Cemas

1129 Kata
“Sebenarnya ke mana pergi pergi? Kenapa Edgar sulit sekali dihubungi?” Siera gelisah. Dia terus memerhatikan sepanjang jalan di dekat rumahnya. Berharap dia bisa melihat kedua putra-putrinya pulang ke rumah. Siera cemas sekali. Sedari tadi, dia mondar-mandir tidak jelas di depan rumahnya. Setiap lima menit sekali dia melirik layar ponselnya. Belum ada kabar dari Edgar. Bagaimana ini? Siera menggigit bibir bawah dan matanya kini berkaca-kaca.  “Seharusnya tadi aku tidak pergi. Ke mana Edgar membawa kedua anakku?” Siera menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa bersalah karena sudah meninggalkan si kembar di akhir pekan bersama pengasuhnya.  Petang pun berganti malam. Siera akan menunggu mereka di rumah saja. Dia bergegas masuk ke rumah. Lalu, pergi mengambil air minum sekadar untuk menenangkan dirinya yang masih belum bisa bernapas lega.  “Audrey… Austin… kalian di mana, Nak?” Pikiran Siera sempat melambung dan membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kepada mereka.  “Tidak! Jangan berprasangka buruk dulu. Aku harus tetap tenang dan positif thinking dulu,” kata Siera menyabarkan diri.  BRUUKKK!  Terdengar suara seseorang menutup pintu mobil. Siera segera berlari menuju ruang tamu. Edgar menurunkan si kembar dari mobil. Mereka akan berpamitan pada Mike.  “Daaahhh, Paman!” Si kembar kompak melambaikan tangan ke arah mobil Mike yang pergi menjauh.  Audrey dan Austin terlihat senang sekali sehabis jalan-jalan bersama Edgar. Setibanya di depan rumah, tiba-tiba Siera memanggil kedua anaknya penuh haru.  “Audrey! Austin! Kalian dari mana saja?” panggil Siera.  “IBU!” Si kembar langsung memburu ibunya. Lalu, mereka memeluknya erat sambil mendaratkan kecupan manis di pipi Siera. Masing-masing satu kecupan.  “Kalian kenapa pulang terlambat?” Siera khawatir.  “Maaf, Bu. Tadi di perjalanan pulang jalanannya macet,” jelas Audrey. Begitu rupanya. Siera mengerti.  Sekarang, ayo masuk ke rumah dulu. Siera sudah memasak makan malam. Sayang sekali, si kembar malah menolaknya. Dengan alasan mereka sudah mengantuk dan ingin segera pergi tidur. Siera terheran-heran. Memangnya mereka seharian ini ke mana? Siera menoleh ke arah Edgar.  “Ya sudah. Kalian tidur sana! Ibu mau bicara dulu dengan Paman Edgar,” kata Siera. Si kembar langsung berlarian menuju kamar tidurnya.  Kini, Siera dan Edgar sudah berada di ruang tamu. Dia menunggu penjelasan dari Edgar. Mulai dari kegiatan apa yang dilakukan si kembar, kenapa mereka menolak makan malam, dan terakhir kenapa ponsel Edgar tidak bisa dihubungi seharian ini. Hal itu membuat Siera begitu mencemaskan keberadaan anak-anaknya.  Baik. Edgar akan menjawab pertanyaan Siera satu per satu. Agar rasa penasarannya hilang. Setelah Siera pergi berkencan dengan seorang pria, ups! Siera menyipitkan mata di depan Edgar. Bagian itu tidak perlu disebutkan. Karena Siera tidak mau membahasnya. Oke, skip saja kalau begitu.  Edgar mengajak anak-anak pergi memancing di sungai. Mereka terlihat senang sekali diajak piknik oleh Edgar dan temannya yang memiliki mobil. Lalu, kenapa si kembar menolak makan malam? Karena mereka sudah makan banyak saat di pemancingan tadi. Keduanya makan sangat lahap. Tidak heran, kan mereka kekenyangan sampai rumah dan mulai mengantuk.  “Apa? Mereka mau makan ikan bakar?” sela Siera memotong pembicaraan. Seolah-olah dia tidak memercayai apa yang baru saja dibicarakan Edgar.  Edgar mengangguk mantap. “Mereka menghabiskan ikan bakar hasil tangkapannya. Memangnya kenapa? Apa sebelumnya mereka tidak pernah makan ikan bakar?”  “Mereka selalu menolak makan ikan. Tumben sekali, mereka mau makan ikan. Makanya, aku merasa heran. Mereka menghabiskan makanannya.”  “Bagus dong! Dengan begitu mereka bisa menghargai makanan yang susah payah mereka dapatkan.” Edgar tersenyum menceritakannya.  “Ya, kamu benar. Akhirnya mereka bisa makan ikan,” Siera pun merasa senang. Dengan sendirinya, si kembar bisa makan protein tinggi itu tanpa disuruh.  “Seharusnya tadi kamu melihatnya. Lucu sekali wajah mereka saat berhasil mendapatkan ikan di sungai,” cerita Edgar. Wajahnya berseri-seri ketika dia bercerita panjang lebar tentang kegiatan memancing mereka di sungai seharian ini.  Siera turut berbahagia mendengarnya. Dia menikmati gaya bercerita Edgar yang seperti pendongeng profesional. Lengkap dengan mimik wajahnya. Siera amat berterima kasih kepada Edgar, yang sudah membawa kedua anaknya pergi berlibur di akhir pekan. Meski hanya piknik sederhana. Memancing di sungai. Tetapi, kegiatan itu sangat berkesan di hati kedua anaknya.  “Lalu, jawaban dari pertanyaan ketiganya?” desak Siera.  “Ah, itu… maaf. Aku meninggalkan ponselku di mobil temanku. Karena kami fokus memancing dan berenang di sungai,” Edgar beralasan. Oh, begitu rupanya. Pantas saja Siera kesulitan menghubungi Edgar dari tadi.  Edgar segera mengalihkan pembicaraan. Agar Siera tak lagi banyak bertanya tentangnya. Bisa bahaya jika Siera bertanya tentang teman Edgar yang ikut bersamanya pergi memancing. Siera tidak boleh tahu tentang Mike. Bisa kacau urusannya nanti, pikirnya.  “Kamu tahu tidak, ternyata Austin perenang yang handal lho,” Edgar memberitahu. “Suatu hari nanti dia bisa jadi atlet olimpiade yang go internasional,” kesimpulannya.  Kalau itu sih, Siera sudah tahu sejak lama. Bakat Austin di bidang olah raga begitu menonjol. Anaknya sangat aktif. Tidak hanya berenang dan bermain bola saja, tetapi lari sprint pun Austin sangat berbakat, kata Edgar memberitahu Siera. Sudah lama dia mengamati perkembangan bocak laki-laki, putra Siera itu. Ada bakat istimewa terpendam di dalam dirinya.  “Jadi, kalian seharian ini hanya bermain di sungai? Apa di antara mereka ada yang terluka? Seperti jatuh dan mengenai bebatuan atau tenggelam?” tanya Siera lebih lanjut. Dia jadi ingin serba tahu.  “Apa? Kenapa kamu diam saja, Edgar?” Siera tidak sabaran. Dia merasa curiga, takut jika Edgar menyembunyikan sesuatu darinya.  “Tidak ada. Tenang saja. Aku sudah memastikan bahwa keduanya baik-baik saja. Tanpa kekurangan satu apa pun. Yang ada, mereka terlihat Bahagia sekali sejak tadi siang. Mungkin, besok di sekolah mereka akan bercerita pada teman-teman dan Bu Gurunya,” kata Edgar menenangkan Siera.  “Mereka sebahagia itu. Aku melihatnya tadi sejak kalian pulang.” Siera sepakat dengan Edgar. Memang benar, Audrey dan Austin girang sekali saat pulang ke rumah. Siera mengakuinya.  Sudah lama sekali, Siera tidak melihat kedua anaknya tertawa riang seperti tadi. Sejak ayahnya meninggal dunia, si kembar nyaris tak bisa tersenyum dan tertawa lepas. Bahkan, mereka tidak bisa menghabiskan waktu berlibur di akhir pekan dengan orang tuanya. Termasuk Siera. Buktinya, tadi dia harus pergi meninggalkan si kembar karena ada urusan pribadi dengan Adam.  “Siera, kamu harus lebih sering lagi mengajak anak-anakmu berakhir pekan bersama. Kasihan sekali mereka. Waktu habis terbuang setelah bekerja. Sebaiknya kamu menyisihkan waktumu untuk mereka. Mengerti?” Edgar menasihati. Siera juga ingin begitu. Tetapi, pekerjaannya di perusahaan itu banyak sekali menyita waktunya. Apa jam kerjanya harus dikurangi saja?  “Itu semua karena CEO di perusahaanku memadatkan jam kerjaku. Dia tidak tahu diri dan tidak melihat kesejahteraan keluarga pegawai. Hah, orang kejam dan diktator seperti itu apa pantas menjadi CEO? Sampai sekarang saja tampangnya sok misterius gitu,” ketus Siera. Dia terus mengoceh dan menjelek-jelekkan CEO perusahaannya di depan Edgar.  Astaga! Apa barusan itu Siera sedang mengadu pada Edgar? Bagaimana reaksinya jika dia tahu bahwa Edgar adalah CEO di perusahaan tempatnya bekerja? ***        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN