Di restoran sederhana itu, aroma kaldu ayam dan bumbu tumisan memenuhi udara, berpadu dengan suara sendok yang beradu di mangkuk dan percakapan pelan para pengunjung. Lampu gantung kecil di atas meja memancarkan cahaya kekuningan yang hangat, memantulkan kilau lembut pada wajah dua perempuan yang duduk bersebrangan—Nadia dan Julia. Di depan mereka sudah tersaji dua piring nasi hangat dengan lauk sederhana, serta dua gelas minuman dingin yang mulai mengembun. Julia menunduk, kedua tangannya bertaut di pangkuan, sementara Nadia hanya duduk tenang, menatap makanan tanpa banyak bicara. “Terima kasih banyak,” ucap Julia akhirnya, memecah keheningan yang sempat menggantung. Suaranya lembut, nyaris tenggelam di antara riuh rendah pengunjung. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, seperti sedang men

