Nadia sangat menikmati makanan itu, bukan karena rasanya luar biasa enak—melainkan karena rasa lapar yang sejak tadi menekan perutnya hampir tak tertahankan. Setiap suapan serasa menjadi penyelamat hidup. Sesekali ia menatap layar ponsel yang tergeletak di tangan kirinya, berjaga-jaga mana tahu ada kabar dari Saka, namun layar itu tetap gelap tanpa notifikasi apa pun. Tiba-tiba, seseorang memanggilnya dari arah depan. “Jessica.” Nadia spontan mendongak. Matanya langsung melebar—kaget sekaligus bingung. “Abel?” Perempuan berambut coklat panjang itu tersenyum simpul, menunduk sedikit lalu terkekeh pelan. “Kita bertemu lagi di sini, ya. Sangat kebetulan.” Tanpa menunggu jawaban, ia menarik kursi dan duduk tepat di seberang Nadia, seolah perbincangan itu sudah direncanakan. Nadia masih men

