Memasak Bersama

1983 Kata

“Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Saka, nada suaranya penuh penasaran. Nadia kembali menatap layar ponselnya yang masih menyala, lalu memejam sejenak. Ia tidak tahu harus jujur atau menyimpannya sendiri. Ada rasa bingung yang menekan dadanya. Jadi ia tetap terdiam. “Kenapa kau diam saja, Jes?” suara Saka kali ini lebih mendesak, tubuhnya sedikit condong ke arah Nadia. Nadia akhirnya menghembuskan napas panjang. “Beberapa hari ini… aku mendapat pesan dari nomor tidak dikenal,” ucapnya lirih. “Pesan itu berisi ancaman. Kata-katanya berbeda-beda setiap masuk, tapi nomornya selalu sama. Dan… dia hanya ingin satu hal.” “Apa itu?” Nadia menelan ludah. “Dia ingin aku menjauh darimu.” Seperti ada petir yang menyambar udara. Ekspresi Saka langsung berubah, matanya melebar lalu menyipit, rah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN