Sashi menatap ragu pada ponselnya, pasalnya dia baru mengecek saldo e-banking karena mau isi pulsa dan melihat ada transferan sejumlah sepuluh juta tiga hari yang lalu. Notification-nya pastilah tidak masuk.
Dengan kebingungan Sashi berpikir, orang tuanya tidak mengatakan apa-apa. Aric? Apa Aric? Tapi bagaimana dia bisa mengetahui nomor rekeningnya? Sashi seketika merasa gelisah.
Sashi tidak sabar menunggu Aric datang, dia tadi mengatakan akan ke kos Sashi.
Selama ini, Aric memang sangat royal. Dia membeli banyak barang-barang untuk Sashi, bahkan dia tidak malu membelikan pembalut saat Sashi datang bulan. Aric malah cengengesan dan mengatakan kalau dia adalah pacar paling romantis dan perhatian di dunia. Tingkah Aric kadang konyol, tapi Sashi menyukainya.
Sashi mendengar suara langkah kaki yang sudah sangat dihapalnya, dia bergegas membuka pintu, sebelum Aric membukanya sendiri. Kaki Aric yang panjang masuk dan menutup pintu kamar.
"Kakak lapar, sayang. Kamu masak apa?"
"Hmm." Belakangan Aric suka sekali makan di kos Sashi. Apalagi setelah tahu kalau Sashi lebih suka memasak daripada beli. Bahkan sekalipun itu hanya telur mata sapi, Aric sangat bersemangat menghabiskannya.
"Ayam bakar."
"Serius?" Aric membulatkan mata, dia memeluk Sashi. "Serius, kamu bisa masak ayam bakar?"
Sashi jadi tertawa melihat kekagetan Aric. "Cuma ayam bakar apa susahnya, sih?"
"Tapi, emang ada panggangan?"
Ya ampun, "Pake teflon lah, Kak."
"Teflon apaan?"
Sashi menggigit lengan Aric pelan, "Dijelasin juga nggak bakal ngerti, kalau ngeliatnya aja nggak pernah."
Aric pura-pura kesakitan mengusap lengannya, berkata kalau dia sebentar lagi dia akan berubah menjadi vampir.
"Kakak mau makan dulu?"
Aric mengangguk. "Tapi...jatah kamu nanti malam ada nggak?"
"Ada dong."
Belakangan ini Sashi masak lebih banyak, kalau Aric tidak datang, masakannya akan dihibahkan pada teman kos yang lain. Mereka akan menerima dengan senang hati.
"Mau makan, tapi suapin."
Sashi tertawa, "Ya ampun."
Sekalipun kaget dengan permintaan Aric yang berlebihan, melihat pria itu makan dengan begitu semangat, Sashi menyuapinya seperti menyuapi bocah saja. Aric tak henti-henti berkata kalau itu adalah ayam bakar terenak yang pernah dia makan. Jelas itu adalah kebohongan, hanya saja Sashi tidak bisa tidak tertawa.
Setelah selesai makan dan Sashi pergi mencuci piring ke dapur kos. Mereka duduk bersantai sambil berpelukan di atas lantai kos. Berpelukan sangat menyenangkan.
"Kak." Sashi membuka percakapan, sambil membelitkan jari tangannya ke jari Aric.
"Hmm."
"Tadi aku liat-liat, saldo rekening aku nambah banyak. Harusnya saldonya tinggal sekitar lima ratus ribu. Eh tiba-tiba jadi sepuluh juta lima ratus ribu gitu."
"Wow. Kamu dapat undian?"
Sashi mendengus, "Kakak yang mentransfernya?"
"Jatah bulanan istri," bisik Aric.
"Kak ...." Aric menyebutnya istri, membuat Sashi berdebar.
"Apa?"
"Kenapa kakak begitu? Terus nomor rekening aku, kakak tau dari mana?"
"Begitu bagaimana?" Aric meletakkan dagunya di pundak Sashi.
"Jangan lakukan itu lagi."
"Nggak. Jangan larang kakak."
"Apaan sih?"
"Kalau kamu menolak, setiap bulan jatahnya kakak tambah dua kali lipat."
"Kakak, kakak mau bikin aku jadi cewek matrealistis?"
"Nggak."
"Terus."
"Cuma mau nyenengin pacar, apa nggak boleh?" Aric memainkan rambut Sashi. "Habiskan uangnya, nanti kalau kurang kakak kirim lagi. Biar kakak semangat cari duit."
"Uang segitu banyak selama sebulan mau di pake buat apa?"
"Pergi ke salon. Buat spa, perawatan. Biar kulitnya makin halus, makin cantik." Aric mendesah, dia mengangkat lengan Sashi dan menciumnya.
"Ih ... jadi sekarang kulit aku kasar, terus nggak cantik?"
"Kakak bilang makin sayang, makin, bukan berarti nggak."
Sashi tau bicara dengan Aric nggak ada guna. Pergi ke salon? Selama ini Sashi ke salon hanya untuk potong atau masker rambut.
"Aku sekarang jadi keenakan." Sashi mengeluh. Aric merapatkan pelukannya.
"Oh kasur kamu keras, sayang. Apa kita beli yang baru? Biar seperti tidur di atas awan." Aric menepuk-nepuk ranjang Sashi dengan tangannya.
Sashi tertawa, dia menjepit hidung Aric keras-keras. "Memang bisa tau bagaimana tidur di atas awan? Yang ada jatuh langsung ke bumi, terus mati."
"Kamu jangan merusak khayalan."
Sashi tertawa lagi, Aric menggelitik pinggangnya. "Kakak, ahh geliii tau."
Mereka berguling di lantai keramik kamar kos Sashi. "Kak, bagusnya aku beli karpet atau enggak?"
Aric menindih tubuh Sashi, mengangguk. "Kapan maunya, biar ditemani?"
"Tunggu dapat transferan untuk jatah bulan depan, yang ini mau aku habiskan di salon."
Aric tertawa, "Kalau begitu besok saja."
Sashi mengusap dagu Aric, "Kak. Takut."
"Takut?"
"Takut. Kalau ada kakak di samping aku saat ini, hanya mimpi."
Aric terdiam, mereka berpandangan lama dengan diam. Aric menggenggam tangan Sashi dan mencium jemarinya. "Kakak yang seharusnya bilang begitu."
"Mmhhh. Cubit aku."
Aric malah mencium bibir Sashi. "Kenapa malah cium?"
"Cubit sakit, kalau cium enak."
"Semakin seperti mimpi. Memang cium enak apa?"
"Mau tau yang lebih enak lagi?" Mata Aric mengerling menggoda. Sashi tertawa memekik, mengerti maksud godaan Aric. Sashi mendorong tubuh Aric dan berguling.
Duk! Kepalanya terbentur kaki meja.
"Aduhhh." Sashi meringis, melihat wajahnya Aric tertawa kencang. Sashi memukuli Aric.
"Udah tau kamarnya sempit, malah guling-guling." Aric mengusap-ngusap sambil menghembus kepala Sashi.
"Iya kamar kos aku sempit, nggak tau gimana rasanya bergulingan di apartemen yang luas."
Aric menghentikan usapan rambutnya, kurang lebih tiga bulan berpacaran dengan Sashi. Hampir setiap hari Aric berusaha datang bertemu disela-sela kegiatannya, membuat hubungan mereka cepat lengket. Tapi benar, Aric belum pernah mengajak gadis itu ke apartemennya.
"Apartemen yang sekarang sudah dalam proses jual, sekarang kakak numpang tidur di kontrakan temen." Aric berbohong.
Sashi melihatnya, "Kenapa di jual?"
"Sudah bosan." Dia tertawa.
"Ih."
Aric merengkuh tubuh Sashi dalam dekapannya. "Maunya sih tidur di sini."
"Boleh saja, nanti aku numpang tidur di tempat yang lain," sahut Sashi.
Bersama Sashi, Aric merasa kenyamanan yang sangat. Seakan seluruh tubuh Sashi menguarkan efek menenangkan juga menghipnotis membuat Aric bahagia. Sashi adalah obat baginya. Membuat dia ingin jatuh ke dalam jurang cinta yang begitu dalam.
"Oh iya, weekend ini apa ada acara?" Aric bertanya.
"Acara aku apaan sih kak?" Sashi malah tertawa, ih kalau ada Aric nggak bisa ngapa-ngapain. Selalu dipeluk kuat-kuat olehnya, tapi Sashi suka sih. Seolah-olah Aric begitu posesif padanya, tak ingin melepaskan dia sedetik pun.
"Ada undangan party di rumah teman, kamu mau datang?"
"Terserah kakak, memang kakak datang?"
"Mungkin."
"Terus seandainya aku bilang enggak bisa ikut, kakak bakalan pergi apa enggak?"
"Bagaimana ya?"
"Apa pergi sama yang lain?"
Aric terkekeh, nafasnya terasa geli di leher Sashi. "Mungkin pergi sebentar terus pulang, untuk menghargai."
"Ya udah, kalau kakak mau aku datang. Aku temenin," kata Sashi.
Dia juga ingin ikut masuk ke dalam dunia pergaulan Aric, selama ini tidak terlalu banyak dia ketahui. Bagaimana mau tau, kalau Aric yang lebih sering masuk ke dalam aktivitasnya ketimbang dia? "Mau liat kakak ngapain aja di luaran."
Aric tertawa, dia meletakkan dagunya di pundak Sashi. Menghirup wangi dan kehangatan alami gadis itu.
***