Beberapa menit setelah Theodor keluar dari ruang kerja Denis, suasana ruang itu kembali hening. Hanya suara jam dinding yang terdengar berdetak pelan, seolah menandakan betapa waktu berjalan lambat di tengah kekalutan yang melanda. Denis kembali termenung di kursinya, memandangi tumpukan berkas yang berserakan di meja. Pandangannya kosong, pikirannya kalut. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk mencoba menyelamatkan perusahaannya yang kini di ambang kehancuran. Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu memecah keheningan itu—cepat, berulang, dan terdengar tergesa-gesa. Denis mendongak, alisnya berkerut. “Masuk,” perintahnya datar, meski di balik nada itu tersimpan kelelahan dan sedikit ketegangan. Pintu langsung terbuka. Arman melangkah masuk dengan napas yang terdengar berat, seola

