Saka menatap jam tangannya berkali-kali. Rahangnya mengeras, mata tajamnya terus melirik ke arah pintu ruang meeting yang tetap tertutup rapat. Ketukan jarum detik pada jam besar di dinding terasa semakin keras, seolah mengejek kesabaran yang mulai habis. “Sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang sudah ditentukan,” ucap Saka dingin, nada kesal jelas terdengar. Sekretarisnya, pria muda dengan kacamata tipis, menelan ludah gugup. “S-saya akan menghubungi mereka sekali lagi, Tuan,” ucapnya terburu-buru sambil merogoh ponselnya dari saku. “Tidak perlu.” suara Saka tegas dan cepat, membuat sekretaris itu spontan berhenti. “Putuskan saja kerja sama kita dengan mereka. Tidak menghargai waktu. Lain waktu carikan vendor yang tepat, agar tidak seperti ini lagi.” Sekretaris itu menunduk dalam-da

