Tulisan tangan yang indah dan teratur memenuhi halaman buku bersampul biru muda itu. Nadia menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mulai membaca perlahan, seolah setiap kata menyimpan jejak emosi yang pekat.
Kenapa Papa menikah dengan Mama Salsa? Kenapa? Dan kenapa semakin lama Papa semakin tidak menyayangiku?
Nadia mengerjap. Alisnya berkerut samar. Tulisan itu singkat, tapi sarat kepedihan yang langsung menusuk hatinya.
Perlahan, ia membuka halaman berikutnya. Tulisan tangan itu masih sama, dengan goresan tinta yang tampak lebih berat, seolah tangan yang menulisnya bergetar menahan perasaan.
Aku sangat mencintai Theodor, tapi dia tidak pernah mencintaiku. Aku sudah berusaha… berusaha keras agar dia melihatku, mencintaiku, menganggapku lebih dari sekadar bayangan. Tapi semua usahaku sia-sia. Aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa Theodor mencintai Salsa… dan bukan aku? Aku tak pernah menemukan jawabannya.
Aku ingin sekali dia menatapku dengan penuh sayang seperti saat dia menatap Salsa. Tapi yang kudapat hanyalah tatapan tajam—penuh ketidaksukaan, bahkan kebencian. Aku ingin mendengar suaranya yang lembut, mendengar namaku dipanggil dengan penuh kasih seperti dia memanggil Salsa. Tapi yang selalu kudengar adalah kata-kata yang menyakitkan. Sangat menyakitkan.
Namun aku tetap berharap. Kuharap waktu bisa mengubah Theodor. Kuharap waktu bisa melembutkan hatinya, cukup untuk menyayangiku… meskipun hanya sedikit.
Nadia menutup bibirnya rapat-rapat. Hatinya terasa berat. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka halaman selanjutnya.
Hari ini ulang tahun Theodor. Aku sudah menyiapkan segalanya. Kejutan, kue ulang tahun, hadiah yang dibungkus olehku sendiri, dan makanan favoritnya. Aku menunggu sepanjang malam. Duduk di ruang makan, berharap dia akan pulang dan tersenyum melihat semua ini.
Tapi Theodor tak kunjung datang. Yang kudengar justru kabar bahwa dia merayakan ulang tahunnya bersama Salsa. Hatiku remuk… Tapi aku tetap menunggu. Aku tetap berharap.
Akhirnya dia pulang, dan aku menyambutnya dengan antusias. Tapi yang kudapat hanyalah kemarahan. “Apa kau bodoh?” katanya. “Untuk apa semua ini?” Lalu dia masuk ke kamarnya. Mengunci pintu. Meninggalkanku sendiri. Semua yang kusiapkan menjadi sia-sia. Aku menangis malam itu. Lama. Sangat lama.
Nadia menutup mulutnya dengan tangan, menahan napas yang tercekat. Meski logikanya mengatakan ia tak punya alasan untuk bersedih, tapi entah mengapa dadanya terasa sesak, seolah luka yang tertulis di buku itu adalah lukanya sendiri.
Tangannya nyaris bergerak membuka halaman selanjutnya, saat tiba-tiba—
BRAK!
Pintu kamar terbuka dengan keras.
Nadia tersentak. Buku di tangannya hampir terjatuh. Jantungnya berdebar tak karuan. Matanya langsung menoleh ke arah pintu.
“Tak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?” Suara Nadia terdengar ketus, penuh nada kesal. “Atau… jika mengetuk terlalu sulit untukmu, bisakah setidaknya kau membuka pintunya dengan perlahan?”
Tatapannya menusuk ke arah sosok yang berdiri di ambang pintu. Napasnya masih belum stabil akibat terkejut. Buku yang tadi dibacanya kini tergeletak di meja, terlupakan sejenak karena kedatangan yang tidak terduga itu.
Namun Theodor tak sedikit pun menunjukkan rasa bersalah. Ekspresinya tetap datar, nyaris acuh. “Papa ada di ruang keluarga. Dia datang untuk melihat keadaanmu. Sebaiknya kau segera keluar dan menemuinya,” ucap Theodor tanpa menanggapi protes itu. Kalimatnya dingin, seolah tak peduli bahwa ia baru saja mengganggu dengan kasar.
Nadia mendengus pelan, lalu berdiri. Ia menatap Theodor beberapa detik sebelum melangkah. Ketika melewati pria itu di ambang pintu, ia sempat berbisik dengan nada yang tajam dan penuh tekanan. “Belajarlah untuk memiliki sopan santun. Kau adalah seorang direktur utama, tapi kau bahkan tak mencerminkan adab sedikit pun.”
Langkah Nadia cepat dan tegas, meninggalkan Theodor dalam diam. Tak memberinya kesempatan untuk menjawab atau bahkan mencerna makna dari kalimat tersebut.
Theodor sempat ingin membalas, lidahnya nyaris melontarkan kalimat sarkasme, namun akhirnya ia hanya terdiam. Punggung perempuan itu sudah menghilang di tikungan lorong.
Theodor berdiri kaku di tempatnya, dahinya berkerut. Pandangannya mengarah ke buku bersampul biru muda di atas meja, lalu beralih ke arah pintu yang masih terbuka.
‘Perempuan itu… semakin sulit dipahami. Ia tak pernah berbicara padaku dengan nada seperti itu sebelumnya. Tak pernah melawan… apalagi sampai mengkritik diriku secara langsung. Ada sesuatu yang berbeda. Dan begitu tiba-tiba,’ ucap Theodor dalam hati.
Sesampainya di ruang keluarga, Nadia langsung mengambil tempat di sofa panjang berwarna krem yang tampak mahal. Ia duduk tegak, kedua tangannya terlipat di pangkuan, dan pandangannya mengarah lurus pada dua orang yang duduk di seberangnya.
Keningnya berkerut pelan.
Ada sesuatu yang terasa asing sekaligus familiar dari wajah-wajah itu. Nadia mengamati keduanya dengan seksama—seorang pria paruh baya dengan sorot mata tajam, dan seorang wanita elegan yang tersenyum hangat.
Nadia memilih diam. Banyak pertanyaan yang bergemuruh di kepalanya, tetapi ia memutuskan untuk tidak menunjukkan kebingungannya. Ia hanya menghela napas pelan dan mencoba bersikap tenang.
Namun perlahan, kilasan samar menyelinap di benaknya—potongan-potongan ingatan yang berusaha menembus permukaan kesadarannya. Wajah pria itu… wajah wanita itu…
Papa Ronald dan wanita di sebelahnya... mama tiri, Lily.
Nadia menelan ludah. Tubuhnya tetap diam, tetapi pikirannya berputar cepat.
Lily menjadi orang pertama yang memecah keheningan. “Bagaimana kabarmu sekarang, Jes? Mama sangat khawatir…” suaranya lirih namun penuh tekanan emosi.
Nadia menunduk sedikit sebelum menjawab, berusaha terdengar sopan. “Aku sudah baik-baik saja,” ucapnya singkat.
Keduanya langsung terbelalak. Ronald bahkan sedikit maju dari duduknya. Mereka tidak terkejut karena jawaban itu, tetapi karena nada suara—sopan dan tanpa konfrontasi, sesuatu yang nyaris mustahil terdengar dari Jessica selama ini, terhadap Lily.
“Kau… serius sudah baik-baik saja, Jes?” tanya Lily hati-hati, seperti masih tidak percaya dengan kenyataan di hadapannya.
Nadia mengangguk kecil. “Iya, aku benar-benar sudah baik-baik saja.” Ia sendiri bingung, kenapa pertanyaan itu terdengar seperti mempertanyakan kejujurannya.
‘Ada apa dengan anak ini? Kenapa ia mendadak jadi sopan seperti ini’ batin Lily bertanya.
Ronald akhirnya angkat bicara. Wajahnya datar, suaranya rendah, tapi mengandung ketegasan. “Jangan lakukan hal bodoh lagi, Jessica. Sudah cukup semua yang kau perbuat selama ini. Hidup ini tak bisa diulang.”
Nadia menatap pria itu beberapa detik, lalu mengangguk ringan. Suaranya tenang, nyaris tanpa emosi. “Baik. Aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi.”
Ronald mengernyit. Ia menoleh singkat ke arah Lily, lalu kembali memandang putrinya dengan tatapan bertanya-tanya. Ada sesuatu yang berubah dari anaknya. Sesuatu yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya.
Sementara itu Nadia hanya menatap mereka tanpa banyak ekspresi. Ia masih berusaha membongkar satu per satu serpihan ingatan—dan dua orang di depannya adalah bagian dari potongan besar yang belum sepenuhnya utuh.
Lily membuka tas kecil yang dibawanya, lalu mengeluarkan sebuah kotak makan berwarna pastel. Ia meletakkan kotak makan itu perlahan di atas meja dengan senyum lebar.
“Mama buatkan ini untukmu, Jes. Semoga kau menyukainya,” ucap Lily penuh harap.
Nadia menoleh pelan dan memandang kotak itu dengan sedikit terkejut. Ia lalu tersenyum kecil dan mengangguk. “Terima kasih banyak,” ucapnya dengan nada tulus, meski nada suaranya masih agak hati-hati.
