Nadia mendengus kesal saat melihat Saka malah tertidur di tengah-tengah film yang baru saja masuk ke adegan puncak. Namun begitu matanya kembali menatap wajah pria itu—dengan luka yang belum kering dan lebam yang masih terlihat begitu jelas—semua rasa kesalnya lenyap seketika. Bagaimanapun juga, Saka telah membelanya dari sikap Theodor yang kasar dan menuduhnya tanpa alasan. Dengan pelan Nadia menghela napas, lalu menyesuaikan posisi duduknya agar Saka bisa lebih nyaman. Kepala pria itu kini bersandar di bahunya, napasnya teratur, seakan tidur menjadi satu-satunya cara untuk meredakan rasa sakit pada luka dan lebam itu. Nadia menoleh sekilas, memperhatikan garis wajahnya yang terlihat lebih lembut saat tertidur. Ada rasa aneh yang mengendap di dadanya, campuran antara rasa bersalah dan se

