Begitu memasuki rumah, langkah Nadia terasa sangat pelan dan hati-hati. Suasana rumah tampak begitu sunyi, hanya terdengar detak jam dinding dan bunyi lembut hembusan pendingin ruangan. Ia menelan ludah pelan, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ada perasaan was-was yang menghimpit dadanya—ia begitu enggan bertemu dengan Theodor. Setiap langkahnya di atas lantai marmer terdengar jelas, seolah mempertegas rasa enggannya yang menyelimuti udara. Nadia sempat menatap ke arah tangga yang menjulang, lalu ke ruang tamu yang rapi tapi terasa dingin. Ia bahkan berharap, untuk pertama kalinya, agar rumah sebesar itu benar-benar kosong. “Nyonya!” Suara keras penuh kekhawatiran itu membuat Nadia terlonjak kecil. Ia refleks menoleh dan menghembuskan napas panjang untuk meredakan keterkejutannya

