Aric berbaring di atas tempat tidur, memandangi langit kamarnya. Kulitnya masih merasakan hangat dan lembut kulit Sashi. Pelukan dan kehangatan Sashi tadi malam, membuat Aric merasakan perasaan yang sangat nyaman. Dia merasa gembira bisa merasakan sesuatu seperti ini lagi.
Tapi...dengan Sashi untuk pertama kalinya, sekalipun hanya sebatas sentuhan membuatnya terlena. Tidak dapat dibayangkan bagaimana seandainya dia sungguh bersama dengan Sashi, mungkin dia akan melayang menembus langit.
Ponsel Aric berdering, video call dari kesayangannya. Aric tersenyum saat melihat wajah Sashi.
"Kakak, sudah bangun?"
"Sudah. Baru saja mandi."
"Ih belum pake baju?"
"Lagi mikiran kamu."
"Mikirin apaan?"
"Ehm...."
"..."
"Tadi malam, menyenangkan."
"Ah malu."
Aric melihat Sashi memalingkan wajah dari layar ponsel.
"Kakak tiduran sambil mikirin aku, memang...mikir apaan?"
"Pengen sama kamu terus."
"..."
Sashi menghela nafas.
"Datang lagi aja ke sini." Dia berkata pelan.
Aric berguling di atas tempat tidurnya. "Kamu mau ngapain hari ini, sayang?"
Hari ini adalah hari libur nasional, Aric seharusnya memiliki jadwal mabar bersama teman-temannya.
"Karena kakak nggak datang, aku mau ke salon sama Tita dan Mirna."
"Wow."
"Kalau aku ganti gaya rambutku, gimana?"
"Begitu juga cantik."
"Sekali-sekali. Biar ada suasana baru."
"Boleh saja, nanti hasilnya langsung pap ke kakak."
"Siap bos!"
"Love you."
"Love...love...love..."
Aric tersenyum melihat Sashi memonyongkan bibirnya. "Eh kak, cepetan ih pake baju. Masuk angin baru tau."
"Oke sayang."
Terdengar suara tawa Sashi sebelum sambungan video call itu terputus. Sashi ke salon? Rasanya Aric enggan ikut mabar dan ingin menunggui dia. Astaga, Sashi sungguh sangat merubah kehidupan, kebiasaan dan juga orientasinya.
Aric berpakaian dan bergegas menuju ruangan untuk bermain game. Di apartemen dia memiliki ruangan khusus untuk itu. Sashi...oh...lagi-lagi dia tidak fokus dan memikirkan gadis itu, keterlaluan sekali.
***
Mirna menjemput Sashi di kosnya, di dalam mobil sudah ada Tita.
"Heiii!" Sashi masuk sembari tertawa riang.
"Kita ke salon mana?" Mirna bertanya.
Sashi mengangkat bahunya, kemudian meminta pendapat Tita. Tita menyebutkan salah satu salon dan mereka menuju ke sana.
"Jadi Sashi mau mentraktir kita perawatan dalam rangka apa nih?" Tita mulai menginterogasinya.
"Tidak apa-apa sih."
"Curiga, sekarang Sashi mulai terlihat cantik."
"Cantik?" Mirna bertanya sambil menyetir.
"Tidak lihat perubahannya? Pasti sekarang rajin pake perawatan tubuh dan kulit."
Sashi tertawa, habis mau bagaimana lagi, tiap ke kosnya Aric selalu rajin memeluknya, Sashi tertawa memikirkan istilah itu. Mereka sering berpelukan, berciuman, mana mungkin Sashi membiarkan dirinya kucel dan tidak menarik. Memang memiliki kekasih mempunyai pengaruh cukup besar. Lagipula setiap pergi, Aric selalu memaksanya membeli paket perawatan. Kalau make-up Aric tidak memaksa.
"Yah jalan sama Kak Aric, mungkin berpengaruh." Mirna tertawa.
"Ke salon apa dibayarin sama Kak Aric?" todong Tita.
Mendengar itu lagi-lagi Sashi tertawa, memang benar dia akan memakai uang Aric yang setiap bulan masuk ke rekeningnya. Sashi tidak mau munafik, sekarang dia menerima saja apa yang di berikan Aric padanya. Lagipula dia juga tidak meminta. Aric bilang sejak jalan dengan Sashi dia jauh lebih hemat, biasanya kalau pergi bersama teman-temannya, Aric yang selalu royal membayar.
"Hei, jadi diam." Tita menoleh ke belakang.
"Enggak juga sih. Kak Aric sering bawain makanan, jadi jatah bulanan aku masih ada."
"Oohh.."
"Sash, kalau cowok banyak memberi apalagi berupa materi dan lain-lain, diwaspadai aja." Mirna tertawa.
"Maksudnya?"
"Dia pasti mau sesuatu sebagai imbalan. Ngertikan apa imbalannya?"
"Hush Mirna!" Tita menegur.
"Kak Aric sepertinya enggak begitu sih."
"Halah, laki-laki semua sama aja, apalagi kalau dia sampai transfer uang bulanan."
Deg! Jantung Sashi berdetak. Masa?
"Siap-siap aja ladies. Aku udah pengalaman, mantan-mantan yang dulu begitu semua. Yaa, aku bilang aja sama kalian. Mobil ini juga dari si Yudi."
"Mirna, kamu jangan ajarin yang nggak bener sama Sashi." Tita menggelengkan kepala.
"Apaan? Udah sama-sama gede lho. Lagian kamu sama Kak Aric pacaran udah tahap apa?"
"Eh?"
"Kaget banget ditanyain begitu," Mirna masih terkekeh. Memang Mirna terlihat modis dan berpenampilan mewah. Padahal dia anak orang berada, tapi dia selalu diberi jatah uang oleh kekasihnya. Mirna bercerita saat mereka menginap di kos Tita, kalau dia kerap melakukan bersama pacarnya. Sashi dan Tita memaklumi saja, mereka tidak men-judge-nya.
"Cari bahasan lain deh." Sashi mengalihkan pembicaraan.
"Huu malu-malu." Mirna dan Tita tertawa.
Sashi memandang keluar jendela, memikirkan ucapan Mirna. Seandainya...seandainya Aric meminta dia bagaimana? Ah tidak, paling mereka hanya akan bemesraan saja tidak sampai melakukan hubungan terlarang. Lagipula kalau dia menolak, Aric tidak mungkin memaksa. Aric orang yang lembut dan penyayang, tidak mungkin marah hanya karena sesuatu semacam itu. Sashi meyakinkan dirinya, Aric akan menunggu Sashi. Apa benar?
Eh! Sashi mendapati dia memiliki pemikiran itu. Jantungnya berdegup sangat cepat. Ke--kenapa dia bisa memikirkan itu?!
***
Sashi mematut-matut dirinya di cermin, rambutnya tampak indah dan berbeda, ditata dengan baik, tidak berantakan seperti biasa. Rambut Sashi sedikit sulit diatur, tetapi kata orang-orang rambutnya membuat dia terlihat eksotis.
Terdengar suara kunci dimasukkan di pintu.
"Kak Aric," Sashi buru-buru merapikan bajunya. Dia datang?
Pria itu melebarkan matanya melihat Sashi.
"Kakak, jangan lihat begitu." Wajah Sashi merona malu.
"Siapa laki-laki paling beruntung di dunia ini?" Aric bertanya sambil sebelah tangannya mengusap pipi Sashi.
"Aih...pastilah mau menggombal."
"Cantik."
Senyum Sashi tersungging.
"Katanya nggak bisa datang hari ini?"
"Mau bagaimana lagi, kangen." Sashi memperhatikan rambut Aric tampak basah. Membuat aura sexy pria itu bertambah-tambah, Sashi menggigit bibirnya. Seperti biasa mereka duduk di ranjang mungil Sashi.
"Wah tadinya mau beli makanan, tapi lupa," keluh Aric.
"Banyak cemilan kok. Kak..." Sashi memanggilnya ragu."
"Ya."
Sashi menggeleng, matanya tertuju pada wajah Aric. Sangat tampan, akhir-akhir ini, Sashi jadi ingin selalu bemesraan. Seketika dia memaki dirinya sendiri, astaga otaknya! Ini semua karena perkataan Mirna tadi. Tapi, aura Aric memang sangat menggoda. Apalagi Sashi sangat menyayangi dia.
"Liat apa sih?" Aric menggodanya. Sashi cepat-cepat memalingkan wajah.
"Ah ya, kakak ada voucher nginap di hotel dari sponsor. Kamu..." Aric menghentikan sebentar ucapannya. "Maksudnya, kita mau pakai nggak?"
"H-hotel?!" Sashi terlonjak bangun, matanya bulat dan mulutnya menganga. Melihat reaksi Sashi, Aric tertawa terpingkal-pingkal.
"Sayang, kamu mikirin apa?"
Sashi yang merasakan detak jantungnya meningkat cepat kembali tersadar. Wajahnya seperti kepiting rebus.
"Kak, itu...aku..."
"Kita menginap bersama, mengobrol." Aric menarik tangan Sashi, gadis itu terjerembab ke pelukannya.
"Bermesraan seperti ini, dua hari satu malam berdua saja. Tertarik?"
Bukankah itu berbahaya? Kalau seandainya terjadi apa yang akan dia lakukan? Mereka dua orang yang sedang jatuh cinta, berada di kamar hotel berduaan. Sashi menatap wajah Aric. Tangannya memegang wajah Aric, terasa sedikit kasar karena cukuran bulu-bulu di area dagunya.
"A--aku pikirin dulu kak."
"Oke, kalau nggak mau nggak apa. Nanti vouchernya kakak kasih temen."
Sashi mengangguk.
***