Prolog
“Roy, mau jalan nggak?”
“Ayuk aja, tapi aku nggak mau jalan disini aja. Kita ke lembang makan nasi goreng”
“Okay”
Imai masuk ke kemar pribadinya berniat ingin mengganti baju kaos yang sebelumnya hanya di tutupi dengan jaket hitam berganti long Dress yang sangat pas membentuk lekuk tubuhnya. Dengan lengan baju model Sabrina.
Di dalam cermin ia melihat pantulan dirinya yang sangat anggun di balut dengan baju tersebut, ditambah rambut ombre hitam-merah sebahu mode wolfcut ia buat sedikit bergelombang membuatnya tampak berbeda. Lebih terlihat perempuan feminim.
Tok tok tok
Astagfirullah, ia benar-benar sudah terlarut terlalu jauh dari mimpinya. Kalau bukan ketokan pintu kamarnya ia sudah melalangbuana mengikuti alur mimpi yang absurd tersebut.
Bagaimana mungkin di hari pertama kedatangannya kembali ke kampung halaman ia bisa-bisanya memimpikan Roy. Teman masa kecilnya sewaktu sekolah dasar yang sudah lama tidak ia temui. Terlebih lagi di dalam mimpi tersebut ia seperti perempuan murahan. Dimana hijab kebanggaannya? Bagaimana bisa ia merelakan mahkota di lihat oleh yang bukan mahramnya? Dan bagaimana bisa dia ingin jalan-jalan mengenakan pakai kurang bahan seperti itu? Sungguh semua itu tidak masuk akal sama sekali.
Imai membuka pintu kamarnya, dimana disana sudah berdiri ayahnya dengan seragam lengkap ingin pergi bekerja.
“Bapak sama ibu pergi dulu”
Setelah bersalaman dengan bapak dan juga ibu Imai kembali duduk diatas kasurnya. Sekelebat gambaran mimpi tersebut masih berbayang di benaknya. Bagaimana mungkin ia memimpikan laki-laki yang merupakan musuh bebuyutannya semasa sekolah dasar tersebut.
Ia ingat sekali kapan terakhir bertemu dengan laki-laki itu, tiga tahu lalu sewaktu reuni angkatan sekolah dasar selepas bulan Ramadhan. Tidak jauh berbeda dengan gambaran wajahnya dulu sekali ia bertemu.
Meskipun rumah Imai dan Roy masih berada di gang yang sama dan terpaut jarak tiga rumah saja. Dikarenakan kesibukan masing-masing baik Imai maupun Roy tidak pernah bertemu.
Imai yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan di kota Bandung yang hanya pulang kembali ke kampung halaman setahun sekali.
Sedangkan Roy seingatnya sudah berkerja di perusahaan batu bara tidak jauh dari kampung, yang membuat mereka tidak pernah bertemu sekalipun keduanya sedang berada di rumah masing-masing pun memiliki kesibukan masing-masing.
“Mai, mai” suara yang memanggil-manggil dirinya membuatnya berhenti mencari sumber suara tersebut.
“Sini, di jendela” sesuai perintah Imai mengalihkan pandangannya pada rumah bercat hijau tosca tersebut. Tepat matanya melihat siapa pelakunya, ia sangat terkejut dan refleks menutup matanya dengan topi sekolah yang sedari tadi hanya ia pegang.
“Roy!!” Teriaknya melengking. Syukurlah pagi itu jalanan di gang sudah sepi dan rumah-rumah dapat dipastikan sudah ditinggal para penghuninya untuk berkerja.
“Pakai baju mu Roy!!!”
Pelakunya hanya ketawa melihat tingkah Imai.
“Tungguin aku, berangkat sekolah”
“Nggak ah, nanti telat. Ini aja mau masukan kelas” protes Imai tidak setuju permintaan Roy.
“Yahhh…… tungguin aku lah mai, bentarrr aja. Ya ya” katanya memohon.
“Ya udah, tapi buruan”
“Okay, aku pakai baju dulu”
Imai tersenyum geli mengingat kejadian ajaib satu-satunya antara ia dan juga Roy. Bagaimana mungkin tidak di bilang ajaib. Biasanya kalau sudah Roy dan Imai bertemu selalu saja akan berujung pada perkelahian, bagaikan musuh bebuyutan tom and jerry saja.
Kejadian yang bertahan hanya satu bulan itu terasa damai. Baik di sekolah maupun di luar sekolah mereka berdua tidak berkelahi, bahkan berujung di ceng-cengi oleh teman-teman sekelas.
Mereka selalu berangkat bersama, pulang bersama, dan selalu imai yang setia menunggu Roy di pagi hari di jembatan samping rumah Roy.
Mengingat momen itu membuat imai semakin geli, bagaimana bisa musuh bebuyutan bisa akur dalam satu bulan. Sungguh momen yang ajaib dan jika bisa diabadikan, ia ingin sekali menggabadikan momen langka tersebut.
Meninggal momen lucunya semasa sekolah dasar bersama musuh bebuyutannya yang tanpa permisi pagi ini hadir dalam mimpinya, imai beranjak pergi untuk rutinitasnya.