Sudah Menjadi Tugasku

1994 Kata

“Nyonya Jessica,” suara itu terdengar jelas, tegas, namun tetap lembut. Ketakutan yang semula membelenggu Nadia lenyap seketika. Nada itu—begitu familiar, begitu menenangkan. Rasa hangat menjalari dirinya, menggantikan kengerian yang tadi membekap. Dengan perlahan ia keluar dari persembunyian di dalam lemari. Ia segera melangkah, menemui orang yang memanggilnya itu—Bambang, papanya. “Pak… Bambang,” ucapnya lirih, bibirnya bergetar menahan haru. Ada dorongan kuat untuk segera memeluk sosok itu. Namun, ia tahu ia tidak bisa, tidak dengan tubuhnya yang sekarang. Ada keterkejutan, ada rasa khawatir yang jelas terpancar ketika Bambang menatap majikannya, “Nyonya Jessica,” ucap Bambang tidak percaya, ia melangkah mendekat. “Apa Nyonya baik-baik saja?” Namun pertanyaan itu segera terasa hamp

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN