“Apa maksudmu, Dam?” Siera meminta penjelasan pada Adam.
“Aku masih menyukaimu, Siera,” ungkap Adam. “Aku tidak bisa melupakanmu sejak kita putus.”
“Apa?” Siera baru tahu. Apa benar yang dikatakan Adam kepadanya?
Siera diam saja. Dia tidak berani berkata-kata di depan Adam. Dia merasa tidak pantas menerima perasaan Adam lagi. Keadaannya telah berubah. Dia bukan gadis SMA seperti dulu lagi. Apalagi kini dia sudah berstatus janda beranak dua. Apa Adam tidak keberatan dengan statusnya itu? Siera ketakutan dengan hal itu.
“Apa kamu masih menyukaiku, Siera?” tanya Adam. Seraya mengamati wajah cantik Siera yang mulai kelihatan canggung saat dihadapkan dengan pertanyaan sakral itu.
“Entahlah,” sahut Siera sembari memalingkan wajah.
“Kamu tidak menyukaiku lagi, Siera? Kamu masih sakit hati padaku. Iya, kan?” keluh Adam. Dia mengingat kenangan bersama Siera di masa lalu.
Di malam pesta kelulusan sekolah, Siera tak sengaja menemukan Adam tengah bersama gadis lain di dalam kamarnya. Entah apa yang terjadi di sana. Pikiran Siera kacau sekali saat melihat kejadian itu secara langsung. Dia jadi menyangka yang tidak-tidak tentang hubungan Adam dengan gadis itu.
Sejak itulah, Siera memutuskan hubungan dengan Adam. Sampai akhirnya, Adam harus menahan kecewa karena kandasnya hubungan asmara mereka. Selain itu, Adam juga harus pergi melanjutkan studi kedokterannya di New York dalam waktu yang sangat lama. Tidak ada harapan bagi keduanya bisa kembali lagi merajut cinta. Siera pun memilih menikah dengan ayah si kembar usai lulus kuliah.
“Aku minta maaf, Adam,” sesal Siera. “Aku tidak bisa menerimamu kembali.”
Adam tersenyum tipis mendengar jawaban Siera. Sebelumnya, dia juga sudah ragu-ragu ingin menanyakan kembali cintanya pada Siera.
“Boleh kutahu alasanmu, Siera? Kenapa kamu menolak cintaku?” Adam belum menyerah. Sebelum dia mundur, dia harus tahu alasan Siera tidak mau menerima cintanya lagi. Dan alasan itu harus masuk akal.
“Itu karena statusku. Sekarang aku memang single. Tetapi, statusku single mom. Apa itu tidak masalah denganmu?” ujar Siera.
Adam tersenyum lagi mendengar jawaban Siera. Memangnya kenapa dengan status itu? Persetan dengan status ‘single’ menurut Adam.
“Aku tidak peduli. Aku tahu kamu punya anak kembar. Itu tidak masalah untukku. Aku sangat suka sekali dengan anak-anak,” kata Adam menghiburnya.
“Benarkah itu tidak masalah?” Siera lega mendengarnya. Lantas, apa jawaban Siera akan berubah?
“Aku akan menerimamu apa adanya. Dengan segala keadaan yang kini kamu alami, Siera. Asalkan bisa bersamamu, aku tidak pedulikan hal lainnya,” Adam meyakinkan Siera lagi. Dia berharap Siera bisa menerima kembali perasaannya yang dulu.
“Aku belum bisa, Dam. Luka di hatiku belum sembuh benar. Aku masih belum move on atas kepergian suamiku yang terlalu mendadak,” Siera beralasan.
“Tidak masalah. aku bisa menunggumu, Siera. Bahkan, jika kamu izinkan. Biar aku saja yang menyembuhkan luka hatimu. Aku janji. Aku akan membahagiakanmu juga anak-anakmu. Percayalah, Sayang,” bujuk Adam. Seraya meraih tangan Siera dan menggenggamnya sangat erat. Ketulusan hati Adam membuat perasaan Siera goyah.
“Aku butuh waktu untuk memikirkannya. Aku juga harus bertanya pada anak-anakku terlebih dahulu. Agar mereka tidak kaget.”
“Siera, dengarkan aku! Aku bersedia menunggumu. Asalkan akhirnya kamu bisa denganku. Jadi, pikirkan baik-baik rencana hidupku ke depan! Aku punya masa depan yang cerah untukmu. Dan aku tidak akan menyia-nyiakanmu lagi. Mengerti?” Adam menasihatinya. Sekaligus memengaruhinya.
Masa depan yang cerah? Ironi sekali kedengarannya. Apa mentang-mentang Adam seorang dokter? Lantas dia bisa seenaknya sesumbar seperti itu. Jadi, apa karena dulu Siera lebih memilih menikah dengan ayah si kembar yang hanya pegawai biasa di sebuah perusahaan dibandingkan dirinya?
Siera akan memikirkannya lagi. Tentang semua ucapan Adam. Dia juga akan lebih selektif lagi dalam memilih seorang pria yang akan menjadi pendamping hidupnya suatu hari nanti. Untuk saat ini, dia belum bisa memilih.
Semua tergantung dengan keputusan si kembar. Merekalah yang akan memilih pria mana yang nyaman dengan mereka. Siera akan menuruti kata hati mereka. Dia tidak akan egois dengan pilihannya sendiri.
***
“Paman Edgar! Lihat ini! Aku dapat ikan,” Austin memperlihatkannya pada Edgar.
“Wah, good job Austin! Masukan ke dalam ember. Nanti kita akan memanggangnya. Pasti enak sekali ikan hasil tangkapanmu,” puji Edgar.
“Paman, aku juga dapat ikan!” Audrey tidak mau kalah. Dia menunjukkannya pada Edgar. Ikan tangkapan Audrey lebih besar dari Austin. Maka, Audrey berhak mendapatkan pelukan dari Edgar, katanya.
“Kalau begitu, aku akan menangkap ikan lebih banyak lagi,” tekad Austin. Dia akan mengalahkan kakaknya, Audrey. Dia merasa lebih jago menangkap ikan.
Audrey dan Austin pergi meninggalkan Edgar. Mereka menangkap ikan lagi di sungai bersama Mike. Canda tawa kedua anak kembar itu membuat Edgar merasa terharu. Apa seperti ini rasanya memiliki keluarga?
Anak-anaklah yang mewarnai hari-harinya. Sehingga Edgar tak terasa bosan lagi melewati hari, pikirnya. Seraya memerhatikan keasikan si kembar berburu ikan di sungai.
“Anak-anak, ayo kita makan ikan dulu!” seru Edgar usai membakar ikan. Dia menyiapkan makanannya di dekat sungai.
Si kembar pasti lapar usai berenang dan menangkap ikan di sungai. Jadi, dia menghidangkan semua makanan untuk kedua anak yang sedang bersemangat itu. Audrey dan Austin segera menghampirinya. Mereka lahap sekali menyantap makanan yang dihidangkan oleh Edgar.
“Makanan Paman enak sekali,” puji Audrey.
“Benarkah?” Edgar merasa tersanjung mendengar pujian dari Audrey. Dia menoleh ke arah Austin yang sedari tadi tertunduk diam sambil menyantap makanannya.
“Austin, gimana menurutmu? Enak tidak ikannya?” tanya Edgar mengalihkan perhatiannya pada Austin.
“Enak,” jawab Austin singkat. “Paman, maukah Paman jadi ayahku?” tanyanya tiba-tiba.
Edgar tersentak dengan pertanyaan yang dilontarkan Austin. Dia menoleh ke arah Mike. Keduanya kini saling beradu pandang, tidak mengerti maksud ucapan Austin. Anak sekecil itu berani meminta Edgar menjadi ayahnya.
“Ah, Austin…” Edgar gelagapan menjawab pertanyaannya.
“Austin! Kamu bicara apa sih?” Audrey langsung menutup mulut adiknya yang berbicara sembarangan di depan Edgar dan Mike.
Austin membuka tangan Audrey. Dia harus mengatakan semua isi hatinya kepada Edgar. “Bagiku, Paman sudah seperti ayahku sendiri,” ungkapnya.
Edgar sangat mengerti apa yang kini tengah dirasakan oleh Austin. Dia kehilangan figur sosok ayah di hatinya. Tetapi, untuk menjadi ayah si kembar sangatlah tidak mudah bagi Edgar. Mengingat dia hanya sementara tinggal bersama si kembar di rumah ibunya.
“Anak kecil ini hanya asal bicara. Benar, kan, Bos?” Mike menengahi.
“Austin, apa kamu tahu artinya jika Paman harus menjadi ayahmu?” tanya Edgar. Pertanyaan sulit itu pasti tidak bisa dijawab oleh Austin.
Austin mengangguk mantap. “Aku tahu. Paman harus menikahi ibuku. Setelah Paman jadi ayahku, aku harus melupakan ayah kandung. Benar begitu, kan, Paman?” tanya Austin.
“Aku tidak setuju. Ayah tetap ayahku. Dan Paman Edgar tetaplah Paman kita, Austin,” bantah Audrey.
Kali ini, tumben sekali pendapat mereka tidak sepaham. Alias bertolak belakang. Biasanya keduanya selalu terlihat kompak. Nyatanya, Audrey punya pendapat sendiri tentang kriteria ayahnya.
“Sudahlah. Cepat habiskan makan kalian! Sudah hampir sore, kita akan pulang sebentar lagi,” kata Edgar mengalihkan pembicaraan.
Di rumah, Siera nampak gelisah karena si kembar belum juga pulang ke rumah. Ponsel Edgar juga tidak aktif. Kenapa Edgar tidak memberi kabar? Ke mana perginya mereka? Siera berjalan, bolak-balik di depan pintu rumahnya. Dia sudah lama menunggu kepulangan anak-anaknya dengan tidak sabaran. Hari sudah mulai petang dan mereka belum juga pulang. Siera khawatir sekali.
“Ke mana mereka? Jam segini belum pulang,” Siera cemas.
***