Nadia ingin membuka pintu toilet itu. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tapi gerakannya terhenti ketika suara-suara pelan terdengar dari luar. Suara dua orang perempuan, samar-samar di antara dentuman musik lembut yang mengalun dari ruangan utama. “Kau melihat kekasih Saka, kan?” ucap salah satu dari mereka, suaranya terdengar sinis dan penuh rasa ingin tahu. “Ya, aku melihatnya,” jawab yang lain cepat. “Aku bahkan sempat duduk tak jauh dari mereka waktu mereka datang.” Nadia menegakkan tubuhnya. Ia menahan napas tanpa sadar, telinganya menangkap setiap kata yang keluar dari bibir dua perempuan itu. “Aku sangat tidak menyangka, seorang Saka Wijaya memiliki kekasih seperti itu,” ucap suara pertama lagi, kali ini nadanya jelas sekali terdengar meremehkan. “Dan yang paling membuatku

