Tidak Mengerti

1967 Kata

Nadia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum perlahan membuka kelopak matanya sepenuhnya. Cahaya redup lampu tidur yang hangat menyentuh pandangannya, membuatnya sedikit menyipitkan mata. Tidurnya terasa sangat nyaman—lebih nyaman dari beberapa hari terakhir—namun tubuhnya seperti menolak untuk bangun, berat dan penuh rasa letih seolah seluruh tenaga telah terkuras habis. “Apakah tidurmu lelap?” Suara itu muncul begitu tiba-tiba—lembut namun jelas—sontak membuat napas Nadia tercekat. Matanya langsung terbuka lebar, terbelalak penuh keterkejutan. Ia mengangkat tubuhnya sedikit dan memutar kepala mencari sumber suara itu. Dan benar saja, di sudut kamar, berdiri nenek itu. Sorot matanya tajam namun hangat, senyumnya tenang, dan keberadaannya seolah memenuhi udara dengan keheningan miste

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN