Akhirnya hari yang dinantikan Resa datang juga. Sejak pagi, perempuan itu sudah mempersiapkan diri dengan sangat matang—memilih pakaian terbaik, merapikan rambutnya dengan gaya yang terlihat anggun namun tidak berlebihan, dan memoles sedikit lipstik di bibirnya. Semua demi satu tujuan: bertemu Saka. Ia menatap pantulan dirinya di kaca pintu mobil sambil tersenyum puas. “Hari ini aku akan membuatmu menyukaiku, Saka,” gumamnya pelan, yakin bahwa setiap langkah yang ia rancang akan membuat jarak antara dirinya dan Saka semakin dekat. Namun, begitu suara deru mobil Saka terdengar di kejauhan, jantungnya berdebar cepat. Mobil hitam itu berhenti perlahan di depan halaman panti asuhan tempat mereka berjanji untuk bertemu. Resa menegakkan tubuh, siap menampilkan senyum terbaiknya. Tapi senyum i

