Hampir Pingsan

1971 Kata

Saat sudah di perjalanan, Nadia langsung angkat bicara. Suaranya terdengar cemas meski ia berusaha terdengar tenang. “Kita mau ke mana, Saka? Dan… siapa yang tadi mengirim pesan-pesan itu?” Saka tidak langsung menjawab. Kedua tangannya memegang setir dengan kuat, rahangnya mengeras. Mobil melaju semakin cepat di jalan yang mulai sepi. “Pesan-pesan itu dari anggota keluarga Wijaya yang lain,” akhirnya ia berkata, suaranya datar namun tegang. “Mereka membahas video yang kau kirim ke Edo. Edo sudah menyebarkan video itu ke seluruh keluarga.” Nadia terbelalak. “Apa? Jadi… sekarang ini kita mau ke rumah Edo?” tanyanya pelan, mencoba menebak. “Ya.” Jawaban Saka cepat, tanpa ragu. “Edo memang tidak meminta kita datang. Tapi aku mengkhawatirkannya. Aku takut Haris akan melakukan sesuatu yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN