Perkelahian Di Dalam Kamar

1891 Kata

Sesampainya di kamar, Nadia menutup pintu pelan seolah tak ingin menimbulkan suara. Ia meletakkan tas di atas ranjang, lalu dengan tangan bergetar mulai membuka resletingnya. Pelan-pelan, ia menarik keluar kain yang tadi diberikan oleh Siska. Jemari Nadia menyusuri permukaannya, merasakan tekstur lembut yang entah mengapa menimbulkan sensasi aneh—hangat, tetapi juga menyesakkan. Kain itu terasa hidup, seakan menyimpan jejak tangan seseorang yang pernah begitu menyayanginya. Nadia menatapnya lama, dadanya naik-turun berat. ‘Mungkin kain ini sudah menemaniku sejak aku lahir,’ pikirnya. Ada rasa asing sekaligus dekat, sebuah koneksi yang tak bisa ia jelaskan. Beberapa menit berlalu tanpa ia sadari. Hingga akhirnya, ia menarik napas panjang dan kembali menggeledah isi tasnya. Matanya tertum

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN