Nadia meletakkan kembali telapak tangannya di kening Saka, menghembuskan napas lega ketika merasakan suhu tubuh pria itu sudah turun. Tidak sepanas beberapa jam sebelumnya. Hawa hangat tubuhnya kini terasa lebih normal, dan wajah pucatnya perlahan kembali berwarna. “Tidurlah, Saka,” ucap Nadia dengan lembut. Saka menatap Nadia dengan pandangan yang samar tapi masih menyimpan senyum tipis. “Kalau aku tidur, kau tidak akan pulang, kan?” tanyanya cepat, suaranya serak dan pelan tapi penuh ketegasan seolah ia benar-benar khawatir Nadia akan pergi diam-diam. Nadia tersenyum kecil. “Aku tidak akan pulang.” Saka tampak belum puas dengan jawaban itu. Ia mengangkat tangannya perlahan, jari kelingking kanannya terjulur ke arah Nadia. “Berjanjilah padaku... kalau kau tidak akan pergi.” Nadia men