Perlahan, Nadia mengambil kotak makan itu dengan kedua tangannya. Ia membuka penutupnya, lalu matanya membulat pelan saat melihat isinya. Sushi. Makanan Jepang yang selama ini hanya pernah ia lihat dimakan orang-orang. Ia belum pernah menyentuhnya, apalagi mencicipi.
Nadia terdiam sejenak, menatap gulungan nasi dan rumput laut yang tersusun rapi di dalam kotak. Ada juga irisan daging di dalam.
“Apakah kau ingin memakannya sekarang, Jes?” tanya Lily lembut, suaranya terdengar penuh harap.
Nadia menggeleng pelan. “Tidak, aku tidak akan memakannya sekarang. Aku masih kenyang. Tadi baru saja aku makan soto yang dibuatkan Bi Rani,” jawabnya.
Lily mengangguk dengan pengertian, meski raut kecewa sedikit terlihat di wajahnya.
Namun sebelum keheningan kembali menyelimuti ruangan, Ronald yang sejak tadi duduk diam dan hanya mendengarkan percakapan mereka, tiba-tiba menajamkan pandangannya. Matanya membulat saat memperhatikan sesuatu di pergelangan tangan Nadia. Rahangnya mengencang.
“Jes… dari mana kau mendapatkan gelang itu?” tanya Ronald cepat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat oleh matanya.
Nadia menunduk pelan dan memandangi gelang yang melingkar di pergelangan tangannya—gelang yang diberikan oleh nenek misterius itu. Ia menatapnya beberapa detik, lalu menoleh ke arah Ronald dengan ekspresi bingung. ‘Kenapa dia begitu terkejut melihat gelang ini?’ tanyanya dalam hati.
Satu hal yang pasti, Nadia tak bisa menjawab pertanyaan itu dengan jujur, karena semua hal yang terjadi belakangan ini masih terasa seperti misteri baginya.
“Aku membelinya belum lama ini. Kenapa, Pa? Apa Papa ingin memilikinya?” Nadia mencoba mencairkan suasana dengan senyuman kecil. “Kalau Papa menginginkannya, aku bisa memberikannya.”
Namun senyum itu langsung luntur saat mendengar jawaban Ronald. “Tidak! Aku tidak menginginkannya. Buang gelang itu sekarang!”
Nadia tersentak. Nada suara Ronald begitu tajam. Tegas. Dingin. Bahkan nyaris marah.
Lily pun ikut menoleh ke arah Ronald, keningnya berkerut. “Pa, kenapa kau tiba-tiba menyuruh Jessica membuang gelangnya? Menurut Mama, gelang itu cukup bagus.”
Ronald mengabaikan pertanyaan Lily. Ia memandang Nadia dengan tatapan tajam yang tidak biasa. “Jessica, cepat buang gelang itu. Sekarang juga. Atau bakar kalau perlu,” katanya tegas, nyaris menggebu. “Papa sedang tidak main-main dengan yang papa katakan.”
Nadia memandang Ronald tanpa berkata apa-apa. Ia benar-benar tidak mengerti. Tapi melihat keseriusan di wajah Ronald—dan suara yang tak bisa dibantah—ia tahu ini bukanlah sekadar permintaan, melainkan sebuah perintah.
“Papa tidak mau tahu. Buang gelang itu sekarang juga. Papa tidak ingin melihatmu memakainya lagi,” desak Ronald.
Nadia menghela napas kasar. Ia perlahan melepas gelang dari pergelangan tangannya, lalu berdiri dan berjalan menuju tempat sampah yang berada tak jauh dari situ. Dengan gerakan tegas, ia menjatuhkan gelang itu ke dalamnya.
“Selesai. Aku sudah membuangnya,” ucap Nadia tanpa ekspresi.
Ronald hanya mengangguk singkat. Ia lalu bangkit dari duduknya. “Kalau begitu, kami pamit. Ingat, Jessica. Jangan melakukan hal bodoh lagi.”
Lily pun ikut berdiri. Meski ia masih dipenuhi tanda tanya, ia memilih tidak berkata apa-apa. Bersama Ronald, ia meninggalkan rumah itu.
Nadia menatap kepergian mereka. Di dalam dirinya masih bergejolak satu pertanyaan besar. ‘Apa sebenarnya yang salah dengan gelang itu?’
Tidak menemukan jawaban dari pertanyaannya Nadia memutuskan kembali saja ke kamar Jessica dan membiarkan gelang itu tetap berada di tempat sampah, Nadia tidak ingin dimarahi Ronald jika tetap keras kepala memakai gelang itu.