Panggilan Darurat

1140 Kata
“Panggil Freddy sekarang juga!” perintah Tuan Frans langsung pada Mike. “Ba-baik, Tuan!” Mike meninggalkan ruang kerja Tuan Frans. Kemudian, dia bergegas menghubungi Edgar via telepon. Beberapa menit kemudian, Edgar yang langsung diberitahu Mike untuk segera ke kantor cukup terkejut mendengarnya. Kira-kira ada apa ayahnya menyuruh datang ke kantor? Memangnya ada hal serius yang harus Edgar tangani di sana? “Bos, pokoknya Anda disuruh ke kantor sekarang juga. Dalam waktu satu jam,” kata Mike mengingatkan. “Apa satu jam? Mana bisa, Mike? Aku harus menjemput si kembar ke sekolah. Lebihkan sedikit jadi dua jam,” tawar Edgar. “Tidak bisa, Bos! Nanti Tuan Besar marah pada Anda,” Mike ngotot. Edgar sedang berpikir bagaimana caranya dia bisa membagi waktunya. Kenapa harus bentrok segala dengan jadwal penjemputan si kembar? Selain itu, jika Edgar ke sana sekarang, dia akan bertemu lagi dengan Siera. “Astaga! Apa yang harus kulakukan sekarang?” Edgar bingung. Edgar agak gelisah memikirkannya. Sementara, jarum jam terus berdetak dan waktu semakin cepat berlalu. Dia harus berpikir cepat mencari solusinya. “Tenang, relaks. Pasti selalu ada solusi dalam setiap permasalahan.” Beberapa menit kemudian, dahi Edgar mengerut. Aha! Edgar dapat ide. Dia mengambil topi hitam, lalu buru-buru mengenakan sweater hoodie hitam dan sepatu kets hitam. Setelah siap, dia berlari meninggalkan kamar kontrakannya dan bergegas pergi ke kantor. Masih ada waktu. Kira-kira sekitar setengah jam lagi. Edgar kembali ke perusahaan dengan cara menyelinap masuk ke sana. Ketika para petugas keamanan sedang lengah. Dengan mudahnya dia masuk tanpa sedikit pun yang mencurigainya. Bahaya kalau sampai mereka membiarkannya, pikir Edgar. Dia jadi menyadari satu hal. Perketat sistem keamanan perusahaan. Edgar berbaur dengan staf pegawainya di kantor. Saat sedang naik lift bersama-sama. Dia tak sengaja mendengar pembicaraan para pegawainya di dalam lift. "CEO kita wujudnya seperti apa sih? Apa dia sangat tampan sampai harus menyembunyikan wajah dan identitasnya segala? Misterius banget," bisik seorang pegawai wanita. "Misterius seperti pangeran-pangeran dalam cerita dongeng. Dia akan muncul setelah ada seorang putri yang menarik perhatiannya," gurau pegawai wanita satunya lagi. Edgar tersenyum dibalik masker yang menutupi sebagian wajahnya. Para pegawainya sedang sibuk menerka-nerka sosok CEO perusahaan yang tidak pernah memperlihatkan wajahnya di depan staf kantor. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat wajah asli sang CEO. “Aku ingin sekali bertemu dengan CEO kita. Saat berhadap-hadapan nanti, sepertinya aku akan pingsan. Berasa sedang menjadi fangirlnya nggak sih?” “Astaga! Berlebihan sekali mereka ini,” ujar Edgar dalam hati. Fangirl apaan? TING! Pintu lift terbuka. Kedua pegawai Wanita itu segera keluar meninggalkan lift. Sementara, Edgar masih harus naik lagi tiga lantai. Dia melirik jam digital yang terpasang rapi di lengan kirinya. TING! Edgar tiba di depan ruang kerjanya. Dia langsung membuka pintu dengan menekan passwordnya. Empat kombinasi angka. Setelah pintu terkuak, dia langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Rasanya nyaman sekali bisa duduk di kursi yang empuk itu. “Si kembar bagaimana nih?” Edgar terlonjak kaget dan segera mengingat anak kembar asuhannya. Edgar berjalan menuju meja kerjanya. Dia langsung menghubungi petugas keamanan via telepon. Dia juga memerintahkan para petugas tersebut untuk berkumpul di halaman depan gedung perkantorannya. Semua orang mematuhi perintahnya. Kemudian, dia menugaskan pada Siera untuk segera pulang ke rumahnya. Mendengar nama Siera dipulangkan, sontak saja membuat semua orang mengalihkan pandangan ke arahnya. Apa Siera sudah berbuat kesalahan? Pikir Ibu dua anak itu. “Ini tidak adil. Kenapa hanya aku saja yang dipulangkan?” Siera merasa heran. “Berarti dia ada di ruangannya,” terkanya. Siera berjalan cepat menuju ruang kerja sang CEO. Bermodalkan tekad dan keberanian yang kuat, dia akan menghadap Edgar sekarang, di ruangannya. Untuk mencari penjelasan atas deskriminasi dan ketidakadilan yang didapatnya di perusahaan. Siera juga takut sekali jika CEO itu telah memecatnya. Padahal, selama bekerja Siera selalu mematuhi perintah semua atasannya di perusahaan tersebut. Dia tidak berani membantahnya. Dia harus tahu letak kesalahannya berada di sebelah mana. Tok-tok-tok! Suara seseorang mengetuk pintu ruangannya. Edgar mengawasinya dalam sebuah layar datar pada kamera CCTV-nya. “GAWAT! ITU SIERA!” Edgar segera bersembunyi. Ketika Edgar hendak merahasiakan keberadaannya, Siera keburu masuk ke dalam ruangannya. Tak ada pilihan lain, Edgar pun duduk di balik kursi kebesarannya. Dia membelakangi Siera yang berjalan mendekatinya. “Mau apa wanita ini ada di ruanganku?” pikir Edgar. “Tuan CEO!” panggil Siera dengan lantang. Astaga! Bahkan nada suaranya meninggi saat memanggil Edgar. “Jelaskan pada saya, Tuan! Apa alasan Anda menyuruh saya pulang ke rumah? Apa Anda baru saja memecat saya?” Siera terisak. Bicaranya berubah santun dan kedengarannya dia sedang menahan sedih. “Maaf, Tuan CEO! Saya tidak tahu apa kesalahan saya kepada Anda. Kenapa Anda tega memecat saya, Tuan? Apa Anda tidak tahu jika saya sedang bekerja mencari nafkah untuk kedua anak saya di rumah,” papar Siera. Dia menceritakan keluh kesahnya pada atasan tertingginya. Itu sih, Edgar sudah tahu. Tidak usah dijelaskan lagi. Lalu, kenapa Siera begitu sensitif dan menyangka jika Edgar telah memecatnya? Dia salah paham kalau begitu. Padahal tujuannya baik. Dia menyuruh Siera cepat pulang untuk menjemput kedua anaknya di sekolah. “Pulanglah! Jemput anak-anakmu di sekolah!” perintah Edgar. Suaranya diubah menjadi agak-agak lembut, lemah gemulai. “Oh, begitu rupanya. Maaf, Tuan CEO saya telah salah sangka kepada Anda,” kata Siera sambil menampilkan senyum agak memaksakan. Untung saja, Edgar tidak melihatnya secara langsung di depan Siera. “Cepat pergi! Bermainlah dengan anak-anakmu sehari ini. Aku akan memberikan dispensasi untukmu,” kata Edgar berbaik hati. “Benarkah? Terima kasih, Tuan CEO atas perhatian Anda pada anak-anak saya,” ucap Siera sembari berterima kasih. Edgar mengangguk-angguk. “Maaf, Tuan CEO? Anda baik-baik saja? Kenapa suara Anda seperti itu?” Siera berubah jadi mengkhawatirkannya. Edgar mengacungkan tangan. Dia bilang tidak apa-apa. Siera tidak perlu tahu kenapa pita suaranya terdengar sangat aneh begitu. Dan kedengarannya seperti seorang pria jadi-jadian. Sudahlah! Jangan membahas soal hal itu. Dia hanya ingin mengatakan bahwa Siera boleh pulang dan menjemput kedua anaknya di sekolah. Alasannya, itu karena Edgar tidak bisa menjemput mereka sekarang. “Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan CEO. Anda sangat baik dan penuh perhatian pada pegawai rendahan seperti saya ini,” Siera merendah di depan Edgar. “Ya-ya-ya! Sudahlah! Pergilah dahulu. Anak-anakmu sudah lama menunggumu, bukan?” “Kok Tuan CEO tahu tentang jam pulang sekolah anak-anak saya?” Siera jadi curiga. Ya ampun! Edgar menepuk jidatnya agak keras. “Tentu saja aku tahu. Jam segini sudah waktunya jam pulang sekolah anak TK,” sangkal Edgar semampunya. “Ah, iya. Anda benar sekali, Tuan CEO.” Siera manggut-manggut, sepakat. “Kalau begitu, saya permisi undur diri dulu, Tuan,” pamit Siera. Ketika Siera keluar dari ruang kerja Edgar, tiba-tiba saja muncul seorang pria tua di depan pintu mengejutkannya. “Maaf-maaf, Tuan,” sesal Siera. Tanggapan pria tua itu, yang tak lain adalah ayah kandung Edgar begitu dingin kepada Siera. “Ada apa petugas keamanan keluar masuk ruangan putraku?” Tuan Frans curiga. ***              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN