Setelah pembicaraan kemarin tidak mendapat titik temu bahkan berakhir dengan tangisan Sashi yang tersedu, membuatnya sulit bernafas semalaman. Dia segera ke kampus Sashi, Aric mengabaikan kehidupannya demi Sashi. Tapi sedikitpun perempuan itu tidak paham. "Bang." Redho melambai saat melihat Aric duduk di kantin. "Dho," "Mau ketemu Sashi, Ya?" Aric mengangguk, Redho menggeleng, sepertinya mereka belum berbaikan. Untung saja, Redho suka melibatkan diri dalam urusan mereka. "Aku telepon si Tita dulu, biar ajak Sashi ke sini." Redho bicara sejenak, kemudian dia terdiam. Redho menutup teleponnya. "Sashi nggak ngomong apa-apa ke abang?" Dia melihat lurus ke arah Aric. "Apa?" "Dia balik ke Semarang." Aric terhenyak, jadi dia pulang diam-diam. Sialan jantung Aric serasa menciut. Redh

