Sashi mematut dirinya di cermin, dia mengusap pipi dan bibirnya, terasa lembut. Malam ini malam minggu, tepat satu bulan dia berpacaran dengan Aric. Sudah dua hari pria itu tidak berkunjung ke kosnya, karena memiliki pertandingan di luar kota. Tapi malam ini dia akan pulang dan katanya akan mampir ke kos Sashi.
Dengan senyum terkembang Sashi berbaring di atas ranjang, membaca ulang pesan-pesan dari Aric, tertawa geli. Semakin hari semakin menyukai pria bermata coklat itu. Apalagi perlakuan Aric ke dia begitu fenomenal, kekasihnya itu mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk Sashi.
Sashi memeluk boneka beruangnya, hadiah dari Aric. Sebulan ini sudah berkali-kali Aric memberi hadiah. Sashi seringkali menolak, tetapi bukan Aric namanya kalau bisa ditolak. Sebagai balasan, sesekali Sashi akan menyisihkan uang bulanannya untuk membelikan barang-barang Aric. Walaupun tidak bisa dibandingkan dengan hadiahnya, pria itu terlihat sangat bahagia menerima pemberian Sashi.
Piyama berbentuk terusan dengan bahan halus yang dia pakai sekarang saja dibeli bersama Aric, Sashi masih fokus ke ponselnya. Dia juga melihat-lihat akun official klub game Aric, dengan harapan ada foto tim yang di-upload ke sana. Aric tidak memiliki akun medsos. Katanya dulu dia pernah punya, tapi sudah dinonaktifkan.
"Sayang, lagi apa kamu?"
Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sashi tersenyum sumringah, cepat-cepat dia membalasnya.
"Liatin video kakak."
"Uhuk ... kiss - kiss ... Kirim foto, kangen berat."
(Picture)
"Love"
"Kakak lagi ngapain? Balasan fotonya jangan lupa."
"Lagi...
(Picture)
...mau mandi."
Astaga! Sengaja banget pamerin body, Sashi tertawa. Pipinya seketika panas.
"Genittt."
"Rotfl. Miss you much, nanti malam kakak pulang. Kakak langsung ke kos kamu ya."
"Kiss."
"Love"
Sashi memandangi lekat foto itu sampai nyaris tertidur. Pukul sembilan malam dan mata Sashi mulai redup. Dia mendengar suara pintu kamarnya terbuka.
"Kak Aric." Sashi melompat bangun dari ranjang, kantuknya hilang seketika. Dia melihat pria itu dengan tas ransel di punggungnya. Sashi memeluknya.
"Padahal mau mengagetkan." Aric telah memiliki kunci duplikat kamar Sashi, dia buat dengan paksa, dengan alasan saat Sashi ngampus dia bisa beristirahat di sana sambil menunggu.
"Kakak, aku kirain nggak jadi datang."
Sashi menggelayut di lengannya.
Aric menutup pintu kamar Sashi, menguncinya. "Kan sudah janji."
Sashi mengangguk. "Kalau capek ya enggak usah dipaksain."
"Liat kamu capeknya langsung hilang."
Sashi tersenyum senang.
"Kakak mandi dulu ya."
Sashi mengangguk lagi. Sashi menunggu dengan sabar di atas tempat tidur.
Eh, bukannya tadi sore dia sudah mandi? Ih dasar. Jangan-jangan cuma alasan biar biasa kirim foto yang hot, Sashi tertawa geli.
Aric telah selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut pendeknya dengan handuk. Dia mengenakan kaos biasa dan celana pendek. Dengan segera melompat naik ke kasur Sashi.
"Kakak capek?"
"Nggak juga, tapi kalau dipijitin, nggak nolak." Aric berbaring di samping Sashi.
Sashi mengangguk, "Boleh. Bentar lagi ya, aku lagi war kak."
Aric tertawa. Sashi sejak kapan mulai main game?
"Kaakk, bantuin aku." Sashi menyerahkan ponselnya ke Aric.
"Astaga, masih level ini?"
"Udah hebat itu." Sashi mendekatkan tubuhnya ke Aric. Padahal Aric memakai sabun dan sampo miliknya, kenapa aromanya bisa jadi sangat enak ya? Sashi menghirupnya dalam-dalam.
"Lagi main bareng sama temen, pasti mereka tau ada yang jokiin akunku." Sashi tertawa.
"Udah."
Sashi bertepuk tangan, "Kak, satu kali lagi."
"Terus kakak di abaikan?" Aric melingkarkan tangan di perut Sashi. Sebulan berpacaran, Aric telah sering menyentuh Sashi. Sekarang berpelukan dengan pria itu tidak lagi membuat Sashi canggung.
"Ini piyama yang beli bareng kakak?"
Sashi mengangguk, dia masih fokus pada ponselnya.
"Manis sekali."
Aric menyentuh hidung dan bibir Sashi dengan jarinya. Bibir Sashi yang mungil bewarna pink pucat karena tidak memakai lipstik. Dia hanya memakai pelembab di bibirnya.
"Konsentrasi terganggu." Sashi terkikik.
"Kakak numpang nginap di sini. Males pulang."
"Oke, nanti aku tidur di kamar Refi kak."
"Tidak, di sini saja."
Sashi menoleh, kemudian dia tertawa.
"Sudah main game-nya," protes Aric, sambil berusaha menarik ponsel di tangan Sashi. Sashi tertawa terus dan mengelak.
"Ih lagi seru kakak."
"Jadi kakak kalah sama game?"
"Lho kok jadi begitu? Kalau di dengar sama fans kakak, kakak akan dituduh pengkhianat sebagai seorang gamer." Sashi masih terus fokus ke layar ponselnya. Aric menahan tangannya di sisi tempat tidur, membuat tubuhnya mengukung Sashi.
Jantung Aric berdetak kencang, saat melihat sosok ramping itu berada di bawahnya. Kulit lengannya terasa halus di tangan Aric, juga wangi alaminya membuat Aric terus menerus ingin memeluk dia.
Aric mencengkram pergelangan tangan Sashi, "Aih kakak." Sashi protes. Wajahnya seketika merona saat melihat tubuh Aric telah berada di atasnya, mereka berbagi ranjang yang sempit.
"Mmh." Sashi bergumam, dia mengulum bibirnya. Permainannya terhenti, tangan Sashi yang memegang ponsel terkulai.
Sedetik kemudian bibir Aric menyentuh bibirnya. Refleks Sashi memejamkan mata. Aroma mint terasa menyegarkan dari nafas lelaki itu, kakinya juga menahan tubuh Sashi agar tidak bergerak. Membuat Sashi tak berdaya.
Bibir Aric bergerak lembut di bibirnya, hanya saja Sashi terlalu gugup untuk bereaksi. Dia membiarkan saja, diam kaku seperti patung. Tetapi dia merasakan bagaimana piyamanya terangkat dan kaki Aric terasa di kulit pahanya yang terbuka. Dia merasa aliran aneh menyelimuti tubuhnya. Getaran seakan merambat pelan lalu menguasai.
Aric menghentikan ciumannya dan tersenyum. Sashi membuka mata pelan, dia diam saja. Terlalu malu untuk bicara, itu ciuman pertamanya. Dan Aric mengulanginya lagi. Mencium bibirnya begitu dalam.
"Mmh." Lagi-lagi Sashi hanya bisa bergumam. Sashi menahan debaran di jantungnya yang begitu cepat, takut kalau keheningan malam membuat Aric mendengarnya.
"Lain kali, jangan abaikan kakak hanya untuk kegiatan lain." Aric menyentil hidung Sashi.
"A--aku kan cuma mau tau dunia kakak gimana. Ingin mengetahui apa yang menarik untuk kakak." Akhirnya nafas Sashi kembali stabil.
"Yang paling menarik itu hanya kamu."
"Huuu..." Sashi mencibir. Sashi bergerak di bawah himpitan tubuh Aric.
"Eh apa-apaan ini? Mau memberontak?"
Sashi menggelengkan kepala, "Jadi kakak mau nginep di sini? Aku bilang sama Refi dulu. Takutnya nanti dia udah tidur."
"Memang boleh?"
"Boleh, kalau yang lain aja sering bawa pacarnya nginap." Sashi seketika malu dengan ucapannya sendiri. "Iya---maksudnya boleh."
Mata Aric menembus jantung Sashi, seperti berkata tidak usah kemana-mana. Tapi Sashi masih belum berani tidur berduaan dengan Aric, dia takut nyawanya akan melayang saking gugupnya.
Aric juga memahami itu, sekalipun mungkin tidak ada yang akan terjadi, dia tak ingin memaksa gadisnya. Kecuali, atas keinginannya sendiri.
Sashi kemudian keluar kamar dengan menenteng boneka beruangnya. Meninggalkan Aric.
Sepeninggal Sashi, Aric memegang bibirnya sendiri. Lembut dan manis, perasaannya seperti terkena badai. Ciuman juga sentuhan Sashi membuatnya lupa diri. Aric melirik dan melihat ponsel Sashi tertinggal. Dia membuka galeri dan mengirimkan foto-foto selfi Sashi ke ponselnya. Sashi sangat manis dan memesonanya.
Aric tertawa lagi mengingat peristiwa tadi. Dia bahkan merasakan jantungnya berdebar keras. Ciumannya tidak berbalas, Sashi hanya diam, bahkan bibirnya tidak bergerak. Dia pasti kaget, sikapnya sangat tegang. Tidak apa, Aric akan mengajari dia. Aric tertawa geli melihat ekspresi gadis itu di bawah kukungannya. Pelan-pelan saja, kali ini dia akan sangat bersabar.
***