Aric terbangun, perasaan hangat menyelimuti. Oh Tuhan. Ada Sashi di sebelahnya, tertidur pulas. Pantas saja dia tidur sangat lelap. Aric memandangi wajahnya, sepertinya tambah gendut. Pipinya makin menggemaskan. Aric menatapnya lekat, dirapikannya rambut Sashi yang menutupi wajahnya. "Cantiknya." Aric mendesah. "Makasih." Sashi terkikik geli. "Oohh...jadi udah bangun." Mata Sashi terbuka, dia memekik. "Ih! Kenapa kakak nggak pake baju?" Sashi menutupi wajahnya dengan tangan. "Sengaja, biar kamu tergoda." "Nyebelin!" rutuk Sashi. Dia melanjutkan, "Kak, muka aku aneh?" Aric melihatnya dengan bingung, "Nggak. Kenapa?" "Baru bangun tidur, enggak nyeremin kan, kak?" Aric tertawa terpingkal, "Sejak kapan kamu peduli penampilan kamu?" "Sejak..." Sashi tidak menjawab, sejak menjadi pa

