aurora untuk naik ke bahu naga kesayangan nya.
Aurora berkata "Hati hati kakanda... adinda belum terbiasa..."
"Jangan takut dinda.. kakanda akan memeluk dan menjaga mu.. pegang yang erat bahu naga ini.. jadikan dia bagian dari dirimu... agar bisa menyatukan rasa..." ungkap Sang Dewa kepada Aurora sambil tersenyum.
Ini adalah pengalaman pertama Aurora menunggangi naga Sang Dewa.
Diri nya takjub melihat isi khayangan yang begitu indah, karena selama dirinya berada di lembah Firdaus dia tak pernah meninggalkan lembah itu sedetik pun.
Saat ini adalah kebahagiaan yang tak akan pernah dilupakan Aurora dan Sang Dewa.
"Baru kali ini kakanda menunggangi naga berdua dengan wanita yang kakanda cintai.. " sambil memeluk hangat dari belakang tubuh Aurora, Sang Dewa berbisik mesra.
Aurora pun makin tersipu malu.
Selama perjalanan menuju istana langit, mereka tidak menghabiskan waktu itu dengan sia sia. Sang Dewa mengajak Aurora mengelilingi khayangan, karena bidadari cantik itu belum pernah beranjak dari Taman Firdaus selama hidupnya.
Kedua insan telah merasakan dunia yang berbeda, tidak seperti sebelumnya. Biasanya mereka hanya melakukan rutinitas yang merupakan kewajiban.
Sesampai nya di istana langit, rasa cemas menghantui Aurora kembali.
"Kakanda, adinda takut.."
Aurora memegang jemari Sang Dewa, kemudian di kepal nya. Tangan nya dingin, peluh pun bercucuran.
"Jangan khawatir adinda... kakanda akan berusaha meyakinkan Raja Langit..."
Sang Dewa meleraikan rasa risau Aurora.
Mereka berdua duduk bersimpuh di depan Raja Langit,
"Ada apa kalian datang menemui ku ... " ujar Sang Raja dengan suara yang lantang.
"Dewa penjaga samudera.."
"Bidadari penjaga Taman Firdaus.."
"Ada apa ini.. "
Tegas Sang Raja Langit.
"Mohon maaf atas kelancangan kami berdua menemui Raja Langit.."
Ungkap Sang Dewa
"Kami bermaksud untuk meminta ijin dan restu kepada Raja Langit atas hubungan kami berdua.."
Dengan lantang Sang Dewa berujar kepada Sang Raja Langit.
"Apa..!!!"
"Kalian sudah lancang berkata seperti itu.."
"Apakah kalian sudah lupa dengan hukum langit ?!!.."
"Saya tidak akan pernah mengijinkan .. paham itu.. !!"
Tegas Sang Raja Langit.
"Kalian hidup di tempat berbeda.. kedudukan kalian pun berbeda.."
"Apakah kalian tidak menyadari hal itu?!!.."
Geram Sang Raja Langit.
"Kami berdua mengetahui hal itu wahai Raja... tapi hati kami,, perasaan kami tidak bisa menutupi itu semua..."
Jelas Sang Dewa, sambil menundukkan kepala.
Aurora ketakutan dan tertunduk di hadapan Raja Langit, dirinya tak bisa berkata kata kecuali hanya beruraikan air mata.
"Yang Mulia Raja Langit,, apakah tidak ada persyaratan yang bijak untuk kami berdua..?"
"Kami mohon Yang Mulia berbaik hati kepada kami.. "
Ucap Sang Dewa, penuh pengharapan dan sujud di depan Raja Langit.
"Saya tidak bisa memberikan kebijakan itu !!"
"Kecuali bidadari penjaga lembah Taman Firdaus naik kedudukan nya menjadi seorang Dewi..."
Tegas Sang Raja Langit kembali.
Dengan tubuh lemas, Aurora berjalan melangkah mundur meninggalkan Sang Dewa dan Raja Langit.
Fikir nya entah kapan itu akan terjadi, tak pernah terbayangkan oleh Aurora kapan dia akan menjadi Sang Dewi.
"Baik kalau memang begitu titah Raja, saya Dewa penjaga Samudera mohon pamit.." ujar Sang Dewa, sambil melangkah mundur meninggalkan Raja Langit yang hampir emosi dibuatnya.
Diperjalanan pulang kembali ke Taman Firdaus, Sang Dewa dan Aurora hanya terdiam tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka.
Suasana pun menjadi berbeda, tidak seperti awal mereka mengunjungi istana langit.
Hening tak bergeming.
Setiba nya di lembah Taman Firdaus, Sang Dewa memeluk Aurora dan mengangkatnya untuk menuruni naga yang ditunggangi.
Namun Aurora tidak diturunkan tepat disamping naga tersebut, melainkan terus masuk menelusuri Taman Firdaus yang indah itu, sehingga sampai di dalam peraduan Aurora.
Mata nya yang tajam menunjukkan rasa cinta yang dalam kepada Aurora. Begitu pun dengan Aurora, mata sendu yang menangis disepanjang jalan, begitu dalam menatap mata Sang Dewa.
Mereka beradu pandang dalam dekapan.
Di benak Aurora, ingin sekali berlari dari keadaan ini.
"Dewa penjaga samudera, maaf kan saya yang telah masuk ke dalam hati mu.." ungkap Aurora sambil terisak.
"Tinggal kan aku disini.. pergi lah..!!"
Aurora memekik kepada Sang Dewa, dan menyesali mengapa pertemuan ini terjadi.
Sang Dewa pun hanya terdiam, yang ada di dalam pikirannya bagaimana cara untuk selalu bersama Aurora yang dicintai.
Perlahan Sang Dewa menurunkan bidadari itu dari gendongannya, tubuh molek itu direbahkan diatas ranjang yang dihiasi bunga-bunga cantik dan wangi semerbak.
Kemudian tubuh kekar itu melangkah pergi meninggalkan tubuh Aurora yang terbaring.
Ternyata Aurora menarik lengan Sang Dewa dan memeluk erat tubuh kekar itu, sehingga jatuh ke ranjang Aurora, tepat diatas tubuh bidadari cantiknya, Dewa penjaga samudera pun membalas pelukkan Aurora, mereka pun b******u seolah olah enggan untuk berpisah.
"Aurora.. kau adalah milikku.. tak ada satupun yang bisa memisahkan kita.."
Bisikkan cinta Sang Dewa, menenggelamkan rasa di relung hati Aurora.
Pernikahan mereka pun berlanjut tanpa sepengetahuan Raja Langit, mereka melakukan ritual pernikahan disaksi kan oleh hewan-hewan yang bersemayam di lembah tersebut, bunga-bunga yang cantik menghiasi suasana sakral tersebut.
Mereka sangat bahagia, tanpa memikirkan akibatnya akan seperti apa.
"Saya Sang Dewa penjaga Samudera menyatakan akan menjadi suami dan selalu menjaga..."
Belum usai ikrar janji diucapkan, petir menyambar Taman Firdaus, sehingga taman yang tadi nya indah seketika hangus terbakar.
Raja langit murka.
Hewan-hewan yang tinggal di Taman Firdaus berlarian tunggang langgang.
Sang Dewa terpental keluar Taman Firdaus, kemudian Aurora terpental ke alam ruh.
Sang Dewa tak sadar kan diri untuk sesaat, kemudian dia terbangun dari ketidak berdayaannya.
Sang Dewa mencari tubuh Aurora dan kembali ke dalam Taman Firdaus yang sudah hangus terbakar.
Tak dia jumpai lagi burung burung yang berkicau, indah nya kupu kupu yang selalu menghiasi Taman Firdaus.
Semua nya hitam, hangus menjadi serpihan.
Sang Dewa memanggil wanita yang dicintainya.
"Aurora... Aurora... Aurora..!!"
"Dimana kamu beradaaa..!!"
"Kekasih ku..dimakah kamu sayang..!!"
Sang Dewa tersungkur dan menangis.
Tubuh nya lemas tak berdaya.
Wanita yang dia cintai entah kemana pergi nya.
Sang Dewa teriak memanggil Raja Langit.
"Yang Mulia Rajaaa Langiiitt...!!!"
"Kenapa Engkau begitu jahat kepada kami.."
"Kami hanyalah dua insan yang ingin menjalin cinta..!!"
"Kami tidak menginginkan apa apa.. selain bersatu..!!"
Seketika suara Raja Langit menggelegar dan membahana seisi Taman Firdaus
"Wahai Dewa penjaga samudera, Aurora kekasih mu sudah saya buang ke alam dunia.!!."
"Jikalau kalian ingin terus melanjutkan hubungan kalian.. biarkan Aurora belajar menjalani kehidupan di dunia, hingga waktu nya dia bisa menjadi Sang Dewi dan kalian bisa hidup bersama.."
Tegas Raja Langit dengan suara nya yang lantang.
"Inilah hukuman kalian yang sudah melanggar perjanjian langit !!"
"Tunggulah kekasih mu hingga tiga kali reinkarnasi nya di alam dunia..!!"
Raja Langit kembali menegaskan kepada Dewa penjaga samudera.
"Aaaaaaaccchhhhh....!!!"
Sang Dewa teriak menggila, tubuhnya tersungkur, tangannya dikepal dan menghantam taman firdaus. Dewa tampan itu merasa bersalah sudah melanggar peraturan langit demi mementingkan kebahagiaannya untuk bersama kekasih hati, ketimbang keselamatan Aurora.
Sang Dewa pun bergegas kembali ke dasar samudera, di dalam perjalanan dia berbicara dengan naga kesayangannya.
"Wahai naga kesayangan ku, saya memiliki permintaan untuk mu, jika tiba saat nya Aurora terlahir ke alam dunia. Tolong saya, jadilah kau sosok yang selalu menjaga Aurora sampai tiga kali reinkarnasi nya.."
"Datanglah kau ke alam bawah sadar nya"
"Jika dia dalam bahaya, bantu dia.."
"Jika dia dalam kesulitan, tolong dia.."
"Jagalah dirinya, hingga naik menjadi seorang Dewi di khayangan.."
Naga itu pun mengangguk atas apa yang diucapkan majikan nya..