Intimacy

1060 Kata
Belakangan sumbu kehidupan Aric berputar di sekitar Sashi, bahkan kos Sashi menjadi tempat paling lama dia menghabiskan waktu dibandingkan apartemennya. Sashi sudah tidak canggung lagi tidur-tiduran di pangkuan bahkan membalas pelukannya, setiap kali bertemu mereka berciuman. Tapi, Sashi takut membalasnya, takut Aric mengatakan dia terlalu bernafsu. Sashi belum terlalu memahami gaya berpacaran yang berlebihan. Sashi memejamkan mata, dia berkata pada Aric kalau dia ingin tidur di pelukannya. Membuat tubuh Aric bergetar. Dia semakin sulit menahan diri. Aric memandangi mata Sashi yang mulai terpejam. "Kamu mau tidur?" Aric bertanya. "Mmh...enggak sih, mau males-malesan aja." Sashi tertawa menyunggingkan senyum di wajahnya. Pipinya menggembung paling Aric sukai, tidak juga, semua yang Sashi lakukan membuatnya suka. Aric diam, matanya memandang ke arah Sashi. "Kenapa kakak liatin gitu?" tanya Sashi dengan bibir dimajukan tingkahnya menggemaskan. Sialnya Aric tidak tahan, di hadapan Sashi, Aric selalu merasakan darahnya meletup. Aric menahan nafas, ketika dia menghembuskannya tanpa sadar bibirnya telah mendarat di bibir Sashi. Kemudian dia mendesah. Dia memeluk tubuh Sashi erat. Hangat dan nyaman, membuat Aric merasakan kedamaian. Aric merengkuh tubuh Sashi dari belakang, tubuh yang baru saja menginjak dewasa. Aric mencium Sashi semakin dalam. "Ah ... kakak." Sashi mendesah manja, tangannya meremas sebelah tangan Aric yang melingkar di pinggangnya. Dia menyukai saat Sashi menyebutnya. Seolah seluruh tubuhnya bergelora. Keintiman bersama seseorang yang dicintai jauh--jauh--lebih indah dan berharga. Entah kenapa Aric baru menyadari hal itu sekarang, yang paling utama adalah perasaan. "Kakak...udah." Sashi mendesah. Untung saja mereka tidak berhadapan, bisa dipastikan wajah Sashi memerah seperti kepiting rebus. "Kenapa nggak suka? Kakak, kekasih Sashi." Aric membelai rambutnya. Sashi merasa sangat malu, karena lama berpelukan dan berciuman. Tetapi tubuhnya dialiri perasaan aneh yang kuat. Dia ingin membalas ciuman, namun, merasa sangat malu. Hanya saja, sekarang Sashi tidak lagi merasa canggung seperti di awal, pastilah karena Aric berusaha keras membuat mereka lebih dekat. Aric membalikkan tubuh Sashi, berpandangan dan bertatapan mesra. Aric menggendong Sashi dan membaringkannya ke kasur, seketika Aric melepas kausnya sendiri. Mengukung tubuh Sashi, menghimpitnya. "Ah...kak." Sashi memalingkan wajah malu, ciuman Aric mendarat di lehernya. Berkali-kali mengisap lekukan itu, nafasnya menghembus pelan. Nafsunya sudah di kepala, tapi dia bertahan. Dia ingin semuanya pelan-pelan, tidak bohong kalau Aric ingin secepatnya memiliki Sashi hanya tahu tidak bisa memaksa. Berhadapan dengan Sashi seperti ini selalu membuatnya terbuai. Sashi mendesah, desahan yang menggoda, nafasnya dan nafas Sashi saling bersahutan. Sashi begitu indah, sampai Aric tak mampu menjelaskan perasaannya. Dia membelas pipi dan rambutnya, seolah dia mampu melakukan itu selamanya. Aric tidak memikirkan apa-apalagi saat berdua bersama Sashi. Senyuman gadis itu membuat permasalahan Aric lenyap seketika. "Kakak..." Sashi memanggilnya. "Ya sayang." "Malu." "Malu kenapa?" "Kakak lihatin aku terus." Aric tertawa. "Nggak apa." Mereka saling bertatapan, saling memandang dengan mata berbinar penuh cinta. Wajah Aric yang biasanya jenaka menggoda dia, sekarang berubah menjadi sangat serius, tampan, rahang Aric berdenyut. "Mmh..." Sashi mendesah lagi, merasa geli saat jari Aric menyentuh kulit sensitifnya. Dia malu sekali tapi menyukai rangsangan itu pada tubuhnya. Apalagi perasaan sukanya terhadap Aric, membuat dia ingin terus berpelukan dan melakukan lebih. Tapi, seharunya itu tidak boleh ... "Geli, Kak." "Cantik." "Mmh..." Sashi menekuk sebelah kakinya. Oh... Bibir Aric turun ke bawah, melirik sedikit wajah Sashi sebelum lidahnya memainkan bermain lagi di dalam mulut Sashi. Ciuman yang dalam, agar Sashi mengingatnya sebagai seorang pencium yang baik. Sashi berusaha mendorong tubuh Aric karena merasa geli. Dia kehabisan nafas. Namun pelan, Sashi membiarkan Aric terus memberinya ciuman bertubi. Sashi memejamkan mata. Aric tersenyum, menelusupkan jarinya menyentuh kulit Sashi. Sashi terpekik kaget, Aric membungkamnya dengan ciuman dalam. Menggigit pelan kedua bagian bibir Sashi, menelusupkan lidahnya ke dalam dan merasakan rasa yang manis. Tubuh Sashi terasa lemas, untuk pertama dia merasa hubungan mereka yang manis berubah ke tahap yang begitu membara. Dengan ragu Sashi membalas ciuman Aric, sementara jantungnya terus berdebar tak karuan. Mereka saling berbalas ciuman. "Sayang." Suara Aric yang berbisik membuat ketegangan syaraf Sashi melemas. Terlalu amatir, ya, Sashi masih sangat amatir dengan percintaan seperti ini. Dulu saja dia pernah pacaran dua kali, hanya sebatas pegangan tangan. Ah...Aric mengajarkannya sesuatu yang berbeda. Tangan Sashi terangkat dan melingkar di leher Aric, membuat ciuman pria itu semakin dalam. Ciumannya turun lagi menjelajahi leher Sashi. Oh Tuhan, apa yang dia lakukan? Aric membatin. Dia memang gila, tak mampu bertahan. Sedikit lagi, pertahanannya akan runtuh. "Kakak, enggak bakalan tinggalin aku?" bisik Sashi. Suara Sashi begitu bergetar lirih, membuat Aric menghentikan ciumannya. Sashi, gadis itu berbeda, dia membuat Aric merasakan jatuh cinta lagi. Aric menciumnya lagi dengan lembut dan mesra. "Tidak." Dia berjanji. Janji itu sekaligus janjinya kepada dirinya sendiri, selamanya akan setia pada Sashi. Sashi bergumam, Aric membaringkan tubuhnya di samping Sashi. Sashi menarik selimut menutupi wajahnya. Aric tertawa. "Ih kakak kenapa ketawa sih?" Aric memiringkan tubuh, menggoda Sashi lagi. Dia menarik selimut menutupi tubuhnya juga. "Kakak mau tidur." "Kalau gitu aku jangan di sini." "Nggak usah." Suara Aric berat, dia melingkarkan tangan di perut Sashi dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher gadis itu. Tak lama yang tertinggal hanyalah keheningan. Sashi berbalik, dia menutupi tubuhnya dengan guling sebagai penghalangnya dengan tubuh Aric. "Nanti kita digrebek," bisik Sashi. "Kakak udah akrab sama Mang Tony," sahut Aric. "Oh, jadi itu ya niat kakak beramah tamah? Biar bebas akses keluar masuk kosan?" Aric tertawa, tangannya membelai pipi Sashi. "Kakak, sangat mencintai kamu." Sashi dengan matanya yang pekat dan bagian putih yang mengelilingi jernih, menatap lekat seluruh lekuk di wajah Aric. "Aku..." Sashi bahkan malu mengatakannya. Dia ingin bilang kalau dia lebih mencintai pria itu. Aric menatap sayu, merangkak naik ke tubuh Sashi. Mereguk kenikmatan dari bibirnya yang bersatu dengan bibir gadis itu. "Kak...apa..." Wajah Sashi memerah. "Apa?" "Ini pertama kalinya untuk aku." "Apanya?" "Ah kakak." Sashi memalingkan wajahnya. Aric mengerti yang Sashi maksudkan, pertama kalinya berciuman dengan seorang pria. Kedua tangan Sashi melingkar di pinggangnya. Menatap matanya lagi. "Mmhh....Ciuman pertama aku sama kakak. Juga seperti ini, pertama kali..." "Ya." Aric menyukai kata-katanya. Sashi memutar-mutar telunjuknya di d**a Aric, tubuh yang terbentuk atletis itu. "Emmh mau tanya sesuatu. Apa boleh?" Sashi berbisik lirih, dia menggigiti bibir bawahnya. "Apa?" "Waktu sama Kak Anya, Apa..." Sashi menatap ragu, Aric mulai membaca apa yang ingin ditanyakan pacarnya itu. "Apa pernah bercinta?" Wajah Sashi tersipu malu, mengucapkannya. Aric diam membisu, kemudian berkata tidak. Wajah Sashi seketika cerah, mengembangkan senyum manis. Senyum Sashi merongrong hati Aric, seketika dosa masa lalu menggerayanginya. Dia tahu apa yang telah disimpulkan Sashi dari senyuman di wajahnya. Dan kesimpulan itu, sepenuhnya salah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN