Nadia menghembuskan napas panjang, sekarang ia ingin menambah sesuatu untuk disyukuri yaitu tidak melihat wajah Theodor atau mendengar suaranya. Ponsel di sakunya tiba-tiba berdering, membuat Nadia sedikit terlonjak. Ia meraih benda itu, melihat nama yang tertera di layar, lalu menekan tombol hijau. “Halo.” “Halo, sayang,” suara ceria itu langsung menyambut dari seberang, terdengar ringan dan menyebalkan di saat yang sama. Nadia memutar bola matanya malas. “Cepat katakan apa yang kau inginkan. Kalau tidak, aku akan segera menutup teleponnya.” Saka terkekeh pelan. “Kenapa kau terdengar galak, hm? Haruskah aku jatuh sakit lagi supaya kau bersikap manis padaku seperti kemarin?” “Kalau kau sakit lagi, aku tidak akan mau repot-repot merawatmu,” jawab Nadia ketus. Nada suaranya datar, tapi

