Tuan Frans masuk ke ruang kerja Edgar. “Siapa petugas keamanan itu? Apa kamu yang memanggilnya?” tanyanya.
Mendengar suara Tuan Frans tiba di ruangannya membuat Edgar terlonjak kaget. Dia langsung memutar kursi dan beranjak dari tempat duduknya untuk menyapa sang ayah.
“Itu… tadi…” Edgar tidak bisa menjelaskannya di depan Tuan Frans. Karena itu sifatnya rahasia. Masalah pribadi antara dirinya dengan Siera.
“Ada apa denganmu? Kenapa bicaramu jadi gagap begitu Freddy?” tegur Tuan Frans.
“Aku?” Edgar menunjuk dirinya sendiri. “Ah, tidak. Biasa saja, Ayah,” jawabnya seadanya. Dia berusaha menutup-nutupi keadaannya. Meski dirinya saat ini sedang diliputi rasa gelisah. Takut ketahuan sang ayah.
Tuan Frans memerhatikan gelagat Edgar yang tidak biasanya. Pria tua itu memerhatikan penampilan Edgar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian, pria itu berdecak.
“Penampilanmu lusuh sekali, Freddy,” kata Tuan Frans mengomentarinya.
“Ya, namanya juga masih dalam penyamaran,” sahut Edgar enteng. “Aku kan tidak bisa membeli pakaian bagus dan mahal seperti biasanya. Semua uangku kan sudah diblokir Ayah,” sindirnya. Dia berusaha ngeles di depan Tuan Frans.
“Anak bodoh!” umpat Tuan Frans. “Lalu, sekarang bagaimana caramu bertahan hidup? Apa kamu menumpang hidup pada orang lain?” tanyanya penuh selidik.
“Tidak, Ayah! Aku bekerja serabutan seperti yang Ayah sarankan,” sangkal Edgar. Aish! Ngomong apa dia barusan. Asal bicara saja.
Tuan Frans dan Edgar berbincang-bincang, panjang lebar mengenai perusahaannya. Sampai akhirnya Mike datang menengahi pembicaraan keduanya.
“Maaf, saya datang terlambat Tuan Frans,” ucap Mike seraya menyesali keterlambatannya. Tadi, dia harus menyelesaikan beberapa masalah intern di kantor karena Edgar tidak bisa menanganinya secara langsung. Jadi, dia datang agak terlambat.
“Bagaimana mengenai kasus Freddy? Apa akhirnya kejaksaan akan menutup kasusnya?” tanya Tuan Frans.
“Sepertinya kasus Tuan Muda akan segera berakhir, Tuan. Karena dari pihak korban tidak ada yang akan menuntutnya. Bisa dipastikan Tuan Freddy akan segera dibebaskan,” Mike melaporkan.
“Apa?” Edgar terkejut mendengarnya. “Benarkah itu?” Senyum mengembang di bibir Edgar. Hingga lesut pipitnya nampak di sebelah pipi kirinya.
“Bagus. Itu lebih baik dan lebih cepat dari perkiraanku,” kata Tuan Frans yang puas mendengar hasil laporan Mike.
Mendengar kasus tabrak lari yang melibatkan Edgar akan segera ditutup, membuatnya jadi tak sabaran lagi ingin segera kembali menikmati identitas aslinya. Dia sudah bosan bersembunyi terus menerus. Dia ingin segera bebas. Menikmati semua kekayaannya dan mendapatkan kembali kebebasannya yang hobi balapan liar di jalanan.
“Jadi, kira-kira kapan aku bisa kembali pada kehidupanku, Ayah?” tanya Edgar begitu antusias.
“Secepatnya. Paling lama satu bulan setelah kasusnya ditutup,” jawab tuan Frans.
Tuan Frans menjelaskan beberapa syarat yang harus dipenuhi Edgar sekembalinya nanti ke perusahaan. Yakni, Edgar dilarang berkendara di malam hari apalagi kebut-kebutan di jalan raya. Setiap hari Edgar harus didampingi supir pribadi. Semua pergerakannya akan diawasi dan dia diberi pengawalan yang sangat ketat. Itu aturan yang harus dipatuhi oleh Edgar.
“Astaga! Itu sih bukan kebebasan namanya. Tapi penjara,” gumam Edgar pelan.
“Apa kamu bilang? Jadi, kamu ingin tetap bersembunyi di luar dan bekerja serabutan. Begitu?” cela Tuan Frans.
“Bukan begitu maksudku, Ayah. Aku hanya tidak menyangka saja. Batinku akan kembali terpenjara dengan cara seperti itu,” keluh Edgar.
“Sudah untung kamu tidak masuk penjara beneran,” balas Tuan Frans. Edgar tersenyum kecut mendengarnya.
Tuan Frans menyuruh Edgar untuk bersiap-siap kembali ke perusahaan. Dalam waktu dekat, Edgar harus siap memimpin lagi di perusahaannya. Tuan Frans juga menasihati Edgar agar tidak lagi berulah dan berbuat macam-macam yang merugikan banyak pihak.
Sebaliknya, Edgar dituntut harus lebih dewasa dan bijaksana lagi dalam bertindak. Karena semua orang akan mengawasi dan memerhatikan semua pergerakannya. Termasuk polisi yang sudah membebaskan Edgar dari segala tuduhan. Karena dia dibebaskan bersyarat.
Di saat Tuan Frans sedang memberikan banyak nasihatnya untuk Edgar, pria jangkung itu malah memikirkan hal lain dalam benaknya. Bagaimana si kembar? Apa mereka sudah pulang ke rumah sekarang?
Edgar melirik jam tangan digitalnya. Seharusnya sih mereka sudah pulang dari tadi. Apa Siera menjemput anak-anaknya tepat waktu? Edgar jadi sangat mencemaskan keadaan anak-anak asuhannya. Tanpa disadarinya, Tuan Frans memerhatikannya sejak tadi. Dan beliau menegurnya kembali.
“FREDDY! KAMU TIDAK MENDENGAR PERKATAAN AYAH?” hardik Tuan Frans. Dia mulai gusar karena putra sulungnya tidak begitu menghiraukan perkataan ayahnya. Ups! Ketahuan dia sedang memikirkan hal lain.
“BOSS FREDDY!” Mike menyikutnya. Barulah saat itu Edgar tersadar dari lamunan panjangnya.
“Ah, iya Ayah!” Edgar terkejut melihat Tuan Frans sudah memelototinya.
“Ayah, maaf aku harus segera pergi sekarang,” pamit Edgar pada Tuan Frans.
“Ya, pergilah! Dari tadi kamu memang tidak mendengarkan perkataan Ayah. Percuma saja jika isi kepalamu saat ini sedang membayangkan hal lain,” cibir Tuan Frans.
Edgar tersenyum kecut mendengar cibiran ayahnya. Karena sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan Tuan Frans pada pembicaraannya kali ini, maka Edgar akan undur diri. Pamit meninggalkan perusahaan dan kembali ke rumah kontrakannya.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Edgar yang ditemani Mike di dalam mobil terlihat diam saja tak berkutik. Tuan Frans benar, Mike merasakan hal yang sama setelah melihat Edgar yang sedang termenung seperti banyak pikiran saat ini.
“Bos!” sapa Mike. “Kalau boleh tahu, Anda sedang memikirkan apa?” tanyanya.
“Aku sedang memikirkan si kembar,” sahut Edgar.
“Memangnya ada apa dengan kedua bocah itu? Apa mereka berulah lagi dan bikin Bos kesal?” tebak Mike.
Mike asal menjawabnya sambil terkekeh. Agak heran juga. Karena tumben saja, Tuan Muda yang cuek bebek tidak peduli pada masalah orang lain mendadak begitu perhatian pada Audrey dan Austin. Apa itu pengecualian?
“Sudah jangan banyak tanya lagi, Mike. Aku lagi mikir ini. Jangan membuyarkan konsentrasiku!” tegur Edgar.
“Oke, baiklah! Oh iya, Bos! Apa Tuan Frans akan tahu jika Anda meminjam sejumlah uang yang sangat banyak pada Dokter Adam?” Mike mengingatkan. Ah, iya. Edgar hampir saja melupakan tentang hal itu.
“Jangan sampai ayahku tahu, Mike! Aku akan segera melunasinya setelah mendapatkan kembali semua uang-uangku. Usahakan saja Adam tidak sembarangan bicara ketika sedang bersama ayahku. Mengerti?” Edgar memperingatkan.
“Baik, Bos!” Mike paham. Dia berencana akan pergi menemui Adam di Rumah Sakit dan bernegosiasi lagi dengannya tentang peminjaman uang tersebut.
Sebenarnya ada hal lain yang tengah dipikirkan Edgar saat ini. Setelah dia kembali ke perusahaan nanti, itu artinya tidak ada lagi yang akan menjaga putra-putrinya Siera di rumah. Edgar serba salah.
Memecat Siera juga bukan solusi terbaik. Mengingat Siera adalah tulang punggung keluarganya saat ini, menafkahi Audrey dan Austin. Lantas, Edgar harus bagaimana? Sedari tadi dia terus memikirkan hal itu.
“Itu Siera dan anak-anak,” Edgar melihatnya. “Jalan terus Mike! Sampai mentok, ya!” perintahnya.
“Memangnya kenapa, Bos?” Mike merasa heran.
“Pokoknya turunkan aku di ujung jalan sana saja!” Edgar menunjuk sembari mengarahkan Mike yang sedang menyetir.
Edgar menyembunyikan dirinya ketika mobil Mike melewati Siera dan kedua anak kembarnya yang sedang berjalan kaki menuju rumah. Mike masih belum mengerti karena dia terus melajukan mobilnya. Padahal, rumah kontrakan Edgar sudah terlewati beberapa meter barusan.
“Bos!” panggil Mike. “Anda mau turun di mana?” tanyanya lagi untuk memastikan.
“Stop di sana saja!” perintah Edgar. “Eh, jangan di sana! Kejauhan nanti aku jalan kakinya. Di sini saja kalau begitu,” titahnya lagi. Membuat Mike bingung dan nyaris emosi.
“Sebenarnya Anda ini kenapa sih, Bos? Memangnya Anda takut bertemu dengan siapa?” tanya Mike.
***