Tiga hari berlalu, Sashi masih belum datang. Aric tertawa miris, perih, dia sudah mem-packing barang-barangnya. Dia memang berencana pulang, tapi bukan untuk seterusnya. Cara ini masih belum berhasil, apa Sashi sungguh melupakannya? Dadaa Aric seperti ditikam. Dia menelepon Redho, menurutnya Sashi masih belum kembali. Aric membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Dia melihat-lihat foto Sashi, tidak pernah bosan. Aric melompat bangun, dia pergi menuju kamar yang dia siapkan untuk Sashi. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut bewarna pastel. Seandainya ada Sashi, waktu pasti terasa cepat berlalu. Dia merindukan suaranya, tawanya, bibirnya, sentuhannya, kehangatannya. Semuanya. "Kakak." Bahkan suaranya yang memanggil Aric terus terngiang-ngiang di telinganya. "Kak." Aric melompat, dia

