Tukang Ngadu

1131 Kata
“CEO di perusahaanmu kayak gitu?” Edgar tersenyum sinis mendengar Siera menjelek-jelekkan dirinya tepat di depannya. “Iya. CEO kami itu… dia sering bertingkah sok keren, sok misterius, sok-sok-an deh gayanya. Heran deh,” gerutu Siera.  Bukan Siera saja yang merasa heran, Edgar juga. “Memangnya kamu sudah pernah bertemu dengannya? Kok bisa ngatain seperti itu.”  “Aku tahu dari rekan-rekan kerjaku di kantor. Mereka banyak kok yang membicarakan di belakangnya. Dianya saja yang bodoh. Pura-pura menutup mata dan telinga. Berlagak sok tidak peduli. Hah, apanya yang pemimpin? Dia hanya pecundang yang tidak bertanggung jawab.” Siera memuaskan dirinya mengatakan semua unek-unek terpendamnya. “Katanya nih, dia juga sering melarikan diri tidak mau tahu urusan dan permasalahan perusahaan. Bayangkan saja, di saat perusahaan sedang kalang kabut menghadapi penurunan harga saham, dia malah pergi melakukan aktifitas malam yang tidak penting. Pemimpin macam apa kayak begitu?” Siera habis-habisan memaki-maki Edgar.  Astaga! Wanita ini rupanya tukang ngadu. Siapa yang berani mempekerjakan dia di perusahaannya? Edgar pikir, Siera berbeda. Kalau begitu sih sama saja. Dia tak jauh beda dengan ibu-ibu penggosip di komplek perumahaannya.  “Edgar maaf ya, kamu jadi mendengar ceritaku yang tidak penting,” sesal Siera. “Seharusnya kamu tidak mendengarkan ocehan dan keluhanku soal atasanku di perusahaan tempatku bekerja.”  “Tidak apa-apa. Lanjutkan saja! Jika itu bisa meluapkan kekesalanmu,” kata Edgar mempersilakan. Dia jadi ingin tahu persepsi Siera tentang dirinya di kantor.  “Ah, sudahlah! Aku malas membahas tentang pemimpin tidak berguna itu.”  “Apa? Tidak berguna katamu?” Edgar merasa tersinggung dengan kata-kata terakhir yang dilontarkan Siera.  “Kenapa kamu sewot begitu di depanku?” Siera membelalak. “Kamu marah padaku, Edgar? Aku kan tidak membicarakanmu. Aku sedang bicara tentang atasanku.”  “Tidak. Aku tidak marah. Hanya saja aku…” Edgar terdiam beberapa saat. “Aku tidak suka kamu membicarakan orang lain.”  Edgar membalikkan tubuhnya. Dia sedang berusaha ngeles di depan Siera. Tetap saja, Siera merasa heran. Padahal, dia tidak sedang membicarakan Edgar. Apa Edgar punya perasaan sesensitif itu?  “Sudahlah. Ganti topik pembahasan yang lain saja. Asalkan jangan membicarakan bosmu lagi,” Edgar mengalihkan.  “Maaf, kalau kamu tidak suka. Aku hanya ingin berbagi cerita denganmu. Tidak lebih kok,” sesal Siera.  “Hmm,” gumam Edgar. Siera tahu, Edgar pasti sangat kesal kepadanya karena membicarakan orang lain. Seperti biang gosip saja.  “Aku mau ke kamarku saja,” putus Edgar.  “Tunggu Edgar!” cegah Siera. “Kita makan malam dulu, yuk!” ajaknya.  “Tidak usah. Kamu saja yang makan malam. Aku masih kenyang tadi sudah makan sama anak-anak,” tolak Edgar. Dia buru-buru pergi meninggalkan Siera.  “Mereka sudah makan malam. Ya sudah, aku akan menghabiskan makan malamnya sendiri saja kalau begitu.” Siera masih berdiri mematung ketika Edgar pergi meninggalkan rumah menuju kamar kontrakannya.  BRUUKKK!  Edgar membanting pintu kamarnya. Dia agak kesal dengan sikap Siera malam ini. Baru kali ini dia mendengar ada pegawainya yang memaki-maki dirinya di depan hidungnya sendiri. Tidak tahu adab. Tidak punya etika dan sopan santun. Aish, menyebalkan sekali! Edgar menggerutu dan ingin sekali dia memukul sesuatu. Sebagai pelampiasan atas amarahnya yang tiba-tiba membludak.  “Enak saja dia bilang begitu. Tahu apa dia tentangku di perusahaanku sendiri? Bahkan, dia pegawai baru di sana.” Edgar memaki sambil berkacak pinggang.  “Wah, dia pandai sekali merusak moodku.” Edgar mengibas-ngibaskan tangan di sekitar lehernya. Gerah sekali. Dia harus mandi sebelum tidur. ***  Tok-tok-tok!  Pagi tiba. Sayup-sayup terdengar suara seseorang mengetuk-ngetuk pintu kamar Edgar beberapa kali. Memangnya ini sudah pagi? Jam berapa kira-kira? Edgar meraba-raba ponselnya. Dia harus melihat jam digital di layar ponselnya.  Astaga!  Edgar terlonjak kaget. Dia segera bangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Tepat pukul 7. Sudah hampir kesiangan. Si kembar kan harus ke sekolah. Buru-buru, Edgar membuka pintu kamarnya dan mengecek persiapan si kembar yang akan pergi ke sekolah.  Sesampainya di rumah, Edgar melihat si kembar sudah sarapan dan sudah siap berangkat ke sekolah. Baguslah! Edgar pikir Audrey dan Austin masih tidur di kamarnya. Apa Siera yang telah menyiapkannya tadi pagi? Lantas, ke mana dia? Apa dia sudah pergi ke kantor sejak tadi?  “Mana ibu kalian?” tanya Edgar pada si kembar yang sedang makan roti sandwich di meja makan.  “Ibu sudah pergi dari tadi, Paman! Sepertinya Paman bangun kesiangan, ya?” sahut Audrey.  “Paman belum mandi. Pantas saja bau,” ejek Austin sambil pura-pura menutup hidungnya.  “Maaf, ya! Paman baru bangun jadi tidak sempat menyiapkan kalian sekolah,” sesal Edgar. Dia meminta maaf di hadapan Audrey dan Austin yang telah selesai sarapan.  “Tidak apa-apa, Paman. Mungkin Paman lelah,” ujar Audrey.  “Hari ini kalian naik bus sekolah dulu, ya! Paman belum mandi jadi tidak bisa antar kalian ke sekolah. Nanti pulangnya, Paman yang jemput. Oke?” kata Edgar bernegosiasi dengan si kembar.  Audrey dan Austin saling beradu pandang satu sama lain. Kemudian, keduanya kompak mengangguk.  “Baiklah. Kami akan berangkat sekolah dengan bus. Tapi, Paman harus janji sama kami. Pulangnya kita beli es krim. Setuju?” Audrey menawarkan. Dia mengulurkan tangan.  Edgar tampak berpikir dahulu. Es krim ya? Oke, setuju katanya. Edgar menjabat uluran tangan Audrey. Sebagai tanda telah bersepakat dengan kedua anak tersebut.  TID-TID-TIIIDDDD!  Sepertinya itu suara bus sekolah sudah datang menjemput si kembar. Edgar membantu membawakan tas-tas kedua anak kembar itu. Kemudian, dia mengantar Audrey dan Austin menuju bus sekolah.    Audrey melambaikan tangan ke arah Edgar. Disusul oleh Austin. Mereka berpisah setelah bus sekolah melaju cepat meninggalkan Edgar yang masih berdiri sambil melempar senyum dan dadah-dadah pada si kembar.  Edgar tidak sadar jika dirinya sudah menjadi sorotan ibu-ibu komplek. Mereka terlihat bisik-bisik dan menertawakan Edgar. Memangnya ada apa? Apa ada yang salah dengan diri Edgar pagi ini? “Edgar! Kamu baru bangun tidur, ya?” tanya si ibu gemuk, tetangga sebelahnya.  “Ah, iya, Bu.” Edgar garuk-garuk kepala saking malu di depan ibu-ibu.  Edgar tersenyum kecut ke arah si ibu gemuk itu. Ah, iya. Kok bisa ketahuan ya? Kelihatan sekali jika Edgar yang baru bangun tidur itu. Dia masih mengenakan celana piyama kotak-kotak, sendal jepit, dan kaos oblong lusuh. Serta rambutnya agak acak-acakan karena belum tertata rapi.  Penampilan perdana Edgar sehabis bangun tidur. Langsung disambut sorak sorai ibu-ibu komplek. Edgar malu sekali dengan penampilannya itu. Sialan! Pencitraan di depan ibu-ibu pun jadi rusak karena hal sepele seperti itu. Tetapi, muka masih terlihat tampan, bukan? Itu yang lebih penting menurutnya.  “Kelihatan ya wajah aslinya Edgar sehabis bangun tidur,” si ibu kurus menimpali.  “Apa?” Edgar agak terkejut mendengarnya. Kelihatan wajah aslinya? Apa pagi ini dia terlihat jelek? Atau ada iler di sekitar sudut bibirnya?  Astaga! Ini sangat memalukan sekali, pikir Edgar. Dia buru-buru masuk ke dalam kamar kontrakannya. Mengurung diri sambil membentur-benturkan dahinya di balik pintu kamarnya.  “Menyebalkan! Imejku turun bebas,” ujar Edgar. Dia menyalahkan dirinya sendiri. ***               
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN